Showing posts with label #30harimenulis+. Show all posts
Showing posts with label #30harimenulis+. Show all posts

Monday, October 11, 2010

merayakan #30harimenulis dengan tatto

P1000589

dimulai dengan dirimu dan diakhiri dengan dirimu. thanks, e.e.

and toxic as being part of the process.

Monday, October 04, 2010

Proses Kreatif #30harimenulis
@astridreza

:sebuah catatan dan pengakuan


Saya menulis karena saya tidak bahagia. Saya menulis karena menulis adalah jalan melawan ketidakbahagiaan - Mario Vargas Llosa


Virus itu mewabah, menyerang saya dan saya tidak mati. Atau sebaliknya saya mati berkali-kali. Sekarang saya terserang adiksi, untuk terus maju atau bahkan melompat. Meraih benar obsesi saya yang utama: menulis dan menerbitkan sebuah novel. Pada akhirnya saya harus setuju apa yang dikatakan Marquez. Seseorang baru dapat menuliskan sesuatu yang besar ketika mereka mengalami hal-hal besar. Saya tidak tahu sebesar apa sebenarnya hal-hal yang telah saya jalani dalam hidup saya. Namun saya bisa mengatakan bahwa saya sudah melewati beberapa kiamat kecil pribadi.

Ide kiamat itulah yang pertama kali muncul. Lalu obsesi saya pada ingatan dan sejarah personal. Pada kematian dan kesedihan. Sisi-sisi depresif dan kecenderungan bunuh diri. Saya melepaskan diri saya dalam tulisan-tulisan saya. Kesakitan-kesakitan saya. Saya melepaskan banyak beban-beban emosi yang selama ini telah tertanam atau tergurat dalam diri saya. Saya tahu, saya membutuhkan #30harimenulis dan saya harus melewatinya sampai selesai.

Katakanlah pada awalnya ide fiksi untuk #30harimenulis adalah sesuatu yang amat personal bagi saya. Namun kemudian arus penulisan itu berkembang, karakter-karakter di dalamnya mulai bicara. Dan hampir setiap nyaris subuh, saya mulai memiliki jam biologis untuk bangun dan mulai mengetikkan kata-kata mereka. Sampai hari ini saya masih memiliki kebiasaan ini karena bagi seorang orangtua tunggal dengan anak berumur dua tahun, jam-jam ini adalah jam terjernih dan terhening bagi saya. Saya belajar menulis dengan efektif dan tidak terganggu. Latihan dan disiplin yoga yang saya lakukan tiga bulan terakhir tiba-tiba menyatu dengan rutinitas menulis saya. Bagi saya rutinitas baru ini luar biasa karena pada awalnya saya tidak begitu yakin saya akan memilikinya.

Di akhir #30harimenulis saya menemukan diri saya yang baru. Tidak hanya sekedar tulisan. Tidak sekedar fiksi. Project ini tiba-tiba menjadi begitu riil dan menjadi bagian dari diri saya. Begitu banyak peristiwa tiba-tiba terlewati tapi sekaligus terekam, perasaan mengetahui ini adalah menyenangkan. Dan ketika #30harimenulis saya yang pertama berakhir, saya juga merasa sedih, saya tiba-tiba ingin memulainya lagi, setiap hari.

Fragmen yang dihasilkan dari #30harimenulis akan saya teruskan, entah secara pribadi atau via blog ini. Satu kebetulan yang menarik lagi, ini adalah posting saya yang ke seribu satu. Umur blog ini hampir sepuluh tahun dan signifikansi angka seribu pada hari terakhir #30harimenulis membuat saya terkesima. Saya ingin melihat seberapa jauh saya bisa membawa diri saya menulis dan saya pikir momen ini adalah sekarang, ketika semesta sedang menjatuhkan sekian hal dalam hidup saya untuk saya jalani. Terimakasih pada kawan-kawan seperjuangan yang baik berhasil atau gagal, merelakan diri mereka diwabahi dan ditularkan semangat yang sama. Pada akhirnya hidup adalah proses, nikmatilah:)

Thank you to @maradilla for letting me involve with this project.
#30harimenulis

Day 30: Wina, 21 Desember 2012

Kenneth


Aku berdiri di tengah jalan. Dimana aku bisa melihat jendela apartemenmu dulu. Gedung itu masih ada di sana. Bahkan jendela itu seolah-olah tak berubah. Membekukan ingatanku kembali ke tahun 1978. Ruangan yang menjadi saksi kita pertama kali bercinta dan menghabiskan waktu bersama, setahun lamanya. Terasa baru saja kemarin. Terasa selamanya.

Jalan ini yang kita selalu lalui jika kita sudah terlalu lapar dan memutuskan untuk turun ke bawah. Kafe favoritmu tetap berdiri, mereka mempertahankan tempat itu dengan gaya lama dan aku baru saja menghabiskan secangkir kopi di tempat itu. Di pojokan favoritmu, Vivian. Dimana senyum dan gairah hidupmu membekas. Aku membayangkan melalui perjalanan waktu dan kembali ke surga kecil kita itu. Bagaimana dengan surgamu Vivian?

Apakah aku akan menyusulmu malam ini?

Aku memutuskan perjalanan ini, ketika aku mengetahui bahwa malam ini dunia akan kiamat. Aku melihat langit yang tak menentu. Dadaku berdebar mengetahui ketidakpastian itu. Satu yang pasti, ketika aku akan mati, aku ingin berada di kota ini. Aku ingin menghirup ingatan kebahagiaan dan segala tentangmu sebelum aku melebur dengan semesta raya.

Udara tiba-tiba menusuk. Selamat tinggal, Vivian.


Auf wiedersehen...

Sunday, October 03, 2010

#30harimenulis

Day 29: Wina, 21 Desember 2012

Raka


Raka menatap langit dari jendela apartemennya. Langit kehilangan bentuknya. Berubah-ubah tak karuan. Ia tak punya televisi. Hanya berita-berita bermunculan di internet yang tidak ia klik. Ia jenuh. Dengan kematian. Dengan kiamat. Ia membiarkan segalanya datang, seperti bagaimana ia senang membiarkan hujan datang membasuh tubuhnya. Basah. Menangisi seluruh keberadaannya.

Rasa sedih selalu datang tiba-tiba dan malam ini akan dihabiskannya sendirian. Seluruh ingatan akan hidupnya selama ini berkelebat. Ia membayangkan konstelasi tata surya yang sejajar, jika ia dapat melihatnya di langit malam ini. Membayangkan dirinya sebagai satu atom terkecil dalam tata surya yang didominasi kegelapan dan keheningan. Ia membayangkan terjadinya dunia dalam satu dentuman besar. Satu nafas besar yang merubah segalanya. Menjadikan segalanya.

Ia teringat perempuan itu. Yang berkata akan mengandung anaknya namun tak mungkin. Selalu ada momen yang menjadikan nafas mereka tertahan bersamaan. Selalu ada yang sedih tercekat di udara. Namun pada akhirnya selalu ada nafas lega. Udara dan bahagia sepekat momen terakhir kali ia melihatnya. Tanpa sadar ia berkata ketika matanya melihat ke arah jendela. Selamat tinggal, Tara.

Saturday, October 02, 2010

#30harimenulis

Day 28: Wina, 21 Desember 2012

Tara


Langit akan berubah malam ini. Satu konstelasi tata surya akan berjajar dalam sekian jam. Tara bermalas-malasan di kamar hotel, berbaring dan mengganti channel televisi dengan enggan. Ia tidak pernah suka dengan televisi. Asa sedang menggambar di meja dekat sofa.

Televisi segalanya berisi tentang kiamat. Ia tak lagi percaya berita. Ia hanya merasakan apa yang diciumnya di udara pagi tadi. Ketika ia sedang mencari secangkir kopi dan segelas susu hangat untuk anaknya. Koran-koran walaupun ia tak mengerti bahasa Jerman berbicara demikian, ia bahkan enggan membuka berita di internet. Segalanya sama. Pertaruhan akan kiamat dunia.

Dia tak peduli dimana ia akan mati. Ia mungkin hanya akan memeluk anaknya dan mereka lebur bersama dengan kehancuran dunia ini. Jika segala sesuatu memang akan terjadi. Tirai kamar hotel dibiarkannya terbuka. Tara menatap langit. Mengucapkan selamat tinggal. Dua patah kata, untuk seseorang di kota yang sama.

Friday, October 01, 2010

#30harimenulis

Day 27: Nairobi, 28 September 2010

Kenneth


Email balasan dari Tara sampai di inboxnya. Panjang sekali. Ia sambil tak kuasa mengutipnya. Tak kuasa membacanya. Tak kuasa mengingat. Tak kuasa membalas apa-apa.

Mungkin terimakasih akan menjadi sesederhana sebuah ungkapan. Perasaan menyayat yang menderanya, yang jika muncul akan diingatnya sepanjang waktu. Sampai pada hari ia mati.

Ia merasa aneh membaca email Tara. Bagaimana putri Vivian memaafkan dan mengerti semua perasaannya pada Vivian, bahkan ketika ia belum bercerita apa-apa. Sejenak ia merasa putri Vivian jugalah putrinya. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh. Kesadaran yang membuat dirinya menghela nafas sejenak.

Kelegaan pada dirinya meruap. Ia tiba-tiba ingin berada di jalan-jalan kota Wina, hanya untuk mengingat dan mungkin tersenyum.

Thursday, September 30, 2010

#30harimenulis

Day 26: Wina, 20 Desember 2012

Raka


Katrina, istrinya belum lagi pulang. Hari-hari lewat dengan rasa sepi yang menyengat. Ia seperti melewati krisis itu lagi. Rasa kehilangan diri. Rasa kehilangan pegangan. Ia tak lagi paham pemicunya. Apakah karena santernya berita-berita bahwa esok kemungkinan mengalami kiamat. Kiamat kecilnya adalah ketika ia tak lagi paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tak peduli akan kiamat. Satu hal yang dimengertinya bahwa kematian akan selalu pasti.

Ia selalu merasa pada akhirnya ia dapat bersahabat dengan bayangan malaikat kematian yang menemaninya selalu. Bahkan terkadang ia merasa dapat berbicara dengan malaikat kematian melalui gambar-gambar yang diabadikannya. Rasa mengenai kematian selalu mengundang keheningan yang diam. Maka dari itu ia mengabadikan foto-foto kuburan dari berbagai tempat. Batu-batu nisan yang diam dan abu-abu.

Ketika vonis yang menyatakan dirinya positif datang, kematian entah mengapa terasa sedang menyentuh keningnya. Namun ia tak lagi cemas, tak lagi sedih. Hanya mengingat perempuan itu. Yang akan memberinya seorang anak. Yang menginginkan anaknya. Cuma keajaiban dalam semesta yang akan membiarkan segalanya terjadi.

Wednesday, September 29, 2010

#30harimenulis

Day 25: Yogyakarta, 27 September 2010

Tara


Email balasan itu masuk. Kenneth Maruti di inboxnya. Segala hal yang kau ingat tentang Kenneth Maruti dan ibumu mengingatkanmu akan sesuatu. Bahwa segalanya dalam dunia ini mulai abu-abu. Mulai tak kelu. Segalanya mulai berjalan melampaui benar atau salah. Baik atau buruk. Sosok abu-abu yang kau kenang. Raka. Fotografer favoritmu dengan spesialisasi membuat warna abu-abu diam dalam foto-fotonya.

Kau tak pernah bertemu dengan dirinya lagi. Lagi-lagi kau mengingat Kenneth Maruti dan ibumu, dan puluhan tahun yang mereka lalui. Bersama pada satu ingatan. Memori. Sejarah. Rasa kemelakatan abadi dalam perasaan individu-individu.

Kau membalas email itu sambil melepaskan ibumu, melepaskan ayahmu dan bahkan dirimu. Kau begitu lega setelahnya. Rasa maaf dan terimakasih membumbung dari dadamu. Kau berterimakasih dari hatimu yang terdalam kepada Kenneth Maruti. Agar dia tidak lagi bersedih. Ia harus tahu bahwa membuat ibunya bahagia di suatu waktu adalah bentuk-bentuk keabadian yang tak tergantikan. Ingatan berharga yang tak tergantikan.

Kata-kata kadang dapat menyelamatkan seseorang seumur hidupnya. Kata-kata sesederhana: maaf dan terimakasih pada kehidupan.

Tuesday, September 28, 2010

#30harimenulis

Day 24: Nairobi, 26 September 2010

Kenneth


Sudah berhari-hari Kenneth memikirkannya. Memikirkan kapan untuk membalas tombol reply di layar Blackberry-nya. Ia memikirkannya namun enggan mengingatnya. Ia merasa lucu bagaimana sebuah tombol dapat menentukan segala ingatan akan dirinya, akan Vivian dan akan kenangan mereka bersama.

Ia mengingat perjalanan hidupnya. Mengingat kota-kota yang pernah hidup dalam kenangannya. Tak ada yang sepekat kota Wina. Kenneth menghela nafasnya. Panjang sekali. Bahkan sekotak coklat Belgia yang selalu ada di laci meja kerjanya mengkhianatinya. Ia selalu menginginkannya. Dark chocolate dengan filling mint berwarna putih. Bertahun-tahun coklat itu wajib berada di tempatnya, kadang bukan untuk dimakan. Namun untuk dikenang.

Bahkan putrimu menemukanku, Vivian. Aku tak mengerti. Tak mengerti mengapa ia menemukanku. Apakah kau ingin ia menemukanku? Aku sulit berbicara sambil mengenangmu.


Matanya basah. Lagi-lagi. Seperti sekian puluh tahun yang lalu di Flughafen Wien di pagi yang paling dingin dalam hidupnya.
#30harimenulis

Day 23: Bogor, 14 Desember 2006

Tara dan Tio


"Kau tak perlu mengirimkannya, yah. Kita bahkan tidak tahu apakah orang ini masih hidup atau tidak."

Tio memberengut. Baginya kesedihan itu memuncak serupa dendam. Tara mengalah, mengetahui bahwa ia tidak bisa mengubah keputusan ayahnya. Bahwa kematian dan rasa cinta bisa menjadi sebuah rasa cemburu yang buta tak perlu.

Surat yang dibuatnya penuh kebencian itu sudah di dalam amplop. Untuk laki-laki yang lebih hitam dari dirinya, yang pernah merengut istrinya, ingatan istrinya di suatu waktu di masa lalu. Mereka telah menorehkan sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang lebih menyengat ketimbang sebuah rasa kehilangan istrinya yang begitu dicintainya. Ia sadar bahwa setiap manusia bukanlah orang suci. Juga bukan dirinya. Tapi bentuk dendam itu tak juga hilang. Ia harus berbuat sesuatu untuk luka pada hatinya yang semakin mendalam.

Tio menyimpan surat itu ke dalam laci. Tara menatapnya. Mengingatkan bahwa semua hal ini akan sia-sia belaka. Sebagai seorang anak, Tara mungkin bisa memaafkan ibunya namun dirinya sebagai seorang suami, sulit baginya untuk memaafkan kesalahan istrinya.

Dadanya terasa bengkak. Rasa sakit menjalar dari organ hatinya. Ia kesal. Begitu kesal, sedih dan kecewa. Seketika Tio memuntahkan darah di tempatnya berdiri. Darah memenuhi meja kerjanya. Tara panik. Berteriak memanggil Kama.
#30harimenulis

Day 22: Wina, 15 Desember 2012

Raka


Laki-laki itu terbangun dan tak mengerti mengapa matanya basah. Ia tahu ia tak sekedar merindukan istrinya, Katrina, yang diantarnya ke Flughafen Wien pada hari kemarin. Sesuatu telah menyentuhnya ketika salju pertama jatuh dari langit dan menimpa tanah. Sesuatu yang menggoncangkan pertahanan dirinya untuk mengingat sebuah rasa yang timbul dari dalam dada. Sebuah rasa yang menebal pada pagi berikutnya sehingga membuat matanya basah, bantalnya basah dan dadanya sesak tak karuan. Ia melap air matanya. Kedua anjingnya menyambutnya, menjilat sisa air mata yang masih lembab di pipinya. Dua ekor Siberian Husky, keduanya jantan. Yang satu bermata biru dan yang satu bermata abu-abu.

Kedua ekor anjing kesayangannya mengingatkan dirinya akan sesuatu. Ia terduduk di ranjangnya. Enggan bangun dan melingkarkan selimut ke badannya. Sakya, anjingnya yang bermata abu-abu menarik-narik selimutnya dengan giginya. Sedangkan Sinkh, melingkarkan kepalanya ke tangannya, minta dielus-elus. Anjing-anjing yang manja pikirnya. Ia begitu menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.

Katrina pernah bingung dengan cara ia menamai kedua anjing itu. Nama yang aneh dan eksotis katanya. Kadang terasa terlalu jauh dan asing. Ia tengah mengingat sesuatu yang jauh dan asing. Sebuah ingatan yang pernah dibaginya dengan seseorang. Ia tak pernah sepenuhnya mengerti mengapa ia menamai kedua anjingnya dengan nama-nama itu. Mungkin ia memang tengah mengingat seseorang itu, ingin mematri ingatan itu pada sesuatu.

Ia bangkit dari duduknya, sedikit malas-malasan. Membuka kulkas dan menuangkan susu untuk kedua anjingya. Menuangkan untuknya di panci untuk dijerangnya. Ia butuh segelas coklat hangat untuk menyelamatkan pagi itu.

Sunday, September 26, 2010

#30harimenulis

Day 21: Wina, 15 Desember 2012

Tara


Setelah konferensi hari ini berakhir dan Asa, anakku sudah kembali ceria, kami berjalan kaki, keluar dari hotel dan menyusuri kota Wina. Mencari tempat untuk makan malam. Aku selalu membawa anakku kemana pun aku pergi. Sebuah pegangan pada kehidupan untuk senantiasa berjalan.

Aku tak tahu mengapa wajah anakku selalu mengingatkanku pada dirimu. Aku merasa menjadi perempuan dalam mitos-mitos. Karena kau hanya datang dalam mimpi-mimpiku selama kehamilan anakku. Hanya dalam mimpiku kita bisa bersentuhan.

Aku tak mengerti banyak hal. Aku juga mengerti banyak hal. Ketika aku melihat anakku dan membawanya ke kota ini, menyadari kehadiranmu di kota ini, aku merasa cukup lega. Juga penuh. Rasa kelengkapan itu melekat. Begitu dalam akan ingatanmu, akan segalanya tentangmu.

Asa tidak pernah bertanya tentang ayah kandungnya. Tapi ia selalu bertanya akan sebuah foto yang kau ambil dan kupajang selalu di kamarnya. Aku selalu menyukai foto itu sejak pertama kali aku melihatnya. Asa selalu bertanya tentang foto itu dan aku selalu menceritakannya seperti sebuah dongeng favorit yang diulang-ulang.

Seperti aku, anakku, kami selalu merindukanmu.
#30harimenulis

Day 20: Wina, 14 Desember 2012

Kenneth


I'm still alive, Vivian.


Ya, aku masih hidup dan waktu mendaratkan aku kembali ke kota ini. Ke dalam ingatan-ingatan akan dirimu yang telah tiada. Aku masih merasa sendirian. Begitu sendirian semenjak kau lenyap dari pintu keberangkatan di Flughafen Wien. Segala cara sudah kucoba untuk mengusir rasa sepi yang menderaku.

Aku pun menikah dan punya anak. Tapi memori begitu kejam untuk tidak mengijinkan ingatan akanmu menghilang dan terhapus. Tidak pernah ada yang mengajarkanku untuk menghapus sesuatu dari kepala, selalu ada sesuatu yang membuat segalanya tidak terjadi secara sukarela.

Kau akan menghilang dariku pada momen di mana aku akan mati. Tiba di kota ini, segalanya menjadi lebih hidup. Vivid. Seolah-olah aku dapat menyentuhmu. Salju pertama jatuh dan aku melihatnya di kaca jendela bandara. Kaca yang memisahkanku dengan memori kota dimana jarak dan waktu tak ada lagi denganmu.

Aku melihatmu, duduk di kafe, meminum segelas kopi dan aku ingin menghampirimu. Jika segalanya sebegitu nyata. Aku ingin menangis. Entah karena sosokmu atau salju pertama yang jatuh ke tanah. Pecah berserakan serupa hatiku yang kehilanganmu. Selalu.

Thursday, September 23, 2010

#30harimenulis

Day 19: Buitenzorg, 27 Agustus 2006

Vivian


Mataku terpejam sudah. Gelap, Kenneth. Aku begitu mencintai kegelapanmu. Aku ingat aku begitu mencintaimu dan membiarkanmu lepas. Membiarkan dirimu melepasku dan mengurung kembali hatiku. Apakah kau masih mengingatku, schatz?

Segalanya terlewat di depan mataku. Segala potongan hidupku dan aku tak lagi kuat. Aku tahu kau masih hidup, maka beberapa hari yang lalu ketika mulutku masih kuat berbicara, aku menceritakanmu kepada Tara, putriku satu-satunya. Aku tahu aku bisa memercayainya. Dirinya yang jauh lebih kuat dariku dan selalu lebih berani, juga lebih nekat. Dia bahkan tidak menangis mengetahui aku akan pergi dari sisinya. Ia hanya marah besar ketika aku dipindahkan ke ICU dan dibiarkan sendirian disana. Aku lega ia berhasil memindahku ke kamar biasa dan berada di antara orang-orang yang kucinta.

Aku tak lagi melihat. Aku hanya merasakan setiap orang berpamitan kepadaku. Bahkan orang-orang yang bersalah dan aku mempunyai salah kepada mereka. Aku lega. Waktuku selesai sudah. Dalam kegelapan ini aku mengenangmu.

Aku mengingat hari-hari kita di Wina. Dinginnya udara. Manis dan pahitnya coklat. Sachertorte favoritku. Coklat mint Belgia favoritmu. Lalu kepulan kopi hangat di kafe-kafe pinggir jalan kota Wina.

Kematian tak lagi menakutkanku, Kenneth. Ingatan terbaikku memberikan apa yang terbaik untuk kukenang, menunggu detik-detik maut menjemputku. Segala harapanku menjadi doa terakhirku. Segala kebaikan dalam hidup ini menjadi lebih jelas. Memaafkan segala dan menerima segala. Betapa ringannya tubuh dan hidup kini.

Cahaya tiba-tiba menusuk mataku. Ayahku dan adikku menjemputku di sebuah gerbang. Cahaya, Kenneth. Aku akan pergi sekarang.

Kenneth Maruti, ich liebe dich.


Auf wiedersehen...

Wednesday, September 22, 2010

#30harimenulis

Day 18: Wina, 14 Desember 2012

Raka


Aku tengah mengantar istriku, Katrina, ke Flughafen Wien, ketika salju pertama tahun ini jatuh. Salju tepat menimpa jendela mobil. Aku tak yakin aku ingin mengantarnya pergi, walaupun kami sudah biasa sama-sama melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Entah mengapa, di bulan-bulan mendekati akhir tahun, terutama tahun ini, rasa sendu yang kukira sudah kutinggalkan tiba-tiba datang lagi melekat.

Kau tak apa-apa di Wina sendirian selama seminggu? Katrina bertanya kepadaku. Aku hanya tersenyum, menggeleng. Memastikan segalanya akan baik-baik saja.

Aku mengantarnya sampai pintu keberangkatan, melambaikan tangan dan tersenyum sekali lagi. Kunaikkan kerah jaketku, sempat berpikir untuk menunggu salju yang turun di kafe bandara namun aku ingin pulang sebelum hari gelap. Anjing-anjing di rumah kami pasti kelaparan jika aku pergi terlalu lama. Udara begitu beku dan langit begitu abu-abu.

Ada sesuatu yang tertahan di dadaku. Aku ingin mengeluarkan kameraku sesaat tapi tak jadi. Begitu banyak hal yang tak bisa kuputuskan sendiri hari ini. Aku tiba-tiba hanya pingin menangis melihat salju pertama jatuh dan Katrina, istriku tidak tahu.

Tuesday, September 21, 2010

#30harimenulis

Day 17: Wina, 15 Desember 2012

Tara


Aku tak melihatmu. Aku hanya melihat rekaman matamu, dimana-mana sepanjang kota Wina. Pada udara. Bahkan nuansa. Aku tak heran akan mengapa ibuku selalu mengingat kota ini. Bagaimana ia menghembuskan nafasnya dengan bebas di kota ini, walau di cuaca yang sedemikian akan selalu berubah menjadi asap-asap kecil. Namun ia hidup. Ia hidup dalam ingatan.

Rongga-rongga sepi. Udara memenuhi ruang paru-paru yang kosong. Foto-foto soliter. Keasingan. Selalu bentuk kesendirian dan perjalanan. Lalu lalang manusia yang sementara. Kesementaraan abadi. Momen. Segala bentuk getaran yang sebentar.

Aku paham kenapa kita sama-sama menemukan dan sama-sama kehilangan. Aku menemukan Asa, anakku yang tergolek di ranjang hotel, karena jetlag dan kelelahan. Kau menemukan Katrina, yang berasal dari kota ini. Sesama pasangan jiwa yang membuat diri kita sedikit ceria dalam cerita.

Tapi kota ini selalu memiliki hawa untuk membuatku sedikit terharu dan ingin menangis tersedan. Aku tak mengerti kenapa. Aku butuh segelas coklat hangat sebagai penenang. Benar-benar butuh.

Monday, September 20, 2010

#30harimenulis

Day 16: Wina, 21 Desember 1979

Kenneth


Ia tak menatapmu dan kau tersiksa. Vivian menunggu panggilan keberangkatan dengan menaruh segalanya dan dirinya dengan rapi di kursi kafe bandara itu. Ia bahkan memakai kacamata hitamnya, jaket panjang berwarna pink tua dan celana panjang hitam. Kau tahu itu semua baju favoritnya, karena jaket itu adalah hadiah darimu sedangkan sisanya dibelinya bersamamu.

Vivian menyeruput kopinya. Dirimu merasa pahit. Hanya tinggal lima belas menit dan perempuan di hadapanmu akan meninggalkanmu selama-lamanya.

God see us, Kenneth. This is wrong.

Tidak ada yang salah, Vivian. Percayalah. Tapi sangatlah tidak mungkin aku membawamu lari dan pulang ke Kenya. Aku tak memiliki apa-apa saat ini untuk kutawarkan kepadamu. Mungkin kondisi di negerimu jauh lebih baik daripada negeriku. Di negeriku jika seseorang membawa lari istri orang lain, suami perempuan itu akan membunuhnya. Suamimu akan membunuhku.

So, it is wrong?

Dadamu sesak menjawab Vivian. Lima belas menit telah berlalu. Vivian beranjak dari kursinya. Mengulurkan tangannya. Kalian kembali bersalaman. Tidak lagi berpelukan. Tidak lagi berciuman. Tidak lagi mesra. Hanya bersalaman seperti pertama kali ketika Vivian datang. Formal dan dingin. Vivian berjalan menuju pintu keberangkatan dan tak menengok ke arahnya sekalipun.

Tidak ada lagi penghangat ruangan yang akan mengusir rasa dingin di hatimu. Tidak ada lagi.

Sunday, September 19, 2010

#30harimenulis

Day 15: Yogyakarta, 29 November 2006

Raka


Jika dipikir kau tak seberapa paham mengapa perempuan di hadapanmu selalu hampir menangis ketika melihatmu lagi. Kau tak banyak bicara. Hanya mencoba memahami dengan rasa.

Ada rasa sedih dan bahagia yang tercampur aduk. Bolak-balik dalam setiap tatapan. Dirimu pun tak ingin bergerak lagi. Tak ingin apa-apa. Kau tahu, ini bukan sesuatu yang bisa diabadikan dengan kamera.

Kau menerima liontin naga perak dengan batu giok di kepala dari tangannya. Kau menatapnya. Bingung. Menerima sambil menyadari seberapa besar liontin itu begitu berharga bagi perempuan itu. Dia hanya meminta kaus hijaumu yang kau pakai ketika kau pertama kali bertemu dengannya. Dalam hati kau menyanggupinya.

Ada sebuah lagu mengalun dari speaker terdekat. India Arie. Suara desau angin di antara rumpun bambu. Sinar mentari sore jatuh di sela-sela dahan pohon. Selalu sore. Selalu senja.

Masihkah ada rasa sedih yang mewarnai segala? Setelah ini akan kemana? Kemana angin akan membawa peristiwa? Kau tak lagi bertanya. Tak lagi menjawab. Hanya diam. Hening. Bening.

Saturday, September 18, 2010

#30harimenulis

Day 14: Jakarta, 22 Juni 2006

Vivian


Bagaimana jika kau sadari bahwa nyawamu sedang berada di penghujung segala doa? Rosario putih masih kau pegang. Kau sedang menunggu Tara, putrimu satu-satunya datang. Dia baru saja menyelesaikan ujian. Kau baru saja mendengar vonis ujian hidupmu yang paling akhir.

Dokter sudah angkat tangan. Mereka sudah tak bisa menghentikan laju penyakitmu. Segalanya tinggal menunggu waktu.

Apakah kau tetap bisa tersenyum menatap Tara nanti sore, sedangkan tadi pagi kau mengalami rasa genting yang paling parah dalam hidupmu. Hingga Tio saat ini masih menangis di pojokan. Matanya masih mendelik bertanya. Mengapa?

Apakah dosa? Apakah pengakuan?

Apakah semuanya masih memiliki arti sekarang? Kau melihat kota Jakarta dari jendela kamar rumah sakit. Kejamnya ibukota. Kau tak ingin berada di sana.

Ingatanmu melayang pada satu nama yang kau sebutkan dalam pengakuanmu kepada Tio tadi pagi. Kenneth Maruti. Yah, laki-laki hitam dengan senyum berlian yang selalu kau kenang dengan penuh rasa salah. Salah ketika kau dan dirinya memutuskan untuk berpisah. Selama-lamanya. Lalu hadir Tara dan Kama adiknya. Kau melarikan diri dari ingatan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan yang lain.

Namun di penghujung hidupmu, hanya satu yang membekas. Ingatan tentang Kenneth Maruti. Ingatan tentang Wina.

Kau ingin terbang. Jauh. Jauh sekali.

Friday, September 17, 2010

#30harimenulis

Day 13: Yogyakarta, 29 November 2006

Tara


Kau kira kau telah gila. Tapi ia benar-benar ada di sana. Hidup dengan segala atribut jiwanya. Kau tak kuasa menyentuhnya. Bahkan memeluknya. Walau ingin. Takut segalanya hilang dan semuanya hanya mimpi belaka.

Kau terdiam lagi. Hingga keheningan meruap dalam satu pitcher air minum. Bening.

Sejak mengetahui siapa dirinya, kau tak lagi makan, hanya minum air. Banyak sekali. Seolah ingin membersihkan diri.


Setiap kali menatapnya kau merasa sepasang matamu panas dan selalu, selalu ingin menangis haru. Sepanjang hidupmu, hanya laki-laki di hadapanmu inilah yang akan selalu membuatmu seperti itu.

Kau menyerap kesedihan yang dibawanya. Rasa ngungun. Nglangut yang selalu khas dan tak pernah hilang.

Dari sebuah kantong kecil berwarna merah kau serahkan sebuah liontin perak berkepala naga dengan hiasan batu giok. Warisan dari ibumu. Milikmu yang paling berharga dan paling kau suka. Kali ini kau hanya mengembalikannya ke pemiliknya yang sah.

Dia. Separuh jiwamu yang hilang. Tiga ribu tiga ratus tahun yang lalu. Di daratan. Di Utara ketinggian.

Ketika segalanya terasa benar. Terasa pada tempatnya. Momen selalu menemukan keabadian. Kau tahu dan dia tahu. Ada yang berhenti disana. Kala yang sedang enggan beranjak memutar roda kehidupan juga tak berselera memakan kalian.