Wednesday, December 15, 2010

"May all beings have happiness and the causes of happiness. May they be free of suffering and the causes of suffering. May they never be separated from that sacred joy that is beyond suffering. May they rest in equanimity free of grasping, hatred and ignorance. And may they be aware of the equality of all that lives."
~ Tibetan Pray for Peace
dari segala perjalanan
ke dalam diri
adalah yang paling menakutkan
adalah tanjakan yang tertinggi
adalah kejujuran yang tersulit

disanalah segalanya kembali
kosong
dan terisi

diam
abadi

selalu, selalu
pada hati
pada diri
nafas yang terkendali

Sunday, November 21, 2010

Lhasa, 9 Juli 2011

Tara


Di ketinggian ini aku selalu membayangkan perasaanku. Bagaimana rasanya berdiri di tebing yang sama kembali. Mengingatmu. Mengingat sekian senja yang lalu. Kukira segalanya berkilas. Melewatiku. Matamu yang beku. Abu-abu.

Raka, nerakaku adalah tak bersamamu. Nerakaku adalah tidak mengenalmu.

Di danau yang nyaris beku, kucelupkan kepalaku. Mengingat rasa sebelum kehidupan berdetak menyentuh jantungku. Apakah jiwa? Apakah masa? Apakah ingatan? Apakah ada yang sia-sia dari yang tersisa?

Surgaku adalah ketika aku melihat matamu. Momen ketika pintu surga itu terbuka lagi. Masih senja dan selalu senja. Aku tak pernah bisa menutup segala rasaku akan dirimu. Tak pernah bisa. Terlalu pekat dan dalam. Bahkan ketika kubayangkan lagi, janji kita untuk ke tempat ini lagi.

Bukan kau lagi yang berada di tebing itu. Hanya sahabatku dengan tatto teratai mungil di lengannya. Ia juga membawa kamera, tapi juga bukan milikmu. Tiada sesuatu adalah milikmu selain ingatanku.

Aku mendengar bunyi lonceng samar di kejauhan. Bendera doa berkibar warna warni. Himalaya terlihat dengan megahnya. Aku selalu melihat ke arah utara. Selalu ke tempat-tempat yang tinggi. Udara selalu menyengat ketika kuhirup. Baumu ada dimana-mana. Wajahmu membekas di setiap butir pasir yang terbawa angin lalu.

Ini keterlaluan.

Raka, aku selalu merindukanmu dan aku tidak baik-baik saja.

Selamat ulang tahun yang ketigapuluh. Selamat...


Kuteguk anggur dari botol termos.
tak ada lagi
tak ada lagi yang akan membuatku patah
bahkan di jalan itu
menuju gunung

dimana aku menangis di atas motorku
sepanjang jalan
sekian kali
setiap senja
yang tak lagi membuat diriku jatuh
tersebar
dan tak akan lagi retak

aku mengingat
kota yang diselimuti abu
terlahir baru
sebagaimana hatiku
yang selalu diledakkannya dari dalam
hingga tak rentan pecah
tak lagi bungkah

dan tak lagi patah

Tuesday, November 02, 2010

XV
Pablo Neruda


Me gustas cuando callas porque estás como ausente,
y me oyes desde lejos, y mi voz no te toca.
Parece que los ojos se te hubieran volado
y parece que un beso te cerrara la boca.

Como todas las cosas están llenas de mi alma
emerges de las cosas, llena del alma mía.
Mariposa de sueño, te pareces a mi alma,
y te pareces a la palabra melancolía.

Me gustas cuando callas y estás como distante.
Y estás como quejándote, mariposa en arrullo.
Y me oyes desde lejos, y mi voz no te alcanza:
déjame que me calle con el silencio tuyo.

Déjame que te hable también con tu silencio
claro como una lámpara, simple como un anillo.
Eres como la noche, callada y constelada.
Tu silencio es de estrella, tan lejano y sencillo.

Me gustas cuando callas porque estás como ausente.
Distante y dolorosa como si hubieras muerto.
Una palabra entonces, una sonrisa bastan.
Y estoy alegre, alegre de que no sea cierto.

Soneta XV
oleh Pablo Neruda


aku menyukai dirimu tenang, seperti dirimu tiada,
dan kau mendengarku dari jauh, dan suaraku tidak menyentuhmu.
sepertinya kelopak matamu telah terbang,
sepertinya sebuah ciuman telah mengunci mulutmu

karena semuanya ini dipenuhi oleh rohku,
kau datang dari sesuatu, dipenuhi rohku.
kau muncul sebagai jiwaku, seperti mimpi kupu-kupu
dan kau muncul sebagai kata kesedihan.

aku menyukai dirimu tenang, seperti dirimu berjarak,
kau adalah desahan, dekutan seekor kupu-kupu.
kau mendengarku dari jauh, dan suaraku tidak mencapaimu,
lalu, biarkan aku tenang, tenang karena diammu

lalu, biarkan aku dekat, dekat dengan kesunyianmu,
sejernih cahaya, semurni cincin.
kau seperti malam, tenang, terkonstelasi.
kesunyianmu seperti bintang, jauh dan nyata.

aku menyukaimu tenang, seperti kau tiada,
jauh dan sedih, seolah kau sudah mati.
satu kata ketika itu, sebuah senyum, sudah cukup.
dan aku tergetar lalu tergetar: bahwa hal itu tidak mungkin.

Diterjemahkan oleh Astrid Reza

Thursday, October 21, 2010

sekian tapa menuju matahari
:s. p.

aku melihat sosokmu yang biru
yang hijau
kulit yang kemilau

semula rasa takut menguasaiku
dan aku berlari menjauhimu
yang terus menerus mengejarku

entah mengapa di tengah-tengah aku berhenti dan mengatakan:
namaste

segalanya baik-baik saja semenjak itu
segalanya berputar dengan cepat dan aku merasa menjadi sebuah titik tengah
dalam gasing
yang selalu diam
yang selalu tegak

sosokmu yang tak pernah berasal
tak pula bernama
namun tua
bau itu tak akan pernah hilang

bau bahwa aku pernah mengenalmu di suatu masa
yang lampau
sekarang
dan mungkin selamanya ke depan

selalu ada setitik kanak yang jernih
dalam kedalaman matamu
ketenangan yang memberikan rasa penuh
sekaligus haru

apakah, guru? bila semua manusia tiadalah sempurna
namun dalam tapa
dalam yoga
jalan itu terbuka

Monday, October 18, 2010

:p.a.c.g

aku hanya ingin membuatmu bahagia
tersenyum simpul
dan mata yang berbinar seterang cahaya

Saturday, October 16, 2010

tiga hari
:laki-laki dengan sekian warna di matanya

hanya tiga hari
bunga padma
tujuh matahari
dan kebetulan-kebetulan yang terlalu banyak

sebuah tepian
mata air yang sepi
sawah yang tenang
tak lagi sedih

asap-asap rokok yang dibagi bersama
tawa
canda
bicara
dan juga rasa

sentuhan-sentuhan yang mengingatkan
bahwa kita pernah muda
pernah bercinta
pernah sakit dan kecewa

ingatan pada cinta pertama
ciuman pertama kita
di pinggir ladang jagung itu
rasa manis anggur
secangkir espresso

aku melihat hangat di matamu
sejak aku pertama kali melihatmu
kedalaman laut ketika matamu berubah menjadi biru
sekian keajaiban yang membuat hariku semakin bercahaya

kau
si pecinta sinar mentari
yang setia

Wednesday, October 13, 2010

jalan yang terbuka

:abmi handayani dan dalih sembiring

aku rindu bau perjalanan
aspal panas yang diterpa terik mentari
bau terbakar
nafas
wangi kulit dan matahari

udara yang menggila
jalan-jalan yang tercetak oleh semesta di kepala

adakah arus itu mengalir membawa kita bertiga?

aku melihat anakku berlari
dengan tawanya yang khas
matanya yang terbuka lebar

aku semakin tahu bahwa kami akan baik-baik saja
terimakasih atas kehadiran kalian berdua
sesama pasangan jiwa
dalam kehidupan yang kesekian
dan yang ke depan

dengan kalian
aku tahu aku tak akan lagi terhenti
tak akan lagi menangis tanpa arti

pelukan dan kata-kata
subuh dan rokok-rokok kretek
selalu saling menguatkan
dalam senyum
tawa dan canda
yang menggila
di teras rumah kita

aku akan selalu menyimpan kalian dalam bahagia

Monday, October 11, 2010

merayakan #30harimenulis dengan tatto

P1000589

dimulai dengan dirimu dan diakhiri dengan dirimu. thanks, e.e.

and toxic as being part of the process.

Friday, October 08, 2010

Wina, 23 Desember 2012

Tara


Aku tahu aku merindukanmu pagi ini, ketika pertama kali kelopak mataku terbuka. Aku melihat cahaya putih meremang di sekitarku. Setelah jelas, aku menemukan diriku sedang memeluk anakku yang tertidur di dadaku. Aku tahu kiamat telah lewat dan aku masih hidup di kotamu. Salju turun menutupi seluruh kota dan dinginnya melewati tembok serta jendela. Aku tak tahu kemana aku akan pulang dalam cuaca seperti ini. Aku seharusnya pulang pagi ini, tapi tubuhku terasa malas untuk beranjak dan selimut tebal telah menjadi kulit keduaku.

Aku hanya ingin pulang kepada dirimu. Pada hari aku mati.

Manusia selalu identik menempatkan ketakutan dengan kematian. Aku membutuhkan dirimu ketika menghadapi kematian, bukan karena takut, tapi karena ingin menghadapi cahaya. Rasa silau yang melingkupi diri sampai tak bergerak. Getaran abadi yang ingin kubagi.

Anakku terbangun, matanya yang bulat terbuka lebar. Ia menatapku.

"Mama, kapan kita pulang ke Yogya?"

Itu adalah kata-kata pertamanya. Ia tak peduli kiamat. Tak peduli kematian. Anak-anak sekarang selalu punya keberanian yang lebih untuk menghadapi dunia.

"Hari ini."

Pada akhirnya, aku tahu aku akan pulang ke Yogya dan meninggalkan separuh jiwaku di kota ini.

Monday, October 04, 2010

Proses Kreatif #30harimenulis
@astridreza

:sebuah catatan dan pengakuan


Saya menulis karena saya tidak bahagia. Saya menulis karena menulis adalah jalan melawan ketidakbahagiaan - Mario Vargas Llosa


Virus itu mewabah, menyerang saya dan saya tidak mati. Atau sebaliknya saya mati berkali-kali. Sekarang saya terserang adiksi, untuk terus maju atau bahkan melompat. Meraih benar obsesi saya yang utama: menulis dan menerbitkan sebuah novel. Pada akhirnya saya harus setuju apa yang dikatakan Marquez. Seseorang baru dapat menuliskan sesuatu yang besar ketika mereka mengalami hal-hal besar. Saya tidak tahu sebesar apa sebenarnya hal-hal yang telah saya jalani dalam hidup saya. Namun saya bisa mengatakan bahwa saya sudah melewati beberapa kiamat kecil pribadi.

Ide kiamat itulah yang pertama kali muncul. Lalu obsesi saya pada ingatan dan sejarah personal. Pada kematian dan kesedihan. Sisi-sisi depresif dan kecenderungan bunuh diri. Saya melepaskan diri saya dalam tulisan-tulisan saya. Kesakitan-kesakitan saya. Saya melepaskan banyak beban-beban emosi yang selama ini telah tertanam atau tergurat dalam diri saya. Saya tahu, saya membutuhkan #30harimenulis dan saya harus melewatinya sampai selesai.

Katakanlah pada awalnya ide fiksi untuk #30harimenulis adalah sesuatu yang amat personal bagi saya. Namun kemudian arus penulisan itu berkembang, karakter-karakter di dalamnya mulai bicara. Dan hampir setiap nyaris subuh, saya mulai memiliki jam biologis untuk bangun dan mulai mengetikkan kata-kata mereka. Sampai hari ini saya masih memiliki kebiasaan ini karena bagi seorang orangtua tunggal dengan anak berumur dua tahun, jam-jam ini adalah jam terjernih dan terhening bagi saya. Saya belajar menulis dengan efektif dan tidak terganggu. Latihan dan disiplin yoga yang saya lakukan tiga bulan terakhir tiba-tiba menyatu dengan rutinitas menulis saya. Bagi saya rutinitas baru ini luar biasa karena pada awalnya saya tidak begitu yakin saya akan memilikinya.

Di akhir #30harimenulis saya menemukan diri saya yang baru. Tidak hanya sekedar tulisan. Tidak sekedar fiksi. Project ini tiba-tiba menjadi begitu riil dan menjadi bagian dari diri saya. Begitu banyak peristiwa tiba-tiba terlewati tapi sekaligus terekam, perasaan mengetahui ini adalah menyenangkan. Dan ketika #30harimenulis saya yang pertama berakhir, saya juga merasa sedih, saya tiba-tiba ingin memulainya lagi, setiap hari.

Fragmen yang dihasilkan dari #30harimenulis akan saya teruskan, entah secara pribadi atau via blog ini. Satu kebetulan yang menarik lagi, ini adalah posting saya yang ke seribu satu. Umur blog ini hampir sepuluh tahun dan signifikansi angka seribu pada hari terakhir #30harimenulis membuat saya terkesima. Saya ingin melihat seberapa jauh saya bisa membawa diri saya menulis dan saya pikir momen ini adalah sekarang, ketika semesta sedang menjatuhkan sekian hal dalam hidup saya untuk saya jalani. Terimakasih pada kawan-kawan seperjuangan yang baik berhasil atau gagal, merelakan diri mereka diwabahi dan ditularkan semangat yang sama. Pada akhirnya hidup adalah proses, nikmatilah:)

Thank you to @maradilla for letting me involve with this project.
#30harimenulis

Day 30: Wina, 21 Desember 2012

Kenneth


Aku berdiri di tengah jalan. Dimana aku bisa melihat jendela apartemenmu dulu. Gedung itu masih ada di sana. Bahkan jendela itu seolah-olah tak berubah. Membekukan ingatanku kembali ke tahun 1978. Ruangan yang menjadi saksi kita pertama kali bercinta dan menghabiskan waktu bersama, setahun lamanya. Terasa baru saja kemarin. Terasa selamanya.

Jalan ini yang kita selalu lalui jika kita sudah terlalu lapar dan memutuskan untuk turun ke bawah. Kafe favoritmu tetap berdiri, mereka mempertahankan tempat itu dengan gaya lama dan aku baru saja menghabiskan secangkir kopi di tempat itu. Di pojokan favoritmu, Vivian. Dimana senyum dan gairah hidupmu membekas. Aku membayangkan melalui perjalanan waktu dan kembali ke surga kecil kita itu. Bagaimana dengan surgamu Vivian?

Apakah aku akan menyusulmu malam ini?

Aku memutuskan perjalanan ini, ketika aku mengetahui bahwa malam ini dunia akan kiamat. Aku melihat langit yang tak menentu. Dadaku berdebar mengetahui ketidakpastian itu. Satu yang pasti, ketika aku akan mati, aku ingin berada di kota ini. Aku ingin menghirup ingatan kebahagiaan dan segala tentangmu sebelum aku melebur dengan semesta raya.

Udara tiba-tiba menusuk. Selamat tinggal, Vivian.


Auf wiedersehen...

Sunday, October 03, 2010

#30harimenulis

Day 29: Wina, 21 Desember 2012

Raka


Raka menatap langit dari jendela apartemennya. Langit kehilangan bentuknya. Berubah-ubah tak karuan. Ia tak punya televisi. Hanya berita-berita bermunculan di internet yang tidak ia klik. Ia jenuh. Dengan kematian. Dengan kiamat. Ia membiarkan segalanya datang, seperti bagaimana ia senang membiarkan hujan datang membasuh tubuhnya. Basah. Menangisi seluruh keberadaannya.

Rasa sedih selalu datang tiba-tiba dan malam ini akan dihabiskannya sendirian. Seluruh ingatan akan hidupnya selama ini berkelebat. Ia membayangkan konstelasi tata surya yang sejajar, jika ia dapat melihatnya di langit malam ini. Membayangkan dirinya sebagai satu atom terkecil dalam tata surya yang didominasi kegelapan dan keheningan. Ia membayangkan terjadinya dunia dalam satu dentuman besar. Satu nafas besar yang merubah segalanya. Menjadikan segalanya.

Ia teringat perempuan itu. Yang berkata akan mengandung anaknya namun tak mungkin. Selalu ada momen yang menjadikan nafas mereka tertahan bersamaan. Selalu ada yang sedih tercekat di udara. Namun pada akhirnya selalu ada nafas lega. Udara dan bahagia sepekat momen terakhir kali ia melihatnya. Tanpa sadar ia berkata ketika matanya melihat ke arah jendela. Selamat tinggal, Tara.

Saturday, October 02, 2010

#30harimenulis

Day 28: Wina, 21 Desember 2012

Tara


Langit akan berubah malam ini. Satu konstelasi tata surya akan berjajar dalam sekian jam. Tara bermalas-malasan di kamar hotel, berbaring dan mengganti channel televisi dengan enggan. Ia tidak pernah suka dengan televisi. Asa sedang menggambar di meja dekat sofa.

Televisi segalanya berisi tentang kiamat. Ia tak lagi percaya berita. Ia hanya merasakan apa yang diciumnya di udara pagi tadi. Ketika ia sedang mencari secangkir kopi dan segelas susu hangat untuk anaknya. Koran-koran walaupun ia tak mengerti bahasa Jerman berbicara demikian, ia bahkan enggan membuka berita di internet. Segalanya sama. Pertaruhan akan kiamat dunia.

Dia tak peduli dimana ia akan mati. Ia mungkin hanya akan memeluk anaknya dan mereka lebur bersama dengan kehancuran dunia ini. Jika segala sesuatu memang akan terjadi. Tirai kamar hotel dibiarkannya terbuka. Tara menatap langit. Mengucapkan selamat tinggal. Dua patah kata, untuk seseorang di kota yang sama.

Friday, October 01, 2010

#30harimenulis

Day 27: Nairobi, 28 September 2010

Kenneth


Email balasan dari Tara sampai di inboxnya. Panjang sekali. Ia sambil tak kuasa mengutipnya. Tak kuasa membacanya. Tak kuasa mengingat. Tak kuasa membalas apa-apa.

Mungkin terimakasih akan menjadi sesederhana sebuah ungkapan. Perasaan menyayat yang menderanya, yang jika muncul akan diingatnya sepanjang waktu. Sampai pada hari ia mati.

Ia merasa aneh membaca email Tara. Bagaimana putri Vivian memaafkan dan mengerti semua perasaannya pada Vivian, bahkan ketika ia belum bercerita apa-apa. Sejenak ia merasa putri Vivian jugalah putrinya. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh. Kesadaran yang membuat dirinya menghela nafas sejenak.

Kelegaan pada dirinya meruap. Ia tiba-tiba ingin berada di jalan-jalan kota Wina, hanya untuk mengingat dan mungkin tersenyum.

Thursday, September 30, 2010

#30harimenulis

Day 26: Wina, 20 Desember 2012

Raka


Katrina, istrinya belum lagi pulang. Hari-hari lewat dengan rasa sepi yang menyengat. Ia seperti melewati krisis itu lagi. Rasa kehilangan diri. Rasa kehilangan pegangan. Ia tak lagi paham pemicunya. Apakah karena santernya berita-berita bahwa esok kemungkinan mengalami kiamat. Kiamat kecilnya adalah ketika ia tak lagi paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tak peduli akan kiamat. Satu hal yang dimengertinya bahwa kematian akan selalu pasti.

Ia selalu merasa pada akhirnya ia dapat bersahabat dengan bayangan malaikat kematian yang menemaninya selalu. Bahkan terkadang ia merasa dapat berbicara dengan malaikat kematian melalui gambar-gambar yang diabadikannya. Rasa mengenai kematian selalu mengundang keheningan yang diam. Maka dari itu ia mengabadikan foto-foto kuburan dari berbagai tempat. Batu-batu nisan yang diam dan abu-abu.

Ketika vonis yang menyatakan dirinya positif datang, kematian entah mengapa terasa sedang menyentuh keningnya. Namun ia tak lagi cemas, tak lagi sedih. Hanya mengingat perempuan itu. Yang akan memberinya seorang anak. Yang menginginkan anaknya. Cuma keajaiban dalam semesta yang akan membiarkan segalanya terjadi.

Wednesday, September 29, 2010

#30harimenulis

Day 25: Yogyakarta, 27 September 2010

Tara


Email balasan itu masuk. Kenneth Maruti di inboxnya. Segala hal yang kau ingat tentang Kenneth Maruti dan ibumu mengingatkanmu akan sesuatu. Bahwa segalanya dalam dunia ini mulai abu-abu. Mulai tak kelu. Segalanya mulai berjalan melampaui benar atau salah. Baik atau buruk. Sosok abu-abu yang kau kenang. Raka. Fotografer favoritmu dengan spesialisasi membuat warna abu-abu diam dalam foto-fotonya.

Kau tak pernah bertemu dengan dirinya lagi. Lagi-lagi kau mengingat Kenneth Maruti dan ibumu, dan puluhan tahun yang mereka lalui. Bersama pada satu ingatan. Memori. Sejarah. Rasa kemelakatan abadi dalam perasaan individu-individu.

Kau membalas email itu sambil melepaskan ibumu, melepaskan ayahmu dan bahkan dirimu. Kau begitu lega setelahnya. Rasa maaf dan terimakasih membumbung dari dadamu. Kau berterimakasih dari hatimu yang terdalam kepada Kenneth Maruti. Agar dia tidak lagi bersedih. Ia harus tahu bahwa membuat ibunya bahagia di suatu waktu adalah bentuk-bentuk keabadian yang tak tergantikan. Ingatan berharga yang tak tergantikan.

Kata-kata kadang dapat menyelamatkan seseorang seumur hidupnya. Kata-kata sesederhana: maaf dan terimakasih pada kehidupan.

Tuesday, September 28, 2010

#30harimenulis

Day 24: Nairobi, 26 September 2010

Kenneth


Sudah berhari-hari Kenneth memikirkannya. Memikirkan kapan untuk membalas tombol reply di layar Blackberry-nya. Ia memikirkannya namun enggan mengingatnya. Ia merasa lucu bagaimana sebuah tombol dapat menentukan segala ingatan akan dirinya, akan Vivian dan akan kenangan mereka bersama.

Ia mengingat perjalanan hidupnya. Mengingat kota-kota yang pernah hidup dalam kenangannya. Tak ada yang sepekat kota Wina. Kenneth menghela nafasnya. Panjang sekali. Bahkan sekotak coklat Belgia yang selalu ada di laci meja kerjanya mengkhianatinya. Ia selalu menginginkannya. Dark chocolate dengan filling mint berwarna putih. Bertahun-tahun coklat itu wajib berada di tempatnya, kadang bukan untuk dimakan. Namun untuk dikenang.

Bahkan putrimu menemukanku, Vivian. Aku tak mengerti. Tak mengerti mengapa ia menemukanku. Apakah kau ingin ia menemukanku? Aku sulit berbicara sambil mengenangmu.


Matanya basah. Lagi-lagi. Seperti sekian puluh tahun yang lalu di Flughafen Wien di pagi yang paling dingin dalam hidupnya.
#30harimenulis

Day 23: Bogor, 14 Desember 2006

Tara dan Tio


"Kau tak perlu mengirimkannya, yah. Kita bahkan tidak tahu apakah orang ini masih hidup atau tidak."

Tio memberengut. Baginya kesedihan itu memuncak serupa dendam. Tara mengalah, mengetahui bahwa ia tidak bisa mengubah keputusan ayahnya. Bahwa kematian dan rasa cinta bisa menjadi sebuah rasa cemburu yang buta tak perlu.

Surat yang dibuatnya penuh kebencian itu sudah di dalam amplop. Untuk laki-laki yang lebih hitam dari dirinya, yang pernah merengut istrinya, ingatan istrinya di suatu waktu di masa lalu. Mereka telah menorehkan sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang lebih menyengat ketimbang sebuah rasa kehilangan istrinya yang begitu dicintainya. Ia sadar bahwa setiap manusia bukanlah orang suci. Juga bukan dirinya. Tapi bentuk dendam itu tak juga hilang. Ia harus berbuat sesuatu untuk luka pada hatinya yang semakin mendalam.

Tio menyimpan surat itu ke dalam laci. Tara menatapnya. Mengingatkan bahwa semua hal ini akan sia-sia belaka. Sebagai seorang anak, Tara mungkin bisa memaafkan ibunya namun dirinya sebagai seorang suami, sulit baginya untuk memaafkan kesalahan istrinya.

Dadanya terasa bengkak. Rasa sakit menjalar dari organ hatinya. Ia kesal. Begitu kesal, sedih dan kecewa. Seketika Tio memuntahkan darah di tempatnya berdiri. Darah memenuhi meja kerjanya. Tara panik. Berteriak memanggil Kama.
#30harimenulis

Day 22: Wina, 15 Desember 2012

Raka


Laki-laki itu terbangun dan tak mengerti mengapa matanya basah. Ia tahu ia tak sekedar merindukan istrinya, Katrina, yang diantarnya ke Flughafen Wien pada hari kemarin. Sesuatu telah menyentuhnya ketika salju pertama jatuh dari langit dan menimpa tanah. Sesuatu yang menggoncangkan pertahanan dirinya untuk mengingat sebuah rasa yang timbul dari dalam dada. Sebuah rasa yang menebal pada pagi berikutnya sehingga membuat matanya basah, bantalnya basah dan dadanya sesak tak karuan. Ia melap air matanya. Kedua anjingnya menyambutnya, menjilat sisa air mata yang masih lembab di pipinya. Dua ekor Siberian Husky, keduanya jantan. Yang satu bermata biru dan yang satu bermata abu-abu.

Kedua ekor anjing kesayangannya mengingatkan dirinya akan sesuatu. Ia terduduk di ranjangnya. Enggan bangun dan melingkarkan selimut ke badannya. Sakya, anjingnya yang bermata abu-abu menarik-narik selimutnya dengan giginya. Sedangkan Sinkh, melingkarkan kepalanya ke tangannya, minta dielus-elus. Anjing-anjing yang manja pikirnya. Ia begitu menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.

Katrina pernah bingung dengan cara ia menamai kedua anjing itu. Nama yang aneh dan eksotis katanya. Kadang terasa terlalu jauh dan asing. Ia tengah mengingat sesuatu yang jauh dan asing. Sebuah ingatan yang pernah dibaginya dengan seseorang. Ia tak pernah sepenuhnya mengerti mengapa ia menamai kedua anjingnya dengan nama-nama itu. Mungkin ia memang tengah mengingat seseorang itu, ingin mematri ingatan itu pada sesuatu.

Ia bangkit dari duduknya, sedikit malas-malasan. Membuka kulkas dan menuangkan susu untuk kedua anjingya. Menuangkan untuknya di panci untuk dijerangnya. Ia butuh segelas coklat hangat untuk menyelamatkan pagi itu.

Sunday, September 26, 2010

#30harimenulis

Day 21: Wina, 15 Desember 2012

Tara


Setelah konferensi hari ini berakhir dan Asa, anakku sudah kembali ceria, kami berjalan kaki, keluar dari hotel dan menyusuri kota Wina. Mencari tempat untuk makan malam. Aku selalu membawa anakku kemana pun aku pergi. Sebuah pegangan pada kehidupan untuk senantiasa berjalan.

Aku tak tahu mengapa wajah anakku selalu mengingatkanku pada dirimu. Aku merasa menjadi perempuan dalam mitos-mitos. Karena kau hanya datang dalam mimpi-mimpiku selama kehamilan anakku. Hanya dalam mimpiku kita bisa bersentuhan.

Aku tak mengerti banyak hal. Aku juga mengerti banyak hal. Ketika aku melihat anakku dan membawanya ke kota ini, menyadari kehadiranmu di kota ini, aku merasa cukup lega. Juga penuh. Rasa kelengkapan itu melekat. Begitu dalam akan ingatanmu, akan segalanya tentangmu.

Asa tidak pernah bertanya tentang ayah kandungnya. Tapi ia selalu bertanya akan sebuah foto yang kau ambil dan kupajang selalu di kamarnya. Aku selalu menyukai foto itu sejak pertama kali aku melihatnya. Asa selalu bertanya tentang foto itu dan aku selalu menceritakannya seperti sebuah dongeng favorit yang diulang-ulang.

Seperti aku, anakku, kami selalu merindukanmu.
#30harimenulis

Day 20: Wina, 14 Desember 2012

Kenneth


I'm still alive, Vivian.


Ya, aku masih hidup dan waktu mendaratkan aku kembali ke kota ini. Ke dalam ingatan-ingatan akan dirimu yang telah tiada. Aku masih merasa sendirian. Begitu sendirian semenjak kau lenyap dari pintu keberangkatan di Flughafen Wien. Segala cara sudah kucoba untuk mengusir rasa sepi yang menderaku.

Aku pun menikah dan punya anak. Tapi memori begitu kejam untuk tidak mengijinkan ingatan akanmu menghilang dan terhapus. Tidak pernah ada yang mengajarkanku untuk menghapus sesuatu dari kepala, selalu ada sesuatu yang membuat segalanya tidak terjadi secara sukarela.

Kau akan menghilang dariku pada momen di mana aku akan mati. Tiba di kota ini, segalanya menjadi lebih hidup. Vivid. Seolah-olah aku dapat menyentuhmu. Salju pertama jatuh dan aku melihatnya di kaca jendela bandara. Kaca yang memisahkanku dengan memori kota dimana jarak dan waktu tak ada lagi denganmu.

Aku melihatmu, duduk di kafe, meminum segelas kopi dan aku ingin menghampirimu. Jika segalanya sebegitu nyata. Aku ingin menangis. Entah karena sosokmu atau salju pertama yang jatuh ke tanah. Pecah berserakan serupa hatiku yang kehilanganmu. Selalu.

Thursday, September 23, 2010

#30harimenulis

Day 19: Buitenzorg, 27 Agustus 2006

Vivian


Mataku terpejam sudah. Gelap, Kenneth. Aku begitu mencintai kegelapanmu. Aku ingat aku begitu mencintaimu dan membiarkanmu lepas. Membiarkan dirimu melepasku dan mengurung kembali hatiku. Apakah kau masih mengingatku, schatz?

Segalanya terlewat di depan mataku. Segala potongan hidupku dan aku tak lagi kuat. Aku tahu kau masih hidup, maka beberapa hari yang lalu ketika mulutku masih kuat berbicara, aku menceritakanmu kepada Tara, putriku satu-satunya. Aku tahu aku bisa memercayainya. Dirinya yang jauh lebih kuat dariku dan selalu lebih berani, juga lebih nekat. Dia bahkan tidak menangis mengetahui aku akan pergi dari sisinya. Ia hanya marah besar ketika aku dipindahkan ke ICU dan dibiarkan sendirian disana. Aku lega ia berhasil memindahku ke kamar biasa dan berada di antara orang-orang yang kucinta.

Aku tak lagi melihat. Aku hanya merasakan setiap orang berpamitan kepadaku. Bahkan orang-orang yang bersalah dan aku mempunyai salah kepada mereka. Aku lega. Waktuku selesai sudah. Dalam kegelapan ini aku mengenangmu.

Aku mengingat hari-hari kita di Wina. Dinginnya udara. Manis dan pahitnya coklat. Sachertorte favoritku. Coklat mint Belgia favoritmu. Lalu kepulan kopi hangat di kafe-kafe pinggir jalan kota Wina.

Kematian tak lagi menakutkanku, Kenneth. Ingatan terbaikku memberikan apa yang terbaik untuk kukenang, menunggu detik-detik maut menjemputku. Segala harapanku menjadi doa terakhirku. Segala kebaikan dalam hidup ini menjadi lebih jelas. Memaafkan segala dan menerima segala. Betapa ringannya tubuh dan hidup kini.

Cahaya tiba-tiba menusuk mataku. Ayahku dan adikku menjemputku di sebuah gerbang. Cahaya, Kenneth. Aku akan pergi sekarang.

Kenneth Maruti, ich liebe dich.


Auf wiedersehen...
Tubuh Apel, Wanita yang terisi, bulan yang terbakar,
bau gelap rumput laut, terhimpit akan lumpur dan cahaya,
rahasia pengetahuan apakah yang terdekap di antara tiangmu?
Malam purba apakah ketika lelaki menyentuh indranya?
Ay, Cinta adalah perjalanan melalui air dan bintang-bintang,
melalui udara yang sesak, prahara tajam atau butiran:
Cinta adalah sebuah petir peperangan,
dan dua tubuh dirusak oleh satu kemanisan.
Ciuman demi ciuman aku meliputi ketidakterhinggaan kecilmu,
batasanmu, sungaimu, desa kecilmu,
dan api bibirmu, berubah karena kenikmatan,
melewati saluran darah yang sempit
untuk mengendap sebuah anyelir nokturnal,
untuk menjadi dan tidak menjadi sebuah cahaya dalam gelap

-Pablo Neruda

Wednesday, September 22, 2010

#30harimenulis

Day 18: Wina, 14 Desember 2012

Raka


Aku tengah mengantar istriku, Katrina, ke Flughafen Wien, ketika salju pertama tahun ini jatuh. Salju tepat menimpa jendela mobil. Aku tak yakin aku ingin mengantarnya pergi, walaupun kami sudah biasa sama-sama melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Entah mengapa, di bulan-bulan mendekati akhir tahun, terutama tahun ini, rasa sendu yang kukira sudah kutinggalkan tiba-tiba datang lagi melekat.

Kau tak apa-apa di Wina sendirian selama seminggu? Katrina bertanya kepadaku. Aku hanya tersenyum, menggeleng. Memastikan segalanya akan baik-baik saja.

Aku mengantarnya sampai pintu keberangkatan, melambaikan tangan dan tersenyum sekali lagi. Kunaikkan kerah jaketku, sempat berpikir untuk menunggu salju yang turun di kafe bandara namun aku ingin pulang sebelum hari gelap. Anjing-anjing di rumah kami pasti kelaparan jika aku pergi terlalu lama. Udara begitu beku dan langit begitu abu-abu.

Ada sesuatu yang tertahan di dadaku. Aku ingin mengeluarkan kameraku sesaat tapi tak jadi. Begitu banyak hal yang tak bisa kuputuskan sendiri hari ini. Aku tiba-tiba hanya pingin menangis melihat salju pertama jatuh dan Katrina, istriku tidak tahu.

Tuesday, September 21, 2010

#30harimenulis

Day 17: Wina, 15 Desember 2012

Tara


Aku tak melihatmu. Aku hanya melihat rekaman matamu, dimana-mana sepanjang kota Wina. Pada udara. Bahkan nuansa. Aku tak heran akan mengapa ibuku selalu mengingat kota ini. Bagaimana ia menghembuskan nafasnya dengan bebas di kota ini, walau di cuaca yang sedemikian akan selalu berubah menjadi asap-asap kecil. Namun ia hidup. Ia hidup dalam ingatan.

Rongga-rongga sepi. Udara memenuhi ruang paru-paru yang kosong. Foto-foto soliter. Keasingan. Selalu bentuk kesendirian dan perjalanan. Lalu lalang manusia yang sementara. Kesementaraan abadi. Momen. Segala bentuk getaran yang sebentar.

Aku paham kenapa kita sama-sama menemukan dan sama-sama kehilangan. Aku menemukan Asa, anakku yang tergolek di ranjang hotel, karena jetlag dan kelelahan. Kau menemukan Katrina, yang berasal dari kota ini. Sesama pasangan jiwa yang membuat diri kita sedikit ceria dalam cerita.

Tapi kota ini selalu memiliki hawa untuk membuatku sedikit terharu dan ingin menangis tersedan. Aku tak mengerti kenapa. Aku butuh segelas coklat hangat sebagai penenang. Benar-benar butuh.

Monday, September 20, 2010

#30harimenulis

Day 16: Wina, 21 Desember 1979

Kenneth


Ia tak menatapmu dan kau tersiksa. Vivian menunggu panggilan keberangkatan dengan menaruh segalanya dan dirinya dengan rapi di kursi kafe bandara itu. Ia bahkan memakai kacamata hitamnya, jaket panjang berwarna pink tua dan celana panjang hitam. Kau tahu itu semua baju favoritnya, karena jaket itu adalah hadiah darimu sedangkan sisanya dibelinya bersamamu.

Vivian menyeruput kopinya. Dirimu merasa pahit. Hanya tinggal lima belas menit dan perempuan di hadapanmu akan meninggalkanmu selama-lamanya.

God see us, Kenneth. This is wrong.

Tidak ada yang salah, Vivian. Percayalah. Tapi sangatlah tidak mungkin aku membawamu lari dan pulang ke Kenya. Aku tak memiliki apa-apa saat ini untuk kutawarkan kepadamu. Mungkin kondisi di negerimu jauh lebih baik daripada negeriku. Di negeriku jika seseorang membawa lari istri orang lain, suami perempuan itu akan membunuhnya. Suamimu akan membunuhku.

So, it is wrong?

Dadamu sesak menjawab Vivian. Lima belas menit telah berlalu. Vivian beranjak dari kursinya. Mengulurkan tangannya. Kalian kembali bersalaman. Tidak lagi berpelukan. Tidak lagi berciuman. Tidak lagi mesra. Hanya bersalaman seperti pertama kali ketika Vivian datang. Formal dan dingin. Vivian berjalan menuju pintu keberangkatan dan tak menengok ke arahnya sekalipun.

Tidak ada lagi penghangat ruangan yang akan mengusir rasa dingin di hatimu. Tidak ada lagi.

Sunday, September 19, 2010

#30harimenulis

Day 15: Yogyakarta, 29 November 2006

Raka


Jika dipikir kau tak seberapa paham mengapa perempuan di hadapanmu selalu hampir menangis ketika melihatmu lagi. Kau tak banyak bicara. Hanya mencoba memahami dengan rasa.

Ada rasa sedih dan bahagia yang tercampur aduk. Bolak-balik dalam setiap tatapan. Dirimu pun tak ingin bergerak lagi. Tak ingin apa-apa. Kau tahu, ini bukan sesuatu yang bisa diabadikan dengan kamera.

Kau menerima liontin naga perak dengan batu giok di kepala dari tangannya. Kau menatapnya. Bingung. Menerima sambil menyadari seberapa besar liontin itu begitu berharga bagi perempuan itu. Dia hanya meminta kaus hijaumu yang kau pakai ketika kau pertama kali bertemu dengannya. Dalam hati kau menyanggupinya.

Ada sebuah lagu mengalun dari speaker terdekat. India Arie. Suara desau angin di antara rumpun bambu. Sinar mentari sore jatuh di sela-sela dahan pohon. Selalu sore. Selalu senja.

Masihkah ada rasa sedih yang mewarnai segala? Setelah ini akan kemana? Kemana angin akan membawa peristiwa? Kau tak lagi bertanya. Tak lagi menjawab. Hanya diam. Hening. Bening.

Saturday, September 18, 2010

#30harimenulis

Day 14: Jakarta, 22 Juni 2006

Vivian


Bagaimana jika kau sadari bahwa nyawamu sedang berada di penghujung segala doa? Rosario putih masih kau pegang. Kau sedang menunggu Tara, putrimu satu-satunya datang. Dia baru saja menyelesaikan ujian. Kau baru saja mendengar vonis ujian hidupmu yang paling akhir.

Dokter sudah angkat tangan. Mereka sudah tak bisa menghentikan laju penyakitmu. Segalanya tinggal menunggu waktu.

Apakah kau tetap bisa tersenyum menatap Tara nanti sore, sedangkan tadi pagi kau mengalami rasa genting yang paling parah dalam hidupmu. Hingga Tio saat ini masih menangis di pojokan. Matanya masih mendelik bertanya. Mengapa?

Apakah dosa? Apakah pengakuan?

Apakah semuanya masih memiliki arti sekarang? Kau melihat kota Jakarta dari jendela kamar rumah sakit. Kejamnya ibukota. Kau tak ingin berada di sana.

Ingatanmu melayang pada satu nama yang kau sebutkan dalam pengakuanmu kepada Tio tadi pagi. Kenneth Maruti. Yah, laki-laki hitam dengan senyum berlian yang selalu kau kenang dengan penuh rasa salah. Salah ketika kau dan dirinya memutuskan untuk berpisah. Selama-lamanya. Lalu hadir Tara dan Kama adiknya. Kau melarikan diri dari ingatan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan yang lain.

Namun di penghujung hidupmu, hanya satu yang membekas. Ingatan tentang Kenneth Maruti. Ingatan tentang Wina.

Kau ingin terbang. Jauh. Jauh sekali.

Friday, September 17, 2010

#30harimenulis

Day 13: Yogyakarta, 29 November 2006

Tara


Kau kira kau telah gila. Tapi ia benar-benar ada di sana. Hidup dengan segala atribut jiwanya. Kau tak kuasa menyentuhnya. Bahkan memeluknya. Walau ingin. Takut segalanya hilang dan semuanya hanya mimpi belaka.

Kau terdiam lagi. Hingga keheningan meruap dalam satu pitcher air minum. Bening.

Sejak mengetahui siapa dirinya, kau tak lagi makan, hanya minum air. Banyak sekali. Seolah ingin membersihkan diri.


Setiap kali menatapnya kau merasa sepasang matamu panas dan selalu, selalu ingin menangis haru. Sepanjang hidupmu, hanya laki-laki di hadapanmu inilah yang akan selalu membuatmu seperti itu.

Kau menyerap kesedihan yang dibawanya. Rasa ngungun. Nglangut yang selalu khas dan tak pernah hilang.

Dari sebuah kantong kecil berwarna merah kau serahkan sebuah liontin perak berkepala naga dengan hiasan batu giok. Warisan dari ibumu. Milikmu yang paling berharga dan paling kau suka. Kali ini kau hanya mengembalikannya ke pemiliknya yang sah.

Dia. Separuh jiwamu yang hilang. Tiga ribu tiga ratus tahun yang lalu. Di daratan. Di Utara ketinggian.

Ketika segalanya terasa benar. Terasa pada tempatnya. Momen selalu menemukan keabadian. Kau tahu dan dia tahu. Ada yang berhenti disana. Kala yang sedang enggan beranjak memutar roda kehidupan juga tak berselera memakan kalian.

Thursday, September 16, 2010

#30harimenulis

Day 12: Nairobi, 17 September 2010

Kenneth


Sebuah email masuk dalam inboxnya. Kenneth Maruti menatap barisan kata-kata yang terpapar di layar komputernya. Lama. Berulang kali. Seolah-olah ingin memastikan bahwa matanya tak rabun oleh umur. Tak rabun oleh waktu yang menipu.

Vivian.

Nama itu lagi. Nama yang membekas pada memorinya.

Vivian. Wina. Tara.


Tara. Putri Vivian mengontak emailnya. Vivian sudah meninggalkan dunia ini empat tahun yang lalu. Matanya berkaca-kaca. Ia melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang menggenang di pelupuknya. Sudah berapa tahunkah itu? Kenangan. Rasa hati yang remuk redam. Semakin teriris dengan kepergian Vivian untuk selama-lamanya.

Ia mencoba mengingat hari ketika di Flughafen Wien, ketika ia melepasnya. Ketika ia bertemu dan melepasnya. Dia seharusnya tidak pernah melepasnya.

Vivian, der Schatz.


Jika saja ia bisa memutar kembali waktu. Jika saja ia punya sedikit keberanian yang lebih. Jika saja...

Rasa sakit di dadanya memuncak. Semua kenangan itu kembali seperti air bah. Kenneth tak siap. Tak pernah siap dengan kepergian Vivian. Apalagi ini yang kedua baginya. Terlalu menyakitkan. Ia mencoba menguatkan diri agar jantungnya tidak berhenti dan dirinya menyusul Vivian. Walau ia ingin. Sungguh. Ia ingin.

Wednesday, September 15, 2010

#30harimenulis

Day 11: Wina, 15 Febuari 1979

Vivian


Pagi tenggelam dalam pelukan dan jalinan. Matanya terbuka ketika mata laki-laki yang segelap malam itu kembali pulas. Dadanya masih berdegup kencang. Sulit memelan setelah sekian sensasi dirasakannya sejak malam tadi.

Vivian ingat jelas segalanya. Manisnya semua. Ia terheran dengan dirinya yang sama sekali tak merasa ada yang salah. Serba sempurna. Ia tak menyangka. Kenneth telah membuka ruang dalam dirinya lebar-lebar. Kesadaran tubuhnya hampir menyentuh langit kota Wina. Serupa coklat hitam Belgia favoritnya sepanjang waktu: lumer, menghitam di lidah, kombinasi manis dan pahit di tenggorokan. Dirinya seperti filling putih rasa mint yang dia sadari adalah coklat favorit laki-laki itu. Dingin. Putih seperti salju. Ia ingat keduanya dapat berlama-lama di toko coklat Belgia tak jauh dari tempatnya. Kemewahan yang jarang mereka dapatkan di negaranya masing-masing.

Vivian merasa lucu. Eropa tak pernah melahirkan coklat. Orang-orang Maya dan Aztec di Amerika Latinlah yang meminumnya pertama kali. Raja Charles VI membawa coklat ke Wina ketika memindahkan istananya dari Madrid pada tahun 1711. Tahun 1832, Franz Sacher menciptakan Sachertorte.

Akhir penghujung 1978, ia memakan Sachertorte pertama kalinya di sebuah kafe Wina, bersama Kenneth Maruti. Cake coklat khas Wina itu selalu menemani segelas kopinya bersama segelas air putih. Selalu. Sebagaimana Kenneth Maruti selalu menemaninya kemana-mana. Menjaganya. Membuatnya hangat sepanjang musim dingin.

Vivian tak sabar dengan datangnya musim semi dan petualangannya bersama Kenneth. Juga sepotong Sachertorte untuk merayakan pagi itu.

Tuesday, September 14, 2010

#30harimenulis

Day 10: Yogyakarta, 27 November 2006

Raka


Ia seorang laki-laki yang irit kata. Bicara hanya dengan mata. Juga kamera. Hidup untuk merekam dan terbang seperti angin. Kadang datang dan kadang hilang. Singkatnya hidup. Abadinya memori.

Keindahan baginya terletak pada rasa-rasa soliter yang tak lagi menyiksa namun tenang. Rasa diam yang nikmat. Rasa tegak dengan bumi.

Ketika suara perempuan itu nyaris pecah di ujung telpon. Ia hanya menjawab dengan pendek. Ingatan yang panjang. Pertemuan yang singkat. Hanya makna bicara. Seperti bagaimana kekosongan selalu bicara pada foto-foto yang diambilnya.

Ia yang juga mengingat dengan rajah. Sebagaimana perempuan itu mengingat kematian ibunya dengan rajah. Ia merajah kedua orangtuanya di dada. Membawa segalanya kemanapun ia pergi. Rasa kemiripan itu. Rasa nomaden yang abadi. Memaknai hidup dalam perjalanan. Hidup adalah jalan itu sendiri. Kematian adalah titik transit ke pemaknaan yang lain.

Belantara. Gurun Pasir. Padang Rumput. Tebing. Sungai. Pantai.

Juga gunung-gunung. Tinggi. Tinggi sekali. Salju abadi. Kebekuan sekaligus ketenangan yang dicari semua mahkluk. Untuk tidak lahir kembali.

Apakah ini hidupnya yang terakhir? Apakah akan sebegitu pendek? Atau sebegitu lama? Dia tak begitu peduli. Ia memaknainya dengan mata. Untuk lebih bahagia.

Monday, September 13, 2010

#30harimenulis

Day 9: Yogyakarta, 27 November 2006

Tara


Perasaanku seremang warung kopi ini. Airmataku menggenang mendengarkan kisahmu yang sedang didedahkan dua orang sahabatku. Lengkap sudah semesta menyiksaku.

Tiga ribu tiga ratus tahun.
Begitu lamanya waktu.
Begitu pekatnya ingatan dan rasaku padamu.

Demi Tuhan, tombol-tombol hp di tanganku hanya kuarahkan padamu, demi mendengar suaramu malam ini. Memastikan kau masih disana dan aku tidak bermimpi di kehidupanku yang kesekian. Memastikan rongga cahaya dalam ingatanku memberikan aku kesempatan untuk kembali kesana.

Lima belas kehidupan. Aku mencarimu. Mencari teka-teki yang selalu hilang dalam senja itu. Tebing. Dua laki-laki dan riapan angin yang selalu sendu. Matamu yang tengah merekam segala. Terlalu abadi. Terlalu panjang dan dalam. Melampaui segala bentuk cinta, hubungan dan persahabatan.

Aku selalu ingat hangatnya mentari di senja itu. Di senja sore itu ketika aku menemukanmu kembali di depan studio tatto itu.

Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu. Selalu tentang dirimu. Perjalanan rohku dan aku yang kehilanganmu. Selalu kehilanganmu. Dalam segala tapaku, segala karmaku. Aku akan selalu membayarnya padamu.

Tiga denyut nada panggil. Dirimu menjawab, ya.

Raka, aku ingat
Sungguh ingat
Kau adalah karmaku
Tiga ribu tiga ratus tahun
Aku menunggu untuk bertemu dirimu kembali.
Kau sudah kembali.


Dirimu lagi-lagi menjawab pelan, ya.

Apapun yang terjadi kemudian, aku tahu, aku akan selalu menangis terharu mengingatmu. Menemukanmu dan tidak lagi kehilangan diriku seperti yang sudah-sudah di masa lalu. Di lima belas kehidupan yang lalu.

Genap sudah mantra itu. Rajah itu.

Por-la.
Lingkaran kehidupan.
Dan samsara. Lingkaran penderitaan.

Aku ingin menutupnya dan moksa.
Sudah cukup dengan segala hadirmu.

Om Mane Padme Hum

Sunday, September 12, 2010

#30harimenulis

Day 8: Wina, 15 Febuari 1979

Kenneth


Semuanya terjadi begitu cepat. Pintu yang tak jadi ditutup. Genggaman pada jari-jari mungil perempuan kecil yang membuatnya sulit tidur selama tiga bulan terakhir. Nafas-nafas. Panas. Bau anggur manis membekas pada bibir. Malam berkelebat tak terlupakan pada tubuh putih Vivian bak porselin Cina. Seakan rapuh dan mudah pecah. Tubuhnya serupa kegelapan melingkupi terangnya bulan malam itu.

Malam yang sempurna. Benua-benua jauh menyatu. Saling melengkapi dan bersatu.

Pagi jatuh. Tak ada yang salah. Tak ada juga yang kalah.

Kenneth Maruti. Dua puluh tujuh. Vivian Tanjung. Tiga puluh. Apalah artinya angka? Apalah artinya perbedaan?

Vivian, aku bersyukur karena menemukanmu. Bisiknya ketika pagi belum lagi tinggi dan mata perempuan Cina itu belum lagi terbuka.

Kenneth Maruti tahu. Ia akan mengingat pagi itu. Selama-lamanya.

Saturday, September 11, 2010

#30harimenulis

Day 7: Wina, 14 Febuari 1979

Vivian


Sudah tiga bulan Vivian berada di Wina. Begitu jauh dari tanah kelahirannya, begitu jauh dari keluarga dan Tio, suaminya. Entah mengapa ia merasa lega. Ia merasa bisa lebih bernafas, walaupun usaha untuk bernafas itu pertama kali dirasanya terlalu tajam menusuk hidungnya, karena udara musim dingin tengah berlangsung tepat ketika Vivian menjejakkan kakinya di kota Wina.

Vivian mulai bertanya-tanya apakah karena Kenneth, laki-laki rekan kerjanya di universitas. Laki-laki hitam yang berasal dari negara yang tak kalah jauh. Vivian masih ingat tangan hangatnya. Tubuhnya yang jangkung dan tegap. Senyumnnya yang manis, begitu kontras dengan kulit hitamnya. Legam dan membekas. Vivian jadi teringat Pele. Walau dia tidak terlalu suka sepakbola, tapi ia berpikir Pele cukup ganteng. Vivian selalu suka laki-laki berkulit gelap. Ia menyukai Tio dulu, karena untuk ukuran orang Jawa pun ia terlalu gelap, lebih mirip dengan orang Ambon atau Flores. Senyumnya pun manis, ia menyukai laki-laki manis.

Namun, menikahi Tio ternyata tidak menghilangkan sisi kemuraman dalam dirinya. Kemuraman yang diam. Sedih dan tertahan. Bahkan menambah tekanan. Vivian selalu merasa gagal untuk keluar dari tekanan itu. Tekanan yang membentuknya dari kecil. Ibunya yang bagai ibusuri kerajaan Cina dan ia putri yang dikurung di istana terlarang, selamanya. Ia mulai nyaris putus asa. Terkadang ingin ia bunuh diri dengan mengigit lidahnya.

Ketika ia memutuskan untuk pergi sendirian ke kota ini, Vivian merasa dirinya mulai melepaskan diri dari kutukan turun temurun itu. Lalu ketika seorang laki-laki bernama Kenneth Maruti yang menyambutnya di bandara, Vivian merasa dirinya sedikit terselamatkan. Kenneth anak seorang pendeta Kristen di Kenya. Ya, di Afrika. Laki-laki hitam yang datang dari benua hitam. Benua jauh yang tak ada dalam bayangan Vivian. Hanya satu hal yang menggangunya, Vivian masih belum paham terselamatkan dari apa. Vivian mulai tidak bisa membedakan apakah perasaan yang sedang tumbuh di dadanya itu serupa dosa seperti yang dikumandangkan di gereja-gereja? Yang pasti, ia merasa aman dan nyaman di dekat Kenneth. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya.

Kenneth mengajaknya makan malam hari ini. Ia tengah bersiap-siap, seperti seorang gadis hendak pergi ke kencan pertamanya walau umurnya sudah kepala tiga. Vivian sedikit malu dengan perasaan kepanikan yang demikian, merasa tak lagi pantas. Apalagi ketika surat Tio datang terselip di pintunya pagi tadi. Surat-surat yang romantik, penuh mimpi-mimpi. Tak pernah Tio seperti itu. Mungkin karena rindu. Mungkin juga jarak. Romantisme mudah terbentuk ketika keberadaan itu tak lagi nyata. Vivian merasa dirinya terbelah.

Suara pintu yang diketuk tiga kali menyadarkannya. Kenneth tengah menunggunya. Vivian mengambil jaketnya dan menghela nafas panjang di hadapan amplop surat Tio.

Auf Wiedersehen, schatz
.
Selamat tinggal, sayang.

Surat Tio selalu berakhir demikian.

Auf Wiedersehen.


Ia berkata dalam hati.

Vivian keluar dari pintunya, menemukan laki-laki hitam dengan senyum berlian membawa satu tangkai bunga mawar merah untuknya. Hatinya mengembang. Ia membiarkan Kenneth mengandeng tangannya sepanjang perjalanan ke restoran. Untuk pertama kali ia yakin, kehangatan genggaman di antara jemarinya begitu nyata.

Friday, September 10, 2010

#30harimenulis

Day 6: Yogyakarta, 14 September 2006

Raka


Frame 1

Perempuan yang datang padanya. Berambut pendek, berkacamata dan berkaus polo warna pink. Pipinya merah seperti baru datang dari gunung-gunung tinggi. Tangan yang hangat ketika bersalaman. Suara yang hangat. Dan cerita-cerita serta mitos dari gunung tertinggi keluar dari mulut perempuan itu.

Frame 2


Teras. Senja yang menyilaukan. Dua pasang teh botol yang hampir habis. Satu bungkus rokok. Djarum Super. Dua orang yang berbicara tanpa pembicaraan. Suara-suara hanya menjadi warna dari suasana.

Frame 3


Tiga puluh detik, tangan perempuan itu enggan dilepasnya. Entah mengapa. Sedikit tak rela. Tapi lepas jua.

Frame 4

Sms. Ingatan. Memori. Masa lalu. Reinkarnasi. Dejavu. Senja. Sendu. Juga rindu.

Keterangan Foto:

Semua kecepatan diambil dalam sekian jam, sekian cahaya dan dengan retina mata. Semuanya No Title (Raka, 14 September 2006).
saya harus menuliskan ini. shakespeare dan cervantes mati di hari yang sama: 23 april 1616.

Thursday, September 09, 2010

#30harimenulis

Day 5: Yogyakarta, 14 September 2006

Tara


Aku tak tahu apa yang membuatku merasa tak biasa sejak pagi ini. Harusnya pertemuan itu biasa saja. Aku sampai mengganti bajuku berkali-kali. Hingga memutuskan memakai kaus polo warna pink, kesayangan ibuku, yang sudah tipis dan nyaman. Dengan celana abu-abu dan sepatu kets kesayanganku yang berwarna putih krem. Tidak pernah aku menjadi sepanik itu ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Aku memacu sepeda motorku ke studio tatto langgananku. Rajah nama ibuku di punggung sebelah kananku sudah mengering. Antara sedikit perih dan gatal tergesek oleh kain baju polo yang kukenakan. Ada degup aneh di dadaku.

Degup aneh itu menemukan jawabnya setelah aku bertemu laki-laki itu. Ia mengenakan kaus warna hijau yang menenangkan dan juga celana abu-abu. Ia cuma tersenyum melihatku. Sepertinya pipiku memerah serupa tomat dan dengan mengenakan baju pink milik ibuku, aku menahan rasa maluku sepanjang aku bicara kepadanya. Aku tak ingat bicara apa. Aku hanya bicara untuk terus hadir di sampingnya.

Hanya senja yang menyilaukan hadir di teras itu, sepasang teh botol yang hampir habis dan satu bungkus rokok Djarum Super. Hari itu menempel dalam memoriku dan tak pernah pergi lagi. Apalagi ketika aku harus pergi meninggalkannya, ia menahan tanganku tepat di nadi. Ia tak bicara. Aku juga tak bicara.

Hanya matanya berkata:

Jangan pergi
Tolong ingat aku lebih dalam


Ketika aku harus beranjak bersama senja. Di atas motor, ia muncul tepat di pelupuk mataku. Dalam senja yang lain. Dalam riapan rambutnya yang ditiup angin. Tebing. Hangat. Sepi. Sedih dan menyayat.

Aku mengirimkan sms malam itu kepadanya.


Raka,
Aku ingat/
Terlalu dalam dan tak terbayangkan/
Hingga melewati perjalanan roh dan waktu.

Wednesday, September 08, 2010

#30harimenulis

Day 4: Wina, 14 Desember 1978

Kenneth


Kenneth Maruti berdiri di pintu kedatangan Flughafen Wien. Pagi itu udara membeku dalam hembusan nafas hangat manusia yang berlalu lalang. Mulut-mulut orang penuh asap walaupun mereka tidak merokok. Kenneth memegang sebuah karton putih bertuliskan sebuah nama:

Vivian Tanjung (Indonesia)

Kenneth tidak akan pernah menyangka bahwa nama itu akan bersinggungan begitu erat sepanjang hidupnya.

Kenneth hari itu hanya bertugas untuk menjemput perempuan yang akan menjadi rekannya dalam sebuah program penelitian di universitas untuk satu tahun ke depan. Lalu lalang manusia semakin padat, pesawat yang membawa perempuan itu dari Amsterdam telah mendarat.

Kenneth ingin meniup kedua belah tangannya di balik sarung tangannya yang berwarna biru gelap, namun ia bertahan untuk tetap memegang karton putih itu. Siapa tahu Vivian akan terlewat. Kenneth tidak mengetahui bagaimana rupa Vivian.

Lalu seorang perempuan muncul, begitu mungil dan kecil, begitu putih dan rapuh. Ia menatap ke arah Kenneth. Rambutnya pendek dan terkesan modern. Matanya kecil dan suara yang keluar dari bibirnya begitu halus. Nyaris seperti berbisik.

"Kenneth Maruti? Dari Universitas Wina?"

"Vivian Tanjung? Dari Indonesia?"

"Ya, saya adalah Vivian."

Kenneth Maruti menjabat tangan mungil Vivian. Kenneth Maruti tidak berkedip. Sepintas dirinya tersadar bahwa ia memandang Vivian sedikit terlalu lama.

Terlalu lama hingga tidak dapat melupakannya lagi.

Kenneth terjaga sejenak, ia lalu menawarkan untuk membawakan kopor Vivian. Kopor yang sepertinya terlalu besar jika dibandingkan dengan tubuhnya yang serba mungil. Kenneth memanggil taksi dan kota Wina menyambut keduanya untuk berkisah sejak hari itu.

Tuesday, September 07, 2010

#30harimenulis

Day 3: Yogyakarta, 11 September 2006

Raka


Laki-laki itu menatap dengan senyap dan jauh. Perjalanan kereta tiba-tiba terasa begitu lama baginya. Sesuatu membuatnya tak tenang. Ia mengeluarkan kamera sakunya dan memotret cahaya subuh pertama pada jendela kereta yang tengah berjalan. Kabut menyelusup di antara samar sinar mentari. Gradasi semburat langit terasa menggetarkan.

Klik. Klik. Klik. Tiga frame. Subuh menuju kota senja.

Lalu ia menengok sms di layar hpnya. Ia menghela nafas panjang. Masih memandang jauh ke depan.

Perempuan yang selalu menunggumu sudah kutemukan/Kapan kau ke Yogya?

Sms itu membekas. Ramalan itu membekas. Seperti juga vonis dokter tentang apa yang dideritanya belum lama ini. Sms itu membuatnya pergi dari ibukota. Mengepak barangnya dalam semalam dan pergi membeli tiket di loket stasiun. Semuanya dipicu oleh sebuah sms dan sebuah ramalan.

Sms lain menjawab. Nomor perempuan dalam ramalan itu. Isinya jawaban kapan mereka akan bertemu. Tiga hari lagi menjelang senja. Di studio tatto dimana sahabatnya bekerja, si peramal - begitu ia menjulukinya - pernah membaca garis tangannya dan menemukan perempuan itu disana bersilangan dengan garis nasibnya.

Untuk pertama kalinya, ia diam-diam mencoba mempercayai ramalan. Dia tak bertaruh apa-apa lagi. Baginya yang penting dalam dunia ini adalah kamera dan ia tak ingin kehilangan segala momen. Apalagi ketika momen itu membuat dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Laki-laki itu tak mengerti kenapa. Esok ketika bertemu perempuan itu dia hanya akan merekam dengan mata. Dia tersenyum mengetahuinya. Membiarkan pertanyaan-pertanyaan berkeliaran sendirian dan meneruskan tidurnya.

Monday, September 06, 2010

#30harimenulis

Day 2: Wina, 14 Desember 1979


Vivian

Udara bulan Desember begitu dingin. Vivian belum beranjak dari balik selimutnya. Sepertinya hari ini salju akan jatuh ke tanah dan pecah. Dalam waktu seminggu ia akan kembali ke negara tropis yang panas, kotanya yang selalu hujan dan dirinya yang terperangkap tak bisa kemana-mana. Tangan hitam legam yang tengah memeluknya hangat akan kembali ke negaranya yang juga tak kalah panas sepanjang tahun. Tanpa dirinya. Mereka sudah memutuskan untuk tidak lagi bersama. Untuk tidak lagi bertemu. Selamanya.

Vivian membuka kelopak matanya perlahan. Rasa enggan melepaskan pelukan itu membuatnya terjaga. Dapatkah ia tidak memikirkan laki-laki yang tengah memeluknya selamanya? Laki-laki yang membuat dirinya keluar dari cangkang keberadaannya dengan nyaman. Laki-laki yang dapat membuatnya merasakan musim semi dan musim panas sepanjang musim dingin yang mereka lewati bersama sebanyak dua kali. Dirinya yang selalu hujan dan muram dan diam hilang di tangan laki-laki itu.

Ia teringat Tio, suaminya, di ujung dunia yang lain. Sudah nyaris delapan tahun mereka menikah. Sudah lelah ia berjuang demi perkawinannya di mata ibunya. Dan tak ada anak yang mewarnai kehidupan mereka. Tak ada lagi gairah. Ia lelah namun merasa bersalah. Pada Tio dan mungkin pada Tuhan. Juga pada surat-surat Tio yang selalu setia datang dan dirinya yang masih setia dalam surat-surat yang pergi.

Di kota ini untuk pertama kalinya ia merasa bebas. Bebas menentukan hidupnya. Bebas dari mata-mata waspada dan mulut-mulut nyinyir. Tak ada orang yang peduli mengenai hubungan dirinya dengan Kenneth. Laki-laki yang membuka kunci dirinya dan membiarkannya lepas. Lepas dari kurungan sangkar emas. Lepas dari kontrol ibunya. Lepas dari suaminya. Sudah setahun ia menjalani hidupnya dengan tanpa beban. Tanpa harus menyenangkan orang lain selain dirinya dan tentu saja, Kenneth. Laki-laki dari benua hitam, hitam legam dengan senyum cemerlang seperti berlian.

Ia tahu ia mencintai Kenneth. Begitu rupa.

Ia berbalik meringkuk di dada laki-laki itu. Detak jantung Kenneth terdengar. Andai waktu bergerak serupa detak jantung yang dicintainya, maka hidup tidak akan menjadi sesulit dan sepelik ini. Mereka hanya punya tujuh hari lagi bersama.

Tujuh hari.
Seratus enam puluh delapan jam.
Sepuluh ribu dan delapan puluh menit.
Enam ratus empat ribu delapan ratus detik.


Detik-detik itu mulai berkurang. Vivian menutup matanya dan tak ingin lagi terbangun. Tak ingin lagi berpikir mengenai waktu.

Sunday, September 05, 2010

Ketika Adam Memberikan Apelnya Pada Hawa

:c.n.

Kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk akhirnya bersitatap. Dan tatapanmu seperti seekor singa lapar yang seolah-olah akan melahapku dalam semalam. Laki-laki. Penjahat kelamin. Ah, lagi-lagi kombinasi yang sialan itu. Melemparkanku dari rel kereta yang sedang kunaiki dan dalam hitungan jam dirimu berhasil menculikku walaupun tanpa meminta uang tebusan ke pihak manapun. Kau menyeretku ke tempat persembunyianmu dan di sana kita bertemu dua perempuan yang sama-sama kita kenal. Kita menyapa mereka yang sedang cukup terkejut. Dirimu membuka lagi satu botol bir setelah sekian botol kau habiskan sebelumnya. Meminumnya sedikit lalu menyeretku serta ke dalam kamarmu.

Di kamarmu, aku terpaku pada sekian judul buku dan mengingat kita yang sering bertukar puisi-puisi Neruda serta obsesi kita dengan Amerika Latin. Kau memagutku sementara aku teringat satu baris puisi Neruda. Aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai. Teringat Marquez. Cinta itu seperti kolera. Sama-sama membuatmu demam tinggi. Hidupku sedang gelap dan juga demam. Mungkin aku mabuk kata. Terlalu banyak kata-kata di kepalaku, sehingga sejenak kau pun bertanya dahulu. Apakah aku baik-baik saja?

Sepertinya aku mulai baik ketika aku akhirnya menemukanmu. Setidaknya satu hal itu membuat hari kelabuku terasa mulai menyenangkan. Ada semacam suntikan adrenalin dalam keberadaanku. Ada sesuatu yang mengendap dan membuat diriku dalam titik nyaman. Dan aku jatuh dalam pelukanmu. Rajahmu di lengan kiri seolah menyelimutiku untuk tidak bergerak. Diam dan benar-benar beristirahat.

Kita meledak di sekian kata dan kau menyodorkanku sebuah apel untuk kita makan setelah bercinta. Aku bertanya. Sejak kapan Adam memberikan apelnya kepada Hawa? Seolah-olah aku dibawa ke sebuah masa yang purba. Aku teringat sebuah candi. Lingga dan yoni yang berjajar dari asal mula manusia. Kita pernah melihat wujudnya di ibukota. Monumen-monumen yang dibuat presiden seumur hidup kita pada abad yang baru saja lalu. Ada semacam ekstase yang jatuh mengaliri nadimu, oh, di gua garba itu. Bahasa-bahasa kuno keluar dari mulutmu. Aku teringat aksara-aksara di sebuah kolam serupa susu. Aku mengeja kalamakara. Diajari seorang bengawan tua dari Barat.

Kita sama-sama pernah berada disini, kita sama-sama tidak berada disini. Segalanya menjadi wagu dan pecah di jalan-jalan. Seperti tutup-tutup botol yang bertebaran di sebuah jalan di kota ini, yang tidak pernah selesai kuhitung sebagaimana aku tidak pernah selesai menghitung bintang di langit Yogya yang kelam. Aku tengah mencoba membaca bintang-bintang. Kutemukan banyak formasi segitiga, segiempat, segilima dan segidelapan. Aku tengah membaca arah. Seringkali aku ingin pergi begitu jauh. Jauh-jauh sekali bahkan rasanya seperti membuang diri ke lautan dan tenggelam.

Rajah di nadi tanganku semacam menjadi pertanda, merah marun merona, akan awal dari segalanya. Menatapmu aku seperti tergerak untuk diam dan mencari pojokan untuk menyendiri. Ah, kita orang-orang lelah yang sebenarnya telah mengerti jalan-jalan sunyi berujung kesendirian itu dan tetap memilih untuk mengambilnya. Sedang apa sebenarnya kita disini, malam ini, kawanku? Dimana kita telah tinggal pada sesuatu dan meninggalkan sesuatu.

Kau seperti sebuah pemantik api berwarna merah menyala yang menerangi jalan yang abu-abu nyaris telah gelap ini. Kau berada di sebuah titik yang terletak dalam semesta untuk memancing apa yang akan datang. Maka datanglah ambruk ke dunia. Aku tersiksa bahkan menangis di kamar mandi pagi-pagi sekali. Mendentingkan gelas-gelas berisi anggur merah murahan bersama kawan-kawan terdekat. Berpelukan. Kehujanan. Hingga tenang sendiri. Aku tengah melepaskan apa yang selama ini seharusnya dilepaskan.

Di sebuah bukit bekas candi berwarna merah, subuh-subuh sekali, aku mengenangmu. Mendaki dan menghilang di hutan-hutan yang sama sekali tidak terletak di peta Jawa kontemporer. Aku seperti pernah, aku seperti sering, menapaki jalan-jalan begini. Batu-batu besar dan aku menjejaknya sambil mengingatmu. Di atas bukit itu sambil menatap Merapi yang terlihat sejajar kurang ajar dari tempatku berdiri, dunia telah berputar tanpa bunyi-bunyian dan kabut menyelimuti seluruh Yogya. Aku terhenyak. Rajahku berdenyut. Serupa jantung. Serupa alam. Sedetik itu aku merasa lenyap dan bayanganmu menggelap.

Tatapanmu seperti malaikat pencabut nyawa yang mengingatkanku akan jalan-jalan soliter. Gereja-gereja yang kosong di bukit-bukit yang tak kalah kosong. Kematian-kematian yang dingin. Koakan gagak-gagak hitam menggema di langit-langit yang sendu dan biru. Bau kematian begitu dekat. Segalanya sudah dekat. Terlalu banyak pertanda dan yang kesekian dibawakan oleh sosokmu. Sudah terlalu lama aku mencarimu hingga aku seringkali mengingatmu dengan satu rasa sendu. Apakah ingatan selalu membuat segalanya menjadi sendu? Aku termenung hingga ingin berhenti menghembuskan rokok. Sepertinya aku sudah terlalu lama terbakar menjadi abu.

Aku melihat segalanya terbelah dan pecah. Aku ingin langit jatuh menimpaku sesekali.

Kemunculanmu seperti dalam dongeng-dongeng dan aku tersisa untuk mengolahnya sendirian. Ah, takdir laknat ini seperti candu dan aku tengah dihisapnya hidup-hidup. Tengah kurangkum kata untuk merekam segalanya yang telah lalu, segalanya yang akan. Mungkin pada sekian kata telah muncul bau kelopak bunga mawar dan anggur-anggur yang ranum. Aku mengingat gigitanku pada apel yang kesekian yang kau berikan malam-malam. Dan tidak ada yang mengusirku dari Eden, hingga aku sendiri yang angkat kaki.

Ini sudah malam yang kesekian dan aku ingin bercerita mengenai gurun-gurun. Gurun-gurun kering dimana aku pernah mati dengan sekian luka di tubuh karena perang dan perang dan perang. Obsesi kematianku bahkan masih sama, berakhir dalam kunyahan burung-burung nazar. Terbang kembali ke langit. Tiga ribu tiga ratus tahun dan masih saja sama.Waktu dan bilangan adalah hitungan-hitungan pasti. Jika sudah sampai disini manusia terdengar aneh dan sedikit menyedihkan.

Di masa yang demikian bentuk hatiku telah remuk redam dan aku menjalani hidup dalam helaan nafas yang panjang. Kau berkata seandainya hati kita semua terbuat dari kardus sehingga tidak terasa menyakitkan. Pada banyak seandainya, semua orang berharap demikian. Aku ingin mengenangmu dalam semalam saja namun tak bisa.

Aku melihat kapal Nuh berbalik arah. Melihat dirimu di buritan. Berlayar di laut lepas, sendirian. Kata-kata telah lengkang, hengkang dari tubuhku dan berhamburan dimana-mana. Mantra-mantra telah kutorehkan untuk abadi dan kupanggil dewa-dewa untuk membuat duniaku gonjang ganjing tak karuan. Ternyata aku masih ingin tenggelam lebih dalam. Pada ingatan yang abadi yang bukan hanya milik diriku sendiri.

Dan aku masih melihat segalanya terbelah dan pecah. Andai saja isi-isi kepala bisa dibedah dan semuanya semudah mengangeni seseorang.


Yogyakarta, April 2007
#30harimenulis


Day 1: Wina, 14 Desember 2012


Tara

Kota ini menyambutku. Dingin. Bandara sebeku foto-foto bidikanmu yang murung dan sendu. Semuanya abu-abu. Emosiku bergradasi dan langit terasa akan jatuh dengan bintik-bintik putih. Jangan katakan salju akan turun malam ini, indra perasaku bisa ikut mati. Jatuh ke tanah dan pecah berserakan. Meleleh meresap ke dalam tanah.

Di atas pesawat waktu terasa begitu pelan sedangkan dadaku begitu bengkak dan terasa menderu. Aku kehilangan pegangan waktuku. Aku seperti baru saja melewati kiamatku sendiri, yang kesekian, sedangkan kiamat yang diramalkan banyak orang kabarnya bakal terjadi dalam tujuh hari lagi.

Aku teringat perkataan sahabatku, dua tahun lalu, kau tidak bisa mengontrol jalannya nasib. Kukira tujuh hari menuju kiamat akan kuhabiskan di tempat lain, tidak disini, tidak di kota ini. Yang menyimpanmu dan menyimpan memori ibuku. Apa daya, karena seminar menyangkut pekerjaanku, mendaratkan selembar tiket pulang pergi ke tempat ini. Aku seharusnya pulang pada pagi hari setelah kiamat.

Aku tak menyangka akan melewati kiamat dunia bersamamu. Walau aku tak begitu percaya bahwa kiamat itu akan terjadi begitu saja. Menjadi sebuah kiamat yang begitu teramalkan. Bagiku ramalan bukanlah sesuatu yang absolut. Hidup tidak lagi menarik jika semua terjadi sesuai dengan yang diramalkan. Bagaimanapun ketika aku memutuskan untuk pergi ke kota ini, aku sedang berjudi dengan nasib. Kiamat tidak kiamat, aku ingin menyaksikan peristiwa besar itu, di kota yang sama denganmu. Bahkan jika aku gagal menemuimu dalam hitungan tujuh hari, setidaknya jika aku mati atau tetap hidup, aroma udara yang kita hirup adalah sama. Kita menghirupnya bersama. Juga mungkin ibuku, di suatu waktu.

Kematian adalah sebuah ritual yang harus kita rencanakan dengan baik. Dengan berada disini aku jadi mengerti satu hal yang pasti. Jika aku akan mati, aku ingin berada di sisimu, melebur dalam partikel ledakan debu yang senyawa. Namun jika aku tetap hidup, aku hanya tahu satu hal yang lainnya, merencanakan kematian di kesempatan berikutnya, tetap dengan dirimu sebagai faktor X dan aku sebagai faktor Y. Kamu tahu bagaimana Tuhanku adalah Matematika dan aku tidak percaya agama. Aku lebih percaya pada cerita-cerita yang terlindap oleh waktu dan disimpan Kala.

Benar saja, aku melihat salju jatuh untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku hanya dipisahkan jendela kaca. Secangkir kopi hangat mengepul di hadapanku bersama segelas air. Air mataku menetes ke dalam gelas air. Aku tak pernah melihat kesenduan begitu indah dalam lanskap kota yang serba abu-abu. Serba kamu. Ah, ingatanku terseret kembali padamu.

Aku tahu.

Kau adalah satu-satunya alasan aku sekarang berada di tempat ini.

Friday, September 03, 2010

kemarau yang kedua
:asabhumy

kau habiskan di halaman
bermain sepak bola
walau terkadang debu bertebaran
dan bersarang dengan gatal di rongga hidungmu,
anakku

tak lagi penting
bagaimana dirimu hadir
melalui tubuhku
dan keberadaanku

lalu bagaimana mitos
dan realitas kehilangan batas-batasnya
terkadang

hingga aku menemukanmu
di halaman
di sampingku
selalu

pada hari pertama aku melihatmu
dan rasa di dalam dadaku
membuncah
serta airmata mengalir haru
aku teringat jemariku yang menyentuh kaca
akan sulit bagiku untuk melepaskanmu
perlahan

pada dunia yang penuh dengan kemarau tak tentu

dan aku yang tengah menghilangkan
risau
dan ragu

hingga keyakinan bahwa kau akan baik-baik saja selalu
asabhumy,
anakku

karena dirimulah, harapan akan kehidupan bersemi
untuk segalanya lebih baik
walaupun jalan dan kata begitu panjang lagi gersang

nikmatilah kemaraumu
dan terik matahari yang menyilaukan matamu
yang selalu ingin tahu
jejak langkah dan ingatan

saya melihatmu di berbagai senja. dimana-mana. dalam lima belas kehidupan dan lima belas macam ingatan. saya melihatmu terkadang dalam mata anakku. dalam rasa yang berdegup ketika nafas mengisi rongga dadaku.

saya mulai melepaskan segala kecemasan dan ketakutan. ketika teka-teki itu terjawab sudah. saya akan melepaskanmu. berdamai dengan segala macam ingatan dalam segala masa.

apakah kau akan terlahir kembali? tanya sahabatku suatu sore di teras kami. kemungkinan besar, ya, ketika ruang cahaya itu hadir dan dengan lebih sadar aku pun akan hadir.

seperti anak-anak yang terlahir. seperti anakku yang harus lahir. ketika dunia masih membutuhkan kebaikan. mengingat segala kebaikan.

aku menghitung nafasku. menjalankan irama denyut nadiku, dalam cahaya yang kau ingatkan dengan kehadiranmu.

demi semua ucap syukur,
dan jejak kakiku di atas bumi yang lebih tegap
aku senantiasa berjalan dan melangkah ke depan.

Friday, August 06, 2010

tanda cahaya

: erik estrada


terimakasih
karena telah menjadi simbol cahaya

dan penunjuk jalan
menuju darma

Tuesday, June 22, 2010

puisi untuk anak kemarau

:asabhumy


walaupun kau lahir di tengah kemarau
kau tak pernah menjadi gersang
selalu menjadi sebentuk embun
bahkan di tengah padang pasir sekalipun

dan aku bertahan
untuk mempertahankanmu
di sisiku
seterik apapun
dan sedalam apapun pasir yang merendam kakiku
untuk melangkah maju

ini akan menjadi kemarau kita yang pertama
berdua saja
dan awal perjalanan panjang kita
untuk membuang semua rasa kecewa
marah dan air mata
yang sia-sia

cita-citaku tetap, nak
membawamu keliling dunia

tetaplah sehat
belajarlah kuat
dan nikmatilah kanak-kanakmu dengan riang
menangislah jika terasa sakit
marahlah jika kau rasa perlu
dan aku akan tetap mengenggam tanganmu
juga memelukmu
mencium
mencintaimu selalu

sampai suatu hari kau bisa melangkahkan kakimu sendiri
memilih hidupmu sendiri
di kemarau dunia
dan dirimu yang tak pernah gersang karenanya

Saturday, May 15, 2010

tiga episode
atas mimpi-mimpi jahanam

#1

: bintang daud

jadi ceritakanlah padaku. tentang mimpi itu.


mimpi aneh yang melibatkan ayahku untuk pertama kalinya. tapi tunggu, itu bagian akhir. yang kuingat adalah percakapan dan percakapan di sebuah kamar yang serba putih. lalu pintu dan jendela yang kita biarkan terbuka langsung menuju pantai berpasir putih dan langit biru. cuaca sangat cerah. saking cerahnya terasa begitu surreal.

kau sedang kehilangan separuh jiwamu dan dendam tengah membara, lalu dunia tengah berada di titik nadir yang membuat kita merasa terlalu banyak kehilangan. aku sudah mulai lelah dengan rasa hilang. saat ini aku tengah bertahan dan berjuang. kelahiranku adalah perjuangan dan bagiku tidak ada yang sia-sia.

kita terus berbicara, di ruangan yang selalu siang itu. entah mengapa udaranya terlalu sejuk untuk cuaca pesisiran. aku benci ac. anakku benci ac. mereka selalu membuatku masuk angin dan sedikit pilek. dan tak ada ac di ruangan itu.

aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi. tetapi seolah kita berciuman. sekarang katakanlah padaku bagaimana rasanya setelah kehilangan segalanya. apakah semuanya sekarang berubah manis atau pahit? atau menjadi ciuman yang melewati diri kita masing-masing.

di akhir itu semua, ayahku bicara mengenai pajak. aku terbangun dengan heran. kutemukan anakku masih di rumah sakit dan infus itu masih mengalir. aku sering merasa sedih tapi tidak menangis. aku ingin pulang ke rumah kecil kami itu.

keesokan harinya kau membawa sayur pecel dengan nasi. agak sedikit terlalu pedas. dan berkata: jadi ceritakanlah padaku...

#2

: c.n.


kita berada dalam sebuah mobil yang ugal-ugalan. aku tidak mengerti kenapa kita berdua terjebak disitu. dikejar oleh sesuatu yang menyangkut kita berdua. wajahmu samar. rajahmu seakan tidak lengkap, tapi aku yakin itu adalah dirimu. aku yakin benar akan bau tubuhmu, karena adrenalin yang terpicu dalam mimpi kebut-kebutan itu. padahal tidak ada satupun dari kita bisa berkendara mobil roda empat.

kau bilang kita seperti triad. cita-citamu kesampaian di dalam mimpiku. aku hanya berteriak agar kita pergi lebih cepat. masuk ke ruangan-ruangan ala film mafia. aku tak tahu mereka orang mana. bukan itali juga bukan cina.

mimpi itu penuh warna. entah mengapa merah muda yang kuat.

aku tak tahu bagaimana caranya aku melahirkan dirimu yang triad. aku hanya ingat dirimu dan payung hitammu.

#3

:e.e.


hanya dalam bulan-bulan itu kau datang dalam mimpiku. tanpa kamera. dan tiba-tiba menjadi bagian dari tubuhku. anakku lahir. ingatanku pergi pada tangkapan-tangkapan imajimu yang masih sepi dan penuh. juga abu-abu. apakah kau buta warna dan aku tidak tahu?

di belahan dunia yang lain, dalam cuaca musim gugur yang abu-abu, semoga kau masih mengingatnya. seperti di semua senja yang melelehkan air mataku.

Sunday, April 25, 2010

sejauh mana kehidupan berjalan
dan bertahan
melewati undak-undak berbatu
dan menjaga diri untuk tidak terantuk

sejauh mana tubuh
bertahan menghadapi luka
dan menyembuhkan dirinya sendiri
bagaimana waktu terlewati dan jejak guratan itu tetap membekas
tak terhapus

kata-kata maaf
dendam yang terlepas
tangis yang pecah
amarah yang terlontar
bagi hidup tidak ada yang sia-sia

dan semua keputusan menjadi sejarah
serta karma
yang menjadi
terulang
dan terhapus

begitu panjangkah segalanya menuju darma?

proses adalah sebuah perdamaian dengan diri
setelah sekian pertikaian
permusuhan
dan penyelesaian

kemanapun diri ini melangkah
memori hitam
dan memori putih
serta abu-abu
'kan mengiringi
dan menjadikan pelengkap derita bahagia

hingga suatu hari kosong
dan diam selamanya

Wednesday, March 31, 2010

I remember you, somewhere along the lines.
The images of your camera which touch everything that move.
Living and frozen through you soul.
Did I lost something when I felt I'm losing you?
Every time I'm remembering those frozen touch of yours.

Those very eyes.

That carry me to some gray land.
Deserted by your beauty of memory.
For I am the first and the last.
I am the honored one and the scorned one.
I am the whore and the holy one.
I am the wife and the virgin.
I am she whose wedding is great,
and I have not taken a husband.
I am the bride and the bridegroom,
and it is my husband who begot me.
I am the solace of my labor pains.
I am senseless and I am wise.
Come forward to childhood,
and do not despise it because it is small and it is little.
And do not turn away greatnesses in some parts from the smallnesses,
for the smallnesses are known from the greatnesses.

I am the one who is honored, and who is praised,
For I am knowledge and ignorance.
I am shame and boldness.
I am shameless; I am ashamed.
I am control and the uncontrollable.
I am strength and I am fear.
I am war and peace.
Give heed to me.
I am the substance and the one who has no substance.
But I, I am compassionate and I am cruel.
Do not hate my obedience
and do not love my self-control.
I am the union and the dissolution.
But I am she who exists in all fears
and strength in trembling.
I am she who is weak,
and I am well in a pleasant place.
And I am an alien and a citizen.
I am the substance and the one who has no substance.
I am the silence that is incomprehensible
and the idea whose remembrance is frequent.
I am the voice whose sound is manifold
For I am the first and the last.

taken from olivia lopez

Saturday, March 27, 2010

sejauh mana sebenarnya kita sebagai perempuan bertahan dan mempertahankan hidup kita. mengapa membaca kartini akhir-akhir ini membuat saya tetap ingin menangis. apakah tidak ada yang berubah dalam sejarah kita. mengapa kita berbagi kesakitan-kesakitan yang sama.

yang di kepala saya adalah pertanyaan yang terulang dan terulang kembali. tanda tanya hilang dan hanya berputar di arus waktu, serta gugatan atas tubuh. atas kendali tubuh dan ruang yang sedang saya lakukan.

ah, hanya kedirian ini yang akhirnya saya pertahankan. lalu anak saya, yang berlari-lari menyambut saya di pintu rumah serta mencari kehangatan di dada saya. dari banyak hal, hal inilah yang seringkali membuat saya menangis haru dan melangkah maju.

paringono gusti.

Thursday, February 25, 2010

sebuah pembatas buku kupu-kupu warisan ibu saya bertengger di sebuah pot yang juga miliknya dulu. saya jadi ingin mencat ruangan kerja saya dengan warna pink yang tidak muda. dalam beberapa bulan umur saya akan mencapai dua puluh tujuh tahun. saya jadi teringat catatan puthut ea, dua puluh tujuh kali mengelilingi matahari. yang pada usia demikian chairil anwar meninggal dan kurt cobain bunuh diri. james dean menabrakkan mobilnya dan mati. dua puluh tujuh. ah.

saya tetap ragu akan mati muda dan abadi. saya merasa belum meninggalkan apa-apa selain anak saya yang sedang lucu-lucunya. saya berusaha menghapus rasa ingin mati dari diri saya dan menganggapnya sebagai tujuan akhir yang lain nan pasti. saya sedang tidak ingin berpikir tentang kematian, walau saya masih suka memakai warna hitam dan bergaya gothic.

saya berpikir untuk mengganti kacamata saya dengan yang baru atau bahkan memakai kontak lens, karena anak saya sering memainkan kacamata saya. kacamata ini sudah terlalu lama saya pakai. kacanya sudah baret-baret dan penglihatan saya jadi buram. saya menemukan frame kacamata yang murah dan tidak berat (juga untuk kantong saya) kemarin di pasar klithikan. semoga saya bisa membelinya bulan depan.

saya ingin kamera baru. yang sederhana saja, sehingga saya bisa merekam semua. memulai merekam semua kembali. memutar segalanya kembali. mungkin. terkadang aku masih menginginkan matamu. karena apa yang kau simpan, selalu abadi. dan kamera, selalu mengingatkan saya padamu.

Wednesday, February 17, 2010

Lagu, Betapa Tidak Sempurnanya Dirimu!

Kami lima ribu orang
Terkurung dalam bagian kecil kota ini
Kami lima ribu orang
Berapa banyakkah dari kami di seluruh negeri?

Bagian yang begitu besar dari kemanusiaan
Dengan rasa lapar, dingin, horor dan kesakitan
Enam dari kami telah hilang
Dan bergabung dengan bintang-bintang di angkasa.

Seorang dibunuh, yang lain dipukuli
Sebagaimana aku tidak pernah bisa membayangkan seseorang
dapat dipukuli
Empat yang lain hanya ingin mengakhiri
Rasa takut mereka

Seorang melompat jatuh hingga mati
Yang lain membenturkan kepalanya ke tembok
Tetapi semuanya
Melihat lurus ke dalam mata kematian.

Kami adalah sepuluh ribu tangan
Yang tak lagi bekerja
Berapa banyakkah dari kami
Di seluruh negeri?

Darah yang telah ditumpahkan dari kamerad Presiden kami
Memiliki lebih banyak kekuatan daripada bom dan senapan mesin
Dengan kekuatan kepalan kolektif kami yang sama
akan menyerang lagi suatu hari.

Ah, lagu betapa tidak sempurnanya dirimu
Ketika aku harus menyanyi dalam kengerian!
Aku tak bisa karena aku masih hidup
Aku tak bisa karena aku sekarat

Adalah menakutkan untuk menemukan diriku sendiri
Hilang dalam waktu yang tak terbatas
Yang mana diam dan teriakan
Adalah yang menjadi tujuan laguku

Apa yang aku lihat, aku tak pernah lihat
Apa yang aku rasakan dan pernah aku rasakan
Yang akan menjadikan waktu bersemi kembali
Yang akan menjadikan waktu bersemi kembali.

Ah, lagu betapa tidak sempurnanya dirimu
Ketika aku mencoba menyanyi dalam kengerian
Ah, lagu betapa tidak sempurnanya dirimu.
Ah, lagu betapa tidak sempurnanya dirimu.

Puisi oleh Victor Jara
Stadiun Nasional Chile, September 1973


Diterjemahkan oleh Astrid Reza, 17 Februari 2010.


Puisi di atas ditulis di kamp konsentrasi, dihafalkan diam-diam dan diselundupkan keluar oleh tahanan politik lainnya. Ditulis oleh penyair, penyanyi lagu rakyat dan dramawan Chile, Victor Jara, sesaat sebelum dia dibunuh pada tanggal 17 September 1973.