Saturday, January 26, 2002

Sewaktu laki-laki itu memberi tanda, ia mengambil nafas dalam-dalam membaui kamarnya. Kerlipan mata hitam menggema ke segala ruang tubuhnya, laki-laki itu pergi keluar pintu dan ia mati membujur kaku, mengantung diri di antara langit-langit.

Friday, January 25, 2002

pada luka-luka yang tergali
adakah niat untuk menutupnya
mata ingin membuang pergi
tapi rekatnya begitu dalam
menusuk semua yang ada
menusuk semua raga
juga jiwa

dalam melayang pun
elang tak jua bisa memangsa
semua yang tertinggal di atas sarang

tetapi semua harus tetap terbang
kembali
pada kata-kata
kini
matilah semua

Wednesday, January 23, 2002

inilah bentuk kegilaanku yang kutumpahkan pada halaman-halaman hitam dan tinta-tinta merah merana, karena kata-kata memenuhi semua relung kepalaku, dari sela gigi sampai pojokan liang telinga, kata-kata yang melesak meruak dan tumpah ruah pada tuts-tuts keyboard ataupun bolpen-bolpen hitam. semuanya demi pembelaan sepotong bibir kelu dan sepasang mata sendu dan hati yang terlena, satu jiwa yang sedang menghancurkan kesemuan-kesemuan di muka. sebuah kebebasan yang tak butuh kepemilikan, di antara helai-helai daun cintaku.

Tuesday, January 22, 2002

PADA SEBUAH KOTA
sebuah fiksi percobaan
-Astrid Reza Widjaja

Pada sebuah kota kutitipkan pesan-pesan rindu, kosong dan berisi, perenungan-persetubuhan-penulisan dan kematian yang datar. Aku tidak hanya berbicara pada muka lampu sepetak taman, yang meredup dan berderaian ditutup tirai-tirai hitam, aku berguman pada tatanan batu-batu sungai, yang meluap lalu terbang. Lonceng-lonceng berdentang pada lentikan sepasang mata perempuan, yang kau setubuhi sepanjang senja. Aku bertanya ada apakah dengan jam malam, kau jawab hanya dengan sentuhan bibir tipis, pengerebekan, pengerebekan, sahutmu berulang-ulang pada mantra-mantra pagi hari. Keesokan harinya kutuliskan sepasang surat merpati pada para penjaga moral yang tengah bermabuk-mabukan dan beronani tolol di depan video-video porno sitaan. Kukirimi mereka seekor ayam bercat bulu-bulu pink, merah dan ungu, yang jika dimasak meninggalkan warna warni lipstick pada sisa minyak pengorengan. Mereka lalu mencariku dengan parang sembari menarik ristleting-ritsleting celana panjang dan membiarkan sperma-sperma yang setengah basah membusuk di antara celana dalam. Berpetak umpatlah kami mengelilingi sudut-sudut kota dan dalam sekejap aku berkeliaran seperti kelelawar malam, bermata burung hantu dan berkawan dengan tikus-tikus got. Kuketuk pintu kamarmu suatu petang dan kau masih bercinta, menikamku dari belakang, hanya melawan kekonvensionalan katamu setelah keringat-keringat bercucuran. Berdiamlah disini bisikmu di sela asap-asap batangan rokokmu yang kesembilan, moralitas sudah kuhancurkan tadi pagi dengan ledakan bom yang membuat mereka berteriak di pojokan neraka, lanjutmu saat kaunyalakan batang rokok yang kesepuluh. Kau aman, kau aman, aku memang aman, tidakkah aku selalu merasa demikian dalam setiap dekapanmu. Tetapi sayang, aku bukanlah kesetiaan, pada tetes embun pertama aku berjingkat, menyelipkan sepasang sandal kesayanganmu dan melemparkan diri kembali pada jalanan.

Masih pada sebuah kota, dimana perut-perut kosong meneriakkan yel-yelan massa dan rakyat sunyi dari bunyi-bunyi, seolah-olah tidak ambil peduli. Kita pernah duduk menonton mereka, dengan tempat duduk kelas pertama beserta sekantung cemilan-cemilan yang kita bawa. Sandiwara bertujuan mulia yang kehilangan penontonnya satu per satu, hanya kita yang duduk tertinggal dan masih mengunyah sebutir dua butir kacang. Drama perjuangan yang tragis komentarmu, setelah semua pemain berjatuhan dan diangkut ke rumah sakit terdekat. Kita bangkit dan menepuk debu-debu yang melekat pada pantat, membuang bungkusan kacang dan berlomba lari pulang. Kita bersungguh-sungguh berlarian pulang karena tak lama terdengar suara-suara tembakan pembubaran, walau sepanjang jalan gas alam di perutmu mendesak keluar dan dua jariku mencoba menutup hidung, bau-bau amis darah, kentut masam yang berpadu dengan malam.

Di sepanjang kelokan tangga kota ini kutuliskan pesan-pesan, kugoreskan puisi-puisi dan kugantungkan prosa-prosa percobaan. Satu tembok kusam habis tertempel foto-fotomu dan satu tembok putih penuh sketsa-sketsa pensilmu. Kamarmu, ruangan yang menjadi galeri pameran kita, sewaktu kita bercinta tanpa pintu dan jendela, hanya di halaman depan terpampang rapi tulisan kami tidak butuh pengakuan dan ritual ikatan. Semua orang diam, suara televisi menjerang dan nyanyian radio bersayup-sayup kelam. Kuingin mengandung, aku ingin menghamilimu, dua buah keinginan tiba-tiba lepas kita nyatakan di antara desahan, seraya melepaskan kondom yang baru saja akan terpasang. Hari yang ditunggu selama sembilan bulan dan sepuluh hari telah tiba, aku merasakan ada sesuatu yang pecah pada perutku dan tak sadarkan diri. Dalam keremangan kulihat wajahmu terpaku menatap kematian tanpa kesedihan atau kesenduan, aku tak ingat apakah ada yang keluar dari liang rahimku, hanya pada sebuah kota, kutinggalkan sebuah kelahiran dan mimpi-mimpi pemberontakan.

Yk, 220102

Sunday, January 20, 2002

Dialog [I]
utk d.a.r.

Hari itu bertutupkan kain bandana biru, separuh wajahmu dan bingkai kacamatamu menghiasi kesan-kesan penutupan hati yang luka. Seekor macan yang garang, terluka tetapi masih menunjukkan kegagahannya. Kulit-kulit kehitaman itu, itu kulitmu, bukan kulitnya. Kegelapanmu sewaktu lampu-lampu dipadamkan untuk satu malam saja. Adakah yang salah dalam belaian keibuan dan berbagi kehangatan? Lalu mengapa pagi berlarian melarikan diri, ke arah barat dan ke arah timur. Mereduplah pelita-pelita hati dalam sekejap bersama deruman motor yang terpencar pada sisi jalanan. Dan aku hanya tersisa dengan sebatang rokok di meja tamu. Karena dua malam itu tidak melahirkan cerita-cerita seribu seratus malam, hanya pembicaraan-pembicaraan dini belaka, empat puluh delapan jam lamanya.

Saturday, January 19, 2002

memang yang terbaik adalah meruntuhkan semua nilai-nilai dan membangunnya kembali baru.
Sebuah prolog
utk d.a.r.

Kukira sebuah deruman itu tidak akan datang, hanya akan menabrak dinding lalu jatuh berkeping-keping. Seribu teka-teki yang akan tersisa dari malam ini. Lalu mengapa kita berada disini, di kursi merah yang mengelilingi ruangan sebuah depan rumah. Ayam jago berkokok di luar sana dan matahari timbul dari tenggelam. Pada jalan-jalan di suatu malam aku terduduk termanggu dengan beberapa batang rokok, ada apakah dengan denah kecoklatan di tubuhmu? Sepertinya aku sudah lama mengenalnya, seperti rerumputan hijau yang tergenggam di tangan. Tak ada pertanyaan disitu, yang ada hanya ketelanjangan yang meminta. Ketelanjangan seorang anak manusia.

Dan mengapa kita harus bertangis-tangis tanpa air mata pada kesendirian kita masing-masing? Karena kita tahu pada hangatnya sebuah ciuman dan kukira tak ada salahnya kita berciuman di bawah bingkaian jendela kayu ini. Kita yang merindukan kerinduan, seperti berpelukan pada Tuhan. Seperti dua anak kecil beratapkan bintang, kita tidur bersisian, berselimutkan kehidupan dan nafas-nafas subuh pagi. Kita seperti menghitung lukisan alam yang tak pernah terselesaikan.

Hanya saja pada api yang terbakar kan kutuangkan air, seperti pada duduk emosimu yang nyaris dingin beku. Api-api biru di hatimu, lebih panas dari magma-magma gunung di sekitar kita. Es-es kering itu, sanggupkah menutupinya dalam ilusi sebuah kabut. Pada wajahmu lalu pada wajahku, perlukah kita berperasaan maya? Salam perkenalan semalam suntuk, cukup merutuki hari dengan semua kantuk yang ada. Yang ada adalah perenungan sebuah pertemuan kecil dan panjang.

Thursday, January 17, 2002

tidak lagi ada cerita
karena hati tak perlu kata-kata

Tuesday, January 15, 2002

cerita keempat untuk qq

karena cerita-cerita ini semua untuk menyambutmu, bila kau jatuh ke bumi pada suatu bunyi-bunyi sangkakala. semuanya hanya bentuk-bentuk kegilaan fiksi, kegilaan untuk kata-kata, menikam otak dan memamah hati. ataukah hanya bentuk pembenaran untuk perilaku-perilaku yang dimata mereka menyimpang? ataukah hanya penebusan dosa di sebuah salib yang terpaku seribu kata ini? karena aku sudah mematikan aku ketika jejak-jejakmu berbelok ke kanan dan aku masih tersesat di persimpangan. kita yang pernah berbelokan jalanan, ketika waktu masih menunjukkan seribu abad lamanya.

mungkin kau masih ingat pada lidah yang berpelukan pada suatu hujan sore hari dan kabut melati putih. pada dua tusukan lidi, anjing-anjing berlolongan seperti serigala hitam, langit hitam. siapa yang menjadi mangsa malam ini? sepekat perekat suasana berketiduran sekepompongan. pada pagi, ulat-ulat itu kembali pulang ke sarang. seperti kita berpulangan pada kaki gunung-gunung tinggi, pada ibu dan tanah ini. menetek pada kesunyian.

aku masih ingat bagaimana ketika pagi itu, kita yang sama-sama terlahir baru. bagaimana embun waktu itu dan bagaimana suara burung waktu itu. tetapi ada saatnya kita membunyikan lonceng-lonceng kematian, karena pemakaman kita sudah dekat. sadarkah kau jika kini saatnya membacakan doa-doa?

Monday, January 14, 2002

mungkin, ini kebahagiaan yang meluap-luap
atau hanya kamuflase kesendirian...
karena aku tak mengerti
atau hanya tak mau mengerti...

Sunday, January 13, 2002

cerita ketiga untuk qq

sepertinya kematian akan berbicara ketika seribu sisi menampakkan diri. sungai-sungai mulai penuh dan tanah-tanah mulai longsor berjatuhan. pagar-pagar bambu memugar dan menancapi bumi. pernahkah kau dengar hujan bertangis-tangis di pinggiran selokan-selokan yang penuh dengan tumpukan sampah perkotaan? seperti
ikut menyesali debu sisa pembakaran becak-becak dan runtuhan dagangan kaki lima. sesekali terdengar teriakannya pada penggusuran kemanusiaan atas nama keindahan.
lalu mengapa ada keindahan jika tak ada kejelekan? semuanya setipis kertas-kertas timah...

masih kegelapan memenuhi langit kota-kota ini. dalam keheranan terlihat bintang-bintang gemerlap, kukira kota ini menyembunyikan bintang-bintang ataukah hanya kilapan-kilapan lampu dari mesin-mesin besi itu? matahari selalu melahap kulit-kulit manusia, memanggangnya begitu coklat, begitu matang. bagai nasi goreng kecap yang sedang pernah tersaji di meja makan sebuah warung tak bernama. mereka lapar, bermata lapar...

jalan-jalan mulai menyambut sajian darah merah, seperti sebuah misa dengan nyanyian perjuangan-perjuangan. hanya asap-asap pemberkatan terasa perih dimata, gas air mata teriak seseorang. sisa-sisa mortir dan martir bergeletakan di jalanan. masih diringi tembakan-tembakan penyelesaian dan penghormatan. jalan-jalan tiba-tiba berubah nama sebulan kemudian. kita terjebak dan tersesat disana, seperti hilang di sebuah negeri penuh dongeng wayang-wayang dari negeri seberang.

Thursday, January 10, 2002

cerita kedua untuk qq

mungkin saja di sebuah lemari tersimpan hati-hati kita, terselip di antara tumpukan-tumpukan baju dan celana panjang. ataupun di sebuah buku pada halaman pertama yang terbuka. juga ada pada dompet coklat yang lapuk, bersama lembaran-lembaran uang berbau masam dan koin-koin karatan. pernah juga basah oleh air hujan dan tertutup debu-debu hitam. lalu hati-hati itu sekali waktu nyaris kita robek-robek menjadi kepingan-kepingan patah tetapi sekali waktu kita jaga selalu dengan taruhan nyawa.

kita juga pernah melihatnya pada bingkai-bingkai kayu yang kita beli di suatu pasar becek. malam juga pernah menyaksikannya pada rangkaian bintang-bintang di sebuah langit pada pantai dengan seribu pasir putih. lalu di jalanan yang penuh dengan tanah beserta aroma asap rokokmu. masih dengan sundutan di sisi-sisinya. hati-hati itu malah menjadi indah dengan pinggiran bekas kebakaran hutan.

ketika itu datanglah imaji yang hidup dan mati pada hati-hati. kita pun berkejut-kejut dengan tegangan listrik berkali-kali, seperti jantung-jantung yang pernah sekarat pada irama rumah sakit. denyut hati-hati itu berhenti pada hitungan ke sembilan, napasmu dan napasku berceceran pada lantai-lantai kayu. semuanya seperti permen karet merah muda yang terbuang.

Monday, January 07, 2002

untuk patahan sayap a

karena aku tahu kawanku yang tercinta, kita pernah menjelajahi rerumputan itu pada suatu malam yang sepi. dimana suara sepeda motor sesekali berlalu lalang. lalu peluh yang masih mengalir harus sejenak berhenti, karena hatimu sejenak serasa mati. atau hanya waktu yang berhenti berkejap-kejap? suara jantungnyakah? yang tertidur nyenyak di seberang sana, kau mendengarnya. aku mendengarnya. dan dia juga mendengarnya dalam mimpi-mimpi muda kita. kamu ingat kita yang pernah bergoresan mimpi. hijau, biru dan merah? tak ada putih kawan, juga tak ada hitam. hanya tiga warna belaka. warnanya, warnaku dan warnamu. pilihan kita masing-masing. adakah jalan ini berujung? kita masih duduk bersisian di antara rumput-rumput yang berpeluh.

maka darimu tumbuh bunga-bunga indah bertangkai dan berduri, ah kawan sebegitu besarnyakah luka? lihat dada itu, lihat dada itu, yang kau tusuk bertombak-tombak. kuambil kassa putih dan sedikit arak, kututup lukamu. kubalut dan kubiarkan matamu mengalir perih. hatiku pedih. kau tak bersuara hanya mengenang-genang, seperti kubangan-kubangan air di tepi jalanan ini. tubuhku lalu berdiri dan menari-nari berkecipakan air. tumpahkan segala, tumpahkanlah segala karena kawanku, mendung itu membawa hujan datang beribu-ribu... dan apa salahnya menari di atas luka, menginjak-injak hati dan mati merdeka?

seperti kupu-kupu malam ataukah kunang-kunang, kita yang menari-nari disini. di bawah langit dan di atas bumi. tidak dilarang dan juga tidak dipandang, peduli apa peduli apa pada sisi-sisi kita yang berkikisan. jika bintang pun dibangun dari berjuta-juta kunang-kunang yang mengelilingi bumi. sama seperti kita yang bermain-main di dalamnya. tersamarlah gelak tawa kita seperti lima tahun lamanya hidup di dunia. gelak-gelak yang pernah hilang dikubur di tanah ini. dunia yang tak pernah suci dan tak akan pernah suci. lalu mengapa ia meminta kesempurnaan? kawanku sayang, kita tidak pernah sempurna.

hujan berhenti di sekian ribu curahannya. berkacalah kita pada sungai yang berwarna kecoklatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana? larilah ke danau di pulau selatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana, kawan? mungkin pada laut, pada laut hitam kita dapat melihatnya. kita adalah mahkluk-mahkluk dalam misteri yang tak berdasar.

Sunday, January 06, 2002

di kepalamu ada sebuah cangkang, yang diambil dari tepian sebuah hati. kerang kemerah-merahan di laut-laut hitam. airku mengikisnya...
pernah dilewatinya kubangan-kubangan air ini, coklat sedikit berbau. bercampur dengan air got, keringat dan sisa-sisa sungai yang meluap. adakah air mata diantaranya? juga pasar-pasar dan lelampuan remang. masih di jalan-jalan berlubang ini, memunggungi langit abu-abu.

Friday, January 04, 2002

mereka pernah menderetkan bintang di langit hitam
menggores tinta pada kertas putih
menuang air pada gelas
melipat-lipat kupu-kupu kertas

mereka yang pernah mengukir mimpi2