Bendasari,19 Oktober 2002
Aku tiba-tiba tidak bisa bicara lagi, harus berkata apa lagi jika yang tersisa hanya tubuh-tubuh hangus di antara jalan-jalan kota dewata. Sudah, hilang saja surga dan semua kepercayaan manusia. Menjadi debu bara api yang hangus ke tanah.
Jalan-jalan malam hari semakin sepi dari bunyi-bunyi, hanya sekelompok kita yang duduk di pinggirannya. Di depan sebuah angkringan dan beberapa botol minuman. Entah untuk apa, entah untuk lelah dan lelap yang sudah menyerang berhari-hari lamanya. Perlukah subuh untuk datang begitu lama?
Untuk seorang pecinta, aku minta maaf karena kekosongan sudah semakin menerpa. Lebih baik bicara saja, lebih baik menatap saja. Cukup bukan? Jangan yang bukan-bukan, karena jangan sampai kekosongan itu mengundang sejuta amarah dari tumpukan dadaku. Karena aku masih terpaku pada dadanya, suaranya dan matanya. Yang bagiku cukup dia saja.
Bendasari, 29 Oktober 2002
Saya tidak melihat Tuhan dimana-mana, saya melihat Tuhan dimana-mana. Tetapi hari ini saya lelah, terbentur, memar-luka dan terengah-engah. Saya seperti berhenti di tengah-tengah jalan yang enggan saya lalui. Saya melihat foto-foto gagal, experimental, berwarna, buram dan hitam putih. Saya ingin bercinta dan terjatuh terseret di jalanan dalam kecelakaan motor di saat yang sama. Saya ingin sensasi. Saya ingin adrenalin saya berjalan sampai titik puncak. Biar saya bisa melepas semuanya, menghilangkan semuanya dalam satu momen kegelapan yang cukup membuat saya terdiam dan tersenyum puas sebelum saya menjadi benar-benar gila.
Isi kepala saya begitu menumpuk dan saya begitu tenang. Saya sendiri terheran-heran dan kekasih saya menjawabnya mungkin kau memang sudah terbiasa dalam keadaan yang demikian. Memang, jawab saya begitu pendek, saya memang sudah terbiasa. Saya sudah mulai sangat terbiasa dalam keadaan-keadaan yang membuat syaraf saya nyaris pecah, pikiran-pikiran saya membeku dan melumer dalam per sekian detik. Lalu saya ingat lagi wajah orang yang saya cintai itu dengan tawa sinis yang mentertawakan cinta, dimana ia membawa saya menjadi begitu konyol. Saya mentertawakan kekonyolan saya, cinta konyol saya. Cinta kontol saya. Vulgar, sederhana dan begitu sentimental.
Saya ingin muntah begitu mendengar kata bom, saya ingin muntah sungguh mendengar situasi politik dunia dan sekitar saya. Saya muak dengan satu kesungguhan yang akan memuntahkan isi perut saya berember-ember banyaknya.
Sebenar-benarnya saya ingin teriak dan ingin bantal untuk terlelap.
Bendasari, 1 November 2002
Seutas helai rambut jatuh ke ranjang, berpuluh-puluh bergumul di karpet biru kamar ini. Saya tidak bisa membedakan yang mana miliknya dan mana yang milik saya. Rambut kami sama-sama panjang. Kami sudah sejauh ini, membagi ruang, hati dan badan. Benar kata Neruda, aku tidak bisa lagi menentukan apakah tangan di dadanya adalah tanganku atau tangannya begitu pun sebaliknya. Ah, apakah ini waktunya untuk membaca soneta malam-malam di sisa tetesan daun di luar sana?
Satu bayangan muncul di kepalaku. Satu bayangan lain muncul di kepalanya. Dua kepala. Dua pikiran. Dua orang terlentang di atas ranjang, tidur berpelukan, kaki berbalutan. Sepasang bantal di atas seprai yang mendekati kumal, bantal-bantal dengan sarung yang juga tidak kalah kumalnya. Juga bau. Aroma khas dua tubuh yang bercampur menjadi satu seorang kawan yang memasuki kamar bilang.
Saya jatuh dalam mimpi untuk semalam saja. Benar-benar jatuh untuk tidak kembali.
Bendasari, 6 November 2002
Saya masih duduk saja disini, mengingkari satu demi satu keingkaran. Saya melihat pisau-pisau berjalan, saya mimpi dan saya melihat dia memimpikan saya. Saya melihat diri saya. Saya melihat pisau-pisau mendekati. Saya tidak tahu pisau-pisau itu menuju kemana. Mengalir entah kemana, entah membawa apa, entah membunuh apa.
Kemudian saya mencari botol Aqua, mencari dimana letak kekeringan tenggorokan saya. Saya sudah semakin tidak mengenali tubuh saya yang semakin tercecer dalam mimpi-mimpi dia. Tetapi saya masih ada, melayang-layang mencari letak dimana seharusnya saya tidur, dimana seharusnya saya bernafas.
Saya kehujanan, sungguh-sungguh kehujanan dan langit masih pekat.
Saya tidak sedang mencari-cari dia, karena saya kemudian hanya menemukan dia sejauh satu jengkal tangan saya. Saya tidak kemana-mana dan dia tidak kemana-mana. Namun kami tidak suka berlama-lama tinggal dan juga tidak suka berlama-lama pergi kecuali untuk meninggalkan sesuatu di belakang punggung kami. Lalu dimana letak tumpukan peti-peti kami yang berat itu, masih adakah di pojokan gudangg tua?
Saya pandangi tubuh telanjang, saya amati lekak lekuknya, saya sentuh permukaannnya. Saya ingin berada di lekukan tulang leher, saya ingin berada di antara rongga iga, saya ingin berada di atas dada. Tetapi saya hanya memandang dan tak berbuat apa-apa.
Yang saya temukan pagi itu hanya setetes hujan, serakan foto-foto dan sebuah kamera terbuka.
Bendasari, 23 November 2002
Kereta api berhenti pada suatu stasiun, saya berada di Barat beberapa pekan yang lalu, kemudian kereta api kembali membawa saya kembali ke arah Timur. Saya tiba subuh-subuh sekali, menunggu untuk bertemu, menunggu untuk bercumbu.
Minggu-minggu saya di Barat menjadi begitu kejam akan gelisah dan rindu. Saya nyaris gila, gila akan cinta, gila akan kamu. Saya kembali pada titik dimana saya begitu mencintai seorang laki-laki, jiwa raga. Saya kira saya nyaris kehilangan semua itu. Tetapi saya menemukannya lagi di kota yang sama, kota yang benar-benar saya cintai.
Dan lampu-lampu berpendar pudar bersama seberkas sinar matahari pagi, saya menemukan udara kota, menemukan tirai-tirai hijau yang setengah tersingkap, kawan-kawan yang tidur terlentang. Terakhir saya menemukan dia, menunggu saya, mendekap saya, menenangkan saya yang begitu sayu akan problema dan rindu. Saya menjadi rikuh dan jatuh. Saya menjadi saya, dia menjadi dia, dia menjadi saya, saya menjadi dia, saya tidak bisa membedakan lagi bagian tubuh mana yang seharusnya terpisah. Sebegitu dalamnyakah kami terlesak di dalam kamar tiga kali tiga seperempat meter ini.
Ah, pojokan-pojokan jendela, kasur-kasur, karpet biru dan gantungan baju. Foto-foto, buku-buku, bau-bau tubuh kami dalam kamar ini. Memori-memori yang sudah terjadi, yang akan terjadi.
Bendasari, 1 Desember 2002
Saya mengerti untuk semakin tidak mengerti bagaimana keadaan tubuh saya. Walau kata-kata sudah membayangi telinga saya dan rasa-rasa sudah menunjukkan panah-panah jalan yang harus saya lalui. Saya tidak menemukan perempatan di perjalanan saya tetapi saya merasa tersesat.
Saya butuh hutan, butuh semak hijau dan rumpunan jagung yang nyaris matang. Lalu dia membawa saya kesana, menelusuri tanah-tanah basah, air dari pematang yang jernih tak mengenal warna. Kami menemukan setapak-setapak, sawah-sawah dan ladang jagung. Saya butuh aroma alam walau udara dingin mendesak kulit sesore itu pada lereng pegunungan.
Saat ini saya butuh langit bintang yang cerah lengkap dengan bulan di tengah-tengah. Saya butuh langit untuk mengingatkan saya tentang hal-hal yang sudah dilupakan dan hal-hal yang ingin saya lupakan.
Teringat saya dengan seorang kawan yang saya habiskan berjam-jam lamanya bicara. Dan saya juga rindu akan suasana jalan malam-malam di depan sebuah benteng dan angkringan di pinggir jalanan yang sama. Saya tak ingin keramaian, saya tak ingin kota metropolitan. Saya hanya ingin satu pojokan jalanan kota yang senyap untuk melihat bintang.
Bendasari, 22 Desember 2002
:sebuah catatan untuk linda christanty
Saya pulang ke Barat beberapa waktu lalu hanya untuk menemukan kekosongan yang panjang, kamar yang pengap dan buku-buku yang tertutup debu. Sebenarnya saya ingin menemui beberapa orang termasuk kau, untuk berbagi secangkir dua cangkir kopi. Saya berhasil menemui beberapa orang kawan lama tetapi saya tetap merasa saya pulang untuk tidak membawa apa-apa atau tidak menemukan apa-apa.
Lalu sekarang disinilah lagi saya, pulang, ke kamar tiga kali tiga setengah meter. Sedang mencoba membagi ruang-ruang juga bagian-bagian tubuh saya yang terasa tercecer di sepanjang lantai kamar ini. Saya sedang membagi-bagi diri saya untuk mempelajari hubungan lelaki dan perempuan. Saya sedang mencoba membagi ruangan di kamar ini dengan seorang lelaki.
Dan lelaki itu terkapar seperti mati selesai bercinta. Seekor ayam seperti tidur terantuk-antuk lalu mati pada pukul sepuluh pagi. Lalu seorang Nietzche di akhir abad kedelapan belas berkata Tuhan sudah mati. Tiga pasang kalimat yang saya ketik ini lalu berhenti dan belum saya teruskan sampai saat ini. Tiga kalimat yang saya ketikkan untuk menggambarkan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, hal-hal di sekitar saya, hal-hal di depan mata saya yang lewat begitu saja.
Saya pikir saya akan membuat membuat profil dan essay foto seorang kawan kita, berhubungan dengan selesai dicetaknya novel lima ratus halamannya esok hari. Juga berhubungan dengan tugas akhir semester fotografi saya. Dan saya juga sempat memikirkannya untuk edisi perdana situs sastra januari nanti, yang saya harap bisa diselesaikan bulan besok. Saya rasa saya akan menunggu kau di kota ini pada saat launching novel teman kita itu. Sepertinya juga dia akan atau sudah memintamu untuk juga bicara disana, karena mantan putri Indonesia sepertinya belum bisa dikontak.
Sebenarnya masih banyak yang saya ingin bicarakan kepadamu, tetapi tiba-tiba kepala saya berhenti pada titik beku. Mungkin nanti saja kita lanjutkan lagi dengan secangkir kopi.
Tuesday, December 24, 2002
Wednesday, December 11, 2002
cerita setelah bangun tidur
:untuk kahar
sebenarnya aku tidak bermaksud menceritakanmu sebuah dongeng sesiang ini, sewaktu kita baru saja terbangun dari tidur kita yang begitu panjang setelah mengunci diri kita di dalam kamar berhari-hari lamanya, berpura-pura untuk kehilangan anak kuncinya walaupun terlihat jelas di luar kamar anak kunci itu selalu menempel begitu saja. tetapi ini memang bukan waktunya untuk mengukir sejarah, mencipta sejarah ataupun sebuah legenda. legenda yang entah memang nyata, pernah nyata atau tiada sama sekali hanya karangan mulut-mulut belaka.
aku teringat, satu kali sewaktu kita berposisi seperti ini, berpose seperti ini seperti patung maria atau maryam dan yesus atau isa setelah diturunkan dari salib kayu di gereja-gereja berlantai beku. dirimu yang tergolek begitu saja di pangkuanku dan berguman ibu. bisikan yang ditujukan kepada diriku seorang, bukan pada tembok atau jendela di sebelah kiri dan kanan kita. apakah kau begitu merindukan ibumu ataukah kau menganggap diriku sebagai pengganti ibumu. lalu mengapa kau tinggalkan pangkuannya sekarang setelah bertahun-tahun kau tidur di pangkuannya dan menemukan pangkuanku enam bulan purnama yang terakhir?
ini juga bukan waktunya untuk bermain menjadi ayah dan ibu, karena kita tidak sedang menginginkan seorang anak dan meragukan aborsi sebuah dosa. karena kita percaya reinkarnasi dan karma seperti budha, seperti hindu, seperti hindu-budha walau kita berada di tanah jawa, yang mengenal agama-agama melalui sansekerta, sehingga lahir hindu-jawa, budha-jawa, hindu-budha-jawa. karena lagi, kita akan menjadi agama apa saja, kita akan menjadi apa saja, ketika orang-orang di sekitar kita berusaha memisahkan kita karena alasan-alasan konyol yang sama sekali tidak beralasan, teriakmu setengah serius setengah bercanda. lalu anjing-anjing di luar berlolongan di siang sebolong siang ini, "asu!"katamu menyatakan sumpah serapahmu, "tongseng asu!"lagi katamu menyatakan rasa laparmu, tetapi sayangku jangan kau makan anjingku.
kita besar di antara dua lautan, maka kita sama-sama merindukan asinnya air laut mencuci muka kita. sepertinya ada saatnya kita bersama-sama menatap lautan, menatap laut-laut yang diarungi nenek moyang kita masing-masing. dari pulau ke pulau, dari samudera ke samudera, sampai tiba kita di belantara jawa. kencan mendadak setengah hari di pantai selatan jawa yang ombaknya hari itu terlalu mengerikan bahkan untuk dilihat sekalipun. tetapi tetap saja kita duduk di gundukan pasir itu berjam-jam lamanya, merenungi sesuatu, merenungi pasir-pasir biru, merenungi penyu-penyu di salah satu pertunjukan teater kota kita.
peta-peta kota menjadi buram, sewaktu bunyi motor melaju sedemikian rupa sampai kita lupa dimana letak rumah kita, kamar kita yang tanpa taman bunga itu. kita memang sama-sama penyuka jalanan, adakah kita akan mengarungi pulau ini berdua dengan berjalan di pinggiran pantai berhari-hari bahkan berbulan-bulan, pertama ke kampung halamanmu lalu setelah itu kita tentukan lautan mana berikutnya untuk diseberangi. hanya saja perlukah aku menyisakan remah-remah roti di sepanjang jalan agar masih ada jalan untuk menghindari kutukan-kutukan untuk tidak pulang.
:untuk kahar
sebenarnya aku tidak bermaksud menceritakanmu sebuah dongeng sesiang ini, sewaktu kita baru saja terbangun dari tidur kita yang begitu panjang setelah mengunci diri kita di dalam kamar berhari-hari lamanya, berpura-pura untuk kehilangan anak kuncinya walaupun terlihat jelas di luar kamar anak kunci itu selalu menempel begitu saja. tetapi ini memang bukan waktunya untuk mengukir sejarah, mencipta sejarah ataupun sebuah legenda. legenda yang entah memang nyata, pernah nyata atau tiada sama sekali hanya karangan mulut-mulut belaka.
aku teringat, satu kali sewaktu kita berposisi seperti ini, berpose seperti ini seperti patung maria atau maryam dan yesus atau isa setelah diturunkan dari salib kayu di gereja-gereja berlantai beku. dirimu yang tergolek begitu saja di pangkuanku dan berguman ibu. bisikan yang ditujukan kepada diriku seorang, bukan pada tembok atau jendela di sebelah kiri dan kanan kita. apakah kau begitu merindukan ibumu ataukah kau menganggap diriku sebagai pengganti ibumu. lalu mengapa kau tinggalkan pangkuannya sekarang setelah bertahun-tahun kau tidur di pangkuannya dan menemukan pangkuanku enam bulan purnama yang terakhir?
ini juga bukan waktunya untuk bermain menjadi ayah dan ibu, karena kita tidak sedang menginginkan seorang anak dan meragukan aborsi sebuah dosa. karena kita percaya reinkarnasi dan karma seperti budha, seperti hindu, seperti hindu-budha walau kita berada di tanah jawa, yang mengenal agama-agama melalui sansekerta, sehingga lahir hindu-jawa, budha-jawa, hindu-budha-jawa. karena lagi, kita akan menjadi agama apa saja, kita akan menjadi apa saja, ketika orang-orang di sekitar kita berusaha memisahkan kita karena alasan-alasan konyol yang sama sekali tidak beralasan, teriakmu setengah serius setengah bercanda. lalu anjing-anjing di luar berlolongan di siang sebolong siang ini, "asu!"katamu menyatakan sumpah serapahmu, "tongseng asu!"lagi katamu menyatakan rasa laparmu, tetapi sayangku jangan kau makan anjingku.
kita besar di antara dua lautan, maka kita sama-sama merindukan asinnya air laut mencuci muka kita. sepertinya ada saatnya kita bersama-sama menatap lautan, menatap laut-laut yang diarungi nenek moyang kita masing-masing. dari pulau ke pulau, dari samudera ke samudera, sampai tiba kita di belantara jawa. kencan mendadak setengah hari di pantai selatan jawa yang ombaknya hari itu terlalu mengerikan bahkan untuk dilihat sekalipun. tetapi tetap saja kita duduk di gundukan pasir itu berjam-jam lamanya, merenungi sesuatu, merenungi pasir-pasir biru, merenungi penyu-penyu di salah satu pertunjukan teater kota kita.
peta-peta kota menjadi buram, sewaktu bunyi motor melaju sedemikian rupa sampai kita lupa dimana letak rumah kita, kamar kita yang tanpa taman bunga itu. kita memang sama-sama penyuka jalanan, adakah kita akan mengarungi pulau ini berdua dengan berjalan di pinggiran pantai berhari-hari bahkan berbulan-bulan, pertama ke kampung halamanmu lalu setelah itu kita tentukan lautan mana berikutnya untuk diseberangi. hanya saja perlukah aku menyisakan remah-remah roti di sepanjang jalan agar masih ada jalan untuk menghindari kutukan-kutukan untuk tidak pulang.
Thursday, December 05, 2002
:kahar, lelaki ke delapan di tahun ke sembilan belas
mengertikah dirimu
satu bentuk kedekatan ini
sudah sampai pada titik leburnya
aku melihatmu di sebuah pantai
berdiri memandang lepas lautan
kau melihatku di sebuah kota
berdiri memandang gedung belantara
katakanlah apa yang kau lihat kali ini?
sebuah ikan paus merah*kah?
atau hanya hati kita yang sudah merah
lepas dari merah jambu
*judul cerpen SGA - ikan paus merah dalam kumpulan cerpen sepotong senja untuk pacarku
mengertikah dirimu
satu bentuk kedekatan ini
sudah sampai pada titik leburnya
aku melihatmu di sebuah pantai
berdiri memandang lepas lautan
kau melihatku di sebuah kota
berdiri memandang gedung belantara
katakanlah apa yang kau lihat kali ini?
sebuah ikan paus merah*kah?
atau hanya hati kita yang sudah merah
lepas dari merah jambu
*judul cerpen SGA - ikan paus merah dalam kumpulan cerpen sepotong senja untuk pacarku
Wednesday, December 04, 2002
Mirat Muda, Chairil Muda
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati
-di pegunungan 1943, ditulis 1949
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu
1946
Sajak Putih
buat tunanganku Mirat
bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...
1944
*sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati
-di pegunungan 1943, ditulis 1949
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu
1946
Sajak Putih
buat tunanganku Mirat
bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...
1944
*sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya
Tuesday, December 03, 2002
cerita sebelum tidur
untuk kahar
langit kamar semakin menyesakkan dada, seharusnya ini dongeng sebelum tidur tetapi sampai saat ini kita belum juga terlelap. sungguh aku merasakannya dari udara yang tertiup dari timur mata angin sampai ke barat ini. kita masing-masing menuju ke arah yang terlalu berlainan adanya, mencari kepulangan kita, mencari dimana letak rumah kita. sedangkan apa yang sedang kita bangun selama ini hanya beberapa rangka, beberapa tiang setengah jadi yang tak kunjung selesai.
aku mencari jejakku yang sudah lama hilang, di antara wajah kawan dan kenangan lama. kota lama yang sudah lama kutinggalkan dan nyaris enggan kujenguk walau hanya sekali waktu. aku hanya menemukan kepiluan yang ramai, keramaian yang menjadi begitu senyap, benar-benar sebuah tembok kota yang gelap suram tanpa cat. aku menemukan kota yang kehilangan mata air sekaligus air mata. tetapi langit disini tiba-tiba terlalu cerah, terlalu indah untuk itu semua.
kutemukan bantal yang bisu, guling yang kaku, dan ranjang yang beku tak bernyawa. subuh tiba dengan kantuknya yang terlalu dan matahari terbit begitu purba, mengulang suatu rutinitas yang sama berkali-kali. bumbu-bumbu menjelang pagi yang sudah basi. wajah pada kaca yang tidak juga terbasuh, lusuh dan luruh di antara tetesan air yang terlalu hangat untuk cuci muka.
seharusnya ini dongeng sebelum tidur, tetapi aku tidak menemukan jemariku di antara sela rambutmu. tidak menemukan tirai yang tersingkap sedikit oleh ujung kakimu. lagi-lagi tidak menemukan dadamu dan itu terlalu menyedihkan untuk persembahan pagi di kota yang semakin menyedihkan ini.
bgr-dini hari
untuk kahar
langit kamar semakin menyesakkan dada, seharusnya ini dongeng sebelum tidur tetapi sampai saat ini kita belum juga terlelap. sungguh aku merasakannya dari udara yang tertiup dari timur mata angin sampai ke barat ini. kita masing-masing menuju ke arah yang terlalu berlainan adanya, mencari kepulangan kita, mencari dimana letak rumah kita. sedangkan apa yang sedang kita bangun selama ini hanya beberapa rangka, beberapa tiang setengah jadi yang tak kunjung selesai.
aku mencari jejakku yang sudah lama hilang, di antara wajah kawan dan kenangan lama. kota lama yang sudah lama kutinggalkan dan nyaris enggan kujenguk walau hanya sekali waktu. aku hanya menemukan kepiluan yang ramai, keramaian yang menjadi begitu senyap, benar-benar sebuah tembok kota yang gelap suram tanpa cat. aku menemukan kota yang kehilangan mata air sekaligus air mata. tetapi langit disini tiba-tiba terlalu cerah, terlalu indah untuk itu semua.
kutemukan bantal yang bisu, guling yang kaku, dan ranjang yang beku tak bernyawa. subuh tiba dengan kantuknya yang terlalu dan matahari terbit begitu purba, mengulang suatu rutinitas yang sama berkali-kali. bumbu-bumbu menjelang pagi yang sudah basi. wajah pada kaca yang tidak juga terbasuh, lusuh dan luruh di antara tetesan air yang terlalu hangat untuk cuci muka.
seharusnya ini dongeng sebelum tidur, tetapi aku tidak menemukan jemariku di antara sela rambutmu. tidak menemukan tirai yang tersingkap sedikit oleh ujung kakimu. lagi-lagi tidak menemukan dadamu dan itu terlalu menyedihkan untuk persembahan pagi di kota yang semakin menyedihkan ini.
bgr-dini hari
Thursday, November 14, 2002
Wednesday, November 13, 2002
Sunday, November 10, 2002
Friday, November 08, 2002
Dua Tangisan pada Satu Malam
Cerpen Puthut EA
Ia seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar kucintai, juga aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kami saling membutuhkan dalam sebuah rentang waktu tertentu. Sebab begitulah pada dasarnya manusia, salah seorang bisa menggantikan yang lain, tapi bukan dan tidak pernah seutuhnya. Dan ada saat-saat seseorang dipaksa menemukan yang lain, untuk menggantikan keseluruhan atas kepergian orang yang berbeda. Aku membutuhkannya, ia membutuhkanku, hanya untuk rentang waktu tertentu.
Hidup ini mungkin disusun oleh bukan hanya tingkat kerumitan tertentu, tapi juga atas ketidaktepatan tertentu.
Aku membutuhkan seorang perempuan yang bawel, punya daya ingat tinggi, renyah, hangat, dan selalu bisa mengingatkanku di mana aku meninggalkan pena serta buku yang barusan kubaca, tentu sekalian mengingatkanku bahwa baru tadi pagi aku membeli kertas tisu sehingga tidak perlu beli lagi ketika aku harus keluar untuk mencari sebungkus rokok. Kutemui ia dalam diam yang cukup, tidak bawel, serta sering lupa menaruh jepit rambut dan kacamata.
Tapi, kami memang harus bertemu dan harus menjalin hubungan, sebab bukankah dunia memang disusun oleh tingkat ketidaktepatan tertentu?
Pada saat kami makan, ia memesan apa-apa yang aku pesan. Coba bandingkan dengan perempuan-perempuan terdahuluku yang semua nyaris sama dalam memperlakukanku, mereka tidak pernah memesan makanan yang aku pesan. Aku memesan daging berlemak, mereka, perempuan-perempuan yang pernah berhubungan denganku, memesan sayur-mayur. Aku memesan teh hangat, mereka memesan kalau tidak air putih pastilah air jeruk. Berbeda dengan perempuan yang satu ini, ia memesan makanan dan minuman yang sama dengan yang aku pesan. Bahkan, ketika aku membuat kopi di pagi dan malam hari, ia membuat juga dalam porsi yang lebih besar.
Lalu ia berubah fungsi sebagai teman biasa saja, walau pada saat-saat tertentu, kami masih saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ia sama seperti kawan laki-lakiku yang lain. Berbicara tentang sepak bola, merokok bersama sambil menonton acara televisi, berebut cepat ke kamar mandi karena sama-sama begadang hampir di tiap malam, berebut memakai sepeda motor sebab tidak suka naik bus atau taksi, rebutan membaca koran pagi yang dibaca pada sore hari. Kamar mandi kotor, cucian menggunung, dapur berantak-an, ruang makan sekaligus ruang nonton televisi berceceran sampah.
Tapi, aku tidak pernah menggerutu dan kesal. Dia juga. Kami menjalani hari-hari seperti itu dengan biasa. Ia hadir sama pentingnya dengan televisi, ia hadir sama tidak pentingnya dengan televisi.
Hingga aku memang benar-benar menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Sedangkan pada saat ia pergi sama seperti ketika aku melipat koran seusai dibaca. Sama seperti ketika aku harus melepas sepatu ketika pulang. Pada saat ia pergi kami masih sama-sama saling membagi senyum dan aku masih sempat menemukan kacamatanya yang tertinggal di atas monitor komputer. Membantu dan mengumpati barang-barang bawaannya yang tidak bisa masuk ke dalam tas besarnya.
Kami sempat bertemu dengan suasana mirip salah satu lampu di ujung gang lengang pada waktu lewat tengah malam tapi kami melewati hari-hari dengan biasa, tak penting amat. Dan kami menutup bersama sebuah perpisahan yang juga biasa dan tak penting amat.
Tapi ingatan-ingatanku atasnya, pada hari keenam setelah kepergiannya benar-benar membuatku menangis. Tangis yang tidak lagi biasa, tangis yang tidak bisa kupungkiri lagi, bahwa ada yang lenyap dalam hidupku. Dan, aku tidak menyesal menangis, aku merasa tumpahnya air mataku cukup membangun alasannya sendiri, bahwa memang ada yang penting dalam hidupku yang lenyap dan aku pantas menebusnya dengan air mata yang tumpah. Mungkin bahkan pada lain waktu akan kutebus lebih dari sekadar air mataku.
Tapi, aku masih mencoba meyakini bahwa aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Atau memang terkadang tidak ada hubungan antara cinta dan rasa sedih yang tidak masuk akal dan tiba-tiba? Pertanyaan itu tidak penting, tapi tiga hal ini penting bagiku. Pertama, apakah dia juga menangis pada malam keenam setelah dia pergi? Kedua, apakah tangisannya—jika ia menangis—juga tidak membutuhkan alasan-alasan penguat bahwa aku merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Ketiga, apakah ia sudah menemukan laki-laki lain?
Aku harus menemukan jawabannya.
Aku menangis pada hari keenam setelah kepergianku meninggalkannya. Meninggalkan? Ah, mungkin itu bukan kata yang tepat. Aku teramat sulit untuk menemukan kata yang tepat, tapi begini, aku menyukainya semenjak pertama bertemu dengannya. Apa yang aku sukai? Aku juga tidak tahu. Tapi laki-laki itu membuatku bergetar dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhku. Melapisi kulitku dengan radar-radar peka akan kehadirannya. Menjalin sampai nadi dan pikiranku. Beri maklumlah pada diriku. Aku seorang selebriti terkenal, muda, cantik, di mana-mana selalu mendapat perhatian besar. Tapi, laki-laki itu membuatku kembali ke masa lampau, empat lima tahun yang lalu, ketika aku masih seorang mahasiswi semester awal yang sibuk casting peran ini dan peran itu. Dia melihatku dengan tatap mata biasa. Bahwa, ia mengagumi kecantikanku, aku bisa merasakannya, itu pun dengan samar, tidak seperti orang lain. Tapi di hadapannya, segala ketenaranku mendadak seperti tak ada artinya, bahkan ketika aku hendak mengambil gelas berisi minuman di dekatnya. Ia hanya memberiku tempat, tersenyum lalu melenggang pergi dengan meninggalkan aroma tubuh tanpa parfum.
Aku adalah perempuan yang dicari-cari. Perempuan yang selalu ditunggu-tunggu kemunculannya dalam hal apa saja, dalam acara apa saja. Dan ia hadir, tanpa wajah yang menunggu kedatanganku, menunggu kemunculanku. Tidak menyambut segala kedatanganku dengan wajah berbinar. Laki-laki itu tidak seharusnya begitu, sebab ketika aku tidak bisa membuatnya butuh, maka aku harus bersiap, aku membutuhkannya. Tapi sejujurnya, perasaanku kepadanya begitu kuat pada kali pertama aku menatapnya.
Beruntunglah aku. Terbiasa memainkan berbagai peran dan menyembunyikan perasaan. Semua kusimpan dengan rapi, bahkan ketika aku bisa mengorek keterangan tentang laki-laki itu.
Aku berhasil mengenalnya lewat cara yang sengaja kurancang. Biasa. Aku ingin rancangan adegan yang dia bisa tahu, aku tidak sengaja untuk berkenalan dengannya. Lalu kami saling berbicara. Terlalu memukau! Suaranya yang tenang membuatku terayun-ayun di antara jeda kata yang diucapkannya. Ia seperti berbicara pada sekujur tubuhku. Dan memaksaku untuk terus-menerus mengais kesadaranku yang hampir lenyap ketika menghadapinya, mendengar suaranya, bersitatap dengannya. Aku harus memaksanya untuk duduk, sebab aku percaya ketenangan orang berdiri gampang dilumpuhkan. Menggenggam gelas minum erat-erat, tapi jelas itu tak bisa me-mungkiri apa yang kurasakan, sebab aku berkali-kali minta tambah air minum. Ia merayapi kesadaranku dengan selimut rasa tak tentu.
Kami semakin akrab. Tentu kami juga bercinta.
Aku membanjiri hidupnya dengan rasa yang bergelora. Menumpahkan apa yang kurasakan dengan segala cara yang aku bisa. Mencoba meyakinkan terus-menerus bahwa ia adalah laki-laki yang kudamba, dan aku adalah perempuan yang dia tunggu. Begitu kulakukan saban waktu. Tapi aku tahu, sangat tahu, laki-laki itu melakukan segalanya bersamaku dengan perasaan biasa. Ia tidak tenggelam dalam banjir rasaku.
Ia seorang aktris. Dia pikir aku bisa hanyut oleh sandiwara sialnya—yang mungkin sudah dimainkan dengan sungguh-sungguh pada banyak kekasihnya yang dulu. Aku pikir begitulah cara banyak perempuan untuk membuat seorang laki-laki bertekuk lutut dan menjadi gila. Ia akan memberimu perhatian yang tumpah-ruah. Seakan ikut menahan beban yang menimpa—awas, kadang-kadang beban itu sengaja diciptakan agar ia bisa membantu mengangkatnya. Diciptakannya dalam dada, keyakinan yang sempurna. Ruang-ruang ragu dimampatkan. Segala hal dipenuhi oleh kehadirannya.
Hingga suatu saat. Saat yang sangat tepat. Semua dicabutnya, semua ditinggalkan berlubang, rapuh, dan segalanya menjadi tidak terkendali. Kebutuhan atas dirinya jauh melampaui udara, air, dan makanan. Ter-sengal dan merasakan tiba-tiba langit menjadi atap besar yang siap menimpa. Kehilangan dia adalah malapetaka terkutuk yang tidak sanggup untuk diterima.
Serangan balik yang maha dahsyat. Tidak ada yang bisa lebih menjerumuskan lagi jika datang saat-saat seperti itu. Aku sangat tahu, sehingga sepandai-pandai ia menimbuni hidupku dengan segala rasa, aku sangat tahu di balik itu semua aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Aku sangat mencintainya. Tapi benar kata orang, cinta saja tidak cukup. Ada hal-hal lain selain segala yang kita rasakan terhadap seorang laki-laki. Bukan, sungguh bukan karena ia kurasakan tidak mau membalas segala yang kurasa-kan. Tapi aku pikir ada saat ketika kita memberi perhatian terus-menerus —bahkan semakin hari kita rasa semakin meningkat—maka memang ada kecewa yang akan menikam ketika itu semua dirasa biasa saja. Ia merasakannya dengan biasa, seolah aku dan perhatian yang kuberikan padanya adalah sepenggal kisah yang biasa ia tonton di televisi. Tak ada kekagetan, rasa bahagia, dan terima kasih.
Maaf, aku pada banyak hal bukan orang hebat. Aku memberi untuk mendapatkan sesuatu, paling tidak orang merasa bahagia karena pemberianku.
Lalu kuputuskan untuk pergi. Paling tidak aku berpijak pada alasan yang mungkin tepat. Jika aku tidak bisa membahagiakannya, maka aku memang harus pergi. Sebab kebahagiaanku dimulai dari sebuah kebahagiaan kecil di wajahnya.
Tapi aku menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Benar-benar menangis. Sendirian di kamarku yang menyimpan hampir seluruh bayangannya. Ku-pandangi benda-benda yang akrab dengan kehadirannya, lalu aku me-nangis lagi. Segala hal tiba-tiba menjadi setengah hilang, setengah melenyap, menjadi tidak seperti beberapa saat yang lalu, ketika ia hadir dalam segala tumpah-ruah peristiwa dan keping benda-benda.
Dan tiba-tiba aku terserang penyakit yang sangat kubenci: cemburu! Aku merasa ia pergi dan menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, dan ia membanjiri laki-laki itu dengan perhatiannya yang luar biasa. Dadaku sesak dan panas, napasku seperti terbakar. Aku menangis, menjerit, otakku ikut terbakar. Ruang berganti warna merah dan hitam. Aku meraung, telah benar-benar kehilangan dia.
Aku bangkit minum air dingin sebanyak-banyaknya, sebagian kupakai untuk mengguyur kepalaku. Lalu aku duduk, menyalakan rokok. Aku harus berpikir dengan tenang.
Aku petakan lagi sejarahku dengannya. Melacak dan meletakkan apa-apa yang bisa kuingat ketika bersamanya. Sejak pertemuan yang cukup membuatku kagum. Lalu bisa kuingat bagaimana ia memperlaku-kanku dengan baik, merawat dan melewati proses itu dengan riang dan rapi, mencoba memberiku kejutan-kejutan setiap saat. Tapi aku tahu di belakang semua itu—dan jangan-jangan ini semua karena tinggalan perhatiannya di kepalaku. Aku harus menanggapinya dengan dingin dan biasa saja. Tak peduli, tak mau peduli, sebab aku tidak mau sakit hati. Lalu aku terobos segala permainannya dengan permainanku. Aku berpikir tentang segala hal yang bisa membuatku bertahan dari serbuan perhatiannya. Hal-hal yang menurutku tidak kusukai, memesan makanan dan minuman yang sama denganku, berperilaku pelupa dan teledor seperti diriku, ruang-ruang yang berantakan. Aku harus menghadang dengan bayangan dan pikiranku, sebab jika melihat kenyataannya, aku pasti akan larut, pasti akan tenggelam dalam kepungan perhatiannya yang luar biasa. Bahkan, untuk hal-hal tertentu sudah sangat keterlaluan. Aku selalu pergi dengan taksi atau mobil jemputan. Aku selalu berpikir bahwa ia suka begadang, merokok, dan nonton sepak bola. Hal-hal yang mustahil dilakukan olehnya. Aku harus berpikir bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Tapi sekarang aku nyaris gila. Apa yang kutakutkan dan berusaha kutanggulangi sedini mungkin telah terjadi. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan ia pergi meninggalkanku. Tubuhku dibakar cemburu, sedang aku hanya punya air dingin untuk menghalaunya.
Tubuhku demam. Aku tidak bisa menerima kepergiannya.
Aku menangis pada malam ke-enam setelah kepergianku meninggalkannya. Sebab sore tadi, aku bertemu dengan laki-laki yang luar biasa pada acara pesta. Lalu aku teringat dia malam ini, dan menangis. Tangisan yang sewajarnya. Tangis perpisahan atas segala ingatanku kepadanya. Sebab besok malam aku akan kencan dengan laki-laki luar biasa yang kutemui sore tadi. *
*nemu cerpennya puthut di situs kompas
Cerpen Puthut EA
Ia seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar kucintai, juga aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kami saling membutuhkan dalam sebuah rentang waktu tertentu. Sebab begitulah pada dasarnya manusia, salah seorang bisa menggantikan yang lain, tapi bukan dan tidak pernah seutuhnya. Dan ada saat-saat seseorang dipaksa menemukan yang lain, untuk menggantikan keseluruhan atas kepergian orang yang berbeda. Aku membutuhkannya, ia membutuhkanku, hanya untuk rentang waktu tertentu.
Hidup ini mungkin disusun oleh bukan hanya tingkat kerumitan tertentu, tapi juga atas ketidaktepatan tertentu.
Aku membutuhkan seorang perempuan yang bawel, punya daya ingat tinggi, renyah, hangat, dan selalu bisa mengingatkanku di mana aku meninggalkan pena serta buku yang barusan kubaca, tentu sekalian mengingatkanku bahwa baru tadi pagi aku membeli kertas tisu sehingga tidak perlu beli lagi ketika aku harus keluar untuk mencari sebungkus rokok. Kutemui ia dalam diam yang cukup, tidak bawel, serta sering lupa menaruh jepit rambut dan kacamata.
Tapi, kami memang harus bertemu dan harus menjalin hubungan, sebab bukankah dunia memang disusun oleh tingkat ketidaktepatan tertentu?
Pada saat kami makan, ia memesan apa-apa yang aku pesan. Coba bandingkan dengan perempuan-perempuan terdahuluku yang semua nyaris sama dalam memperlakukanku, mereka tidak pernah memesan makanan yang aku pesan. Aku memesan daging berlemak, mereka, perempuan-perempuan yang pernah berhubungan denganku, memesan sayur-mayur. Aku memesan teh hangat, mereka memesan kalau tidak air putih pastilah air jeruk. Berbeda dengan perempuan yang satu ini, ia memesan makanan dan minuman yang sama dengan yang aku pesan. Bahkan, ketika aku membuat kopi di pagi dan malam hari, ia membuat juga dalam porsi yang lebih besar.
Lalu ia berubah fungsi sebagai teman biasa saja, walau pada saat-saat tertentu, kami masih saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ia sama seperti kawan laki-lakiku yang lain. Berbicara tentang sepak bola, merokok bersama sambil menonton acara televisi, berebut cepat ke kamar mandi karena sama-sama begadang hampir di tiap malam, berebut memakai sepeda motor sebab tidak suka naik bus atau taksi, rebutan membaca koran pagi yang dibaca pada sore hari. Kamar mandi kotor, cucian menggunung, dapur berantak-an, ruang makan sekaligus ruang nonton televisi berceceran sampah.
Tapi, aku tidak pernah menggerutu dan kesal. Dia juga. Kami menjalani hari-hari seperti itu dengan biasa. Ia hadir sama pentingnya dengan televisi, ia hadir sama tidak pentingnya dengan televisi.
Hingga aku memang benar-benar menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Sedangkan pada saat ia pergi sama seperti ketika aku melipat koran seusai dibaca. Sama seperti ketika aku harus melepas sepatu ketika pulang. Pada saat ia pergi kami masih sama-sama saling membagi senyum dan aku masih sempat menemukan kacamatanya yang tertinggal di atas monitor komputer. Membantu dan mengumpati barang-barang bawaannya yang tidak bisa masuk ke dalam tas besarnya.
Kami sempat bertemu dengan suasana mirip salah satu lampu di ujung gang lengang pada waktu lewat tengah malam tapi kami melewati hari-hari dengan biasa, tak penting amat. Dan kami menutup bersama sebuah perpisahan yang juga biasa dan tak penting amat.
Tapi ingatan-ingatanku atasnya, pada hari keenam setelah kepergiannya benar-benar membuatku menangis. Tangis yang tidak lagi biasa, tangis yang tidak bisa kupungkiri lagi, bahwa ada yang lenyap dalam hidupku. Dan, aku tidak menyesal menangis, aku merasa tumpahnya air mataku cukup membangun alasannya sendiri, bahwa memang ada yang penting dalam hidupku yang lenyap dan aku pantas menebusnya dengan air mata yang tumpah. Mungkin bahkan pada lain waktu akan kutebus lebih dari sekadar air mataku.
Tapi, aku masih mencoba meyakini bahwa aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Atau memang terkadang tidak ada hubungan antara cinta dan rasa sedih yang tidak masuk akal dan tiba-tiba? Pertanyaan itu tidak penting, tapi tiga hal ini penting bagiku. Pertama, apakah dia juga menangis pada malam keenam setelah dia pergi? Kedua, apakah tangisannya—jika ia menangis—juga tidak membutuhkan alasan-alasan penguat bahwa aku merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Ketiga, apakah ia sudah menemukan laki-laki lain?
Aku harus menemukan jawabannya.
Aku menangis pada hari keenam setelah kepergianku meninggalkannya. Meninggalkan? Ah, mungkin itu bukan kata yang tepat. Aku teramat sulit untuk menemukan kata yang tepat, tapi begini, aku menyukainya semenjak pertama bertemu dengannya. Apa yang aku sukai? Aku juga tidak tahu. Tapi laki-laki itu membuatku bergetar dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhku. Melapisi kulitku dengan radar-radar peka akan kehadirannya. Menjalin sampai nadi dan pikiranku. Beri maklumlah pada diriku. Aku seorang selebriti terkenal, muda, cantik, di mana-mana selalu mendapat perhatian besar. Tapi, laki-laki itu membuatku kembali ke masa lampau, empat lima tahun yang lalu, ketika aku masih seorang mahasiswi semester awal yang sibuk casting peran ini dan peran itu. Dia melihatku dengan tatap mata biasa. Bahwa, ia mengagumi kecantikanku, aku bisa merasakannya, itu pun dengan samar, tidak seperti orang lain. Tapi di hadapannya, segala ketenaranku mendadak seperti tak ada artinya, bahkan ketika aku hendak mengambil gelas berisi minuman di dekatnya. Ia hanya memberiku tempat, tersenyum lalu melenggang pergi dengan meninggalkan aroma tubuh tanpa parfum.
Aku adalah perempuan yang dicari-cari. Perempuan yang selalu ditunggu-tunggu kemunculannya dalam hal apa saja, dalam acara apa saja. Dan ia hadir, tanpa wajah yang menunggu kedatanganku, menunggu kemunculanku. Tidak menyambut segala kedatanganku dengan wajah berbinar. Laki-laki itu tidak seharusnya begitu, sebab ketika aku tidak bisa membuatnya butuh, maka aku harus bersiap, aku membutuhkannya. Tapi sejujurnya, perasaanku kepadanya begitu kuat pada kali pertama aku menatapnya.
Beruntunglah aku. Terbiasa memainkan berbagai peran dan menyembunyikan perasaan. Semua kusimpan dengan rapi, bahkan ketika aku bisa mengorek keterangan tentang laki-laki itu.
Aku berhasil mengenalnya lewat cara yang sengaja kurancang. Biasa. Aku ingin rancangan adegan yang dia bisa tahu, aku tidak sengaja untuk berkenalan dengannya. Lalu kami saling berbicara. Terlalu memukau! Suaranya yang tenang membuatku terayun-ayun di antara jeda kata yang diucapkannya. Ia seperti berbicara pada sekujur tubuhku. Dan memaksaku untuk terus-menerus mengais kesadaranku yang hampir lenyap ketika menghadapinya, mendengar suaranya, bersitatap dengannya. Aku harus memaksanya untuk duduk, sebab aku percaya ketenangan orang berdiri gampang dilumpuhkan. Menggenggam gelas minum erat-erat, tapi jelas itu tak bisa me-mungkiri apa yang kurasakan, sebab aku berkali-kali minta tambah air minum. Ia merayapi kesadaranku dengan selimut rasa tak tentu.
Kami semakin akrab. Tentu kami juga bercinta.
Aku membanjiri hidupnya dengan rasa yang bergelora. Menumpahkan apa yang kurasakan dengan segala cara yang aku bisa. Mencoba meyakinkan terus-menerus bahwa ia adalah laki-laki yang kudamba, dan aku adalah perempuan yang dia tunggu. Begitu kulakukan saban waktu. Tapi aku tahu, sangat tahu, laki-laki itu melakukan segalanya bersamaku dengan perasaan biasa. Ia tidak tenggelam dalam banjir rasaku.
Ia seorang aktris. Dia pikir aku bisa hanyut oleh sandiwara sialnya—yang mungkin sudah dimainkan dengan sungguh-sungguh pada banyak kekasihnya yang dulu. Aku pikir begitulah cara banyak perempuan untuk membuat seorang laki-laki bertekuk lutut dan menjadi gila. Ia akan memberimu perhatian yang tumpah-ruah. Seakan ikut menahan beban yang menimpa—awas, kadang-kadang beban itu sengaja diciptakan agar ia bisa membantu mengangkatnya. Diciptakannya dalam dada, keyakinan yang sempurna. Ruang-ruang ragu dimampatkan. Segala hal dipenuhi oleh kehadirannya.
Hingga suatu saat. Saat yang sangat tepat. Semua dicabutnya, semua ditinggalkan berlubang, rapuh, dan segalanya menjadi tidak terkendali. Kebutuhan atas dirinya jauh melampaui udara, air, dan makanan. Ter-sengal dan merasakan tiba-tiba langit menjadi atap besar yang siap menimpa. Kehilangan dia adalah malapetaka terkutuk yang tidak sanggup untuk diterima.
Serangan balik yang maha dahsyat. Tidak ada yang bisa lebih menjerumuskan lagi jika datang saat-saat seperti itu. Aku sangat tahu, sehingga sepandai-pandai ia menimbuni hidupku dengan segala rasa, aku sangat tahu di balik itu semua aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Aku sangat mencintainya. Tapi benar kata orang, cinta saja tidak cukup. Ada hal-hal lain selain segala yang kita rasakan terhadap seorang laki-laki. Bukan, sungguh bukan karena ia kurasakan tidak mau membalas segala yang kurasa-kan. Tapi aku pikir ada saat ketika kita memberi perhatian terus-menerus —bahkan semakin hari kita rasa semakin meningkat—maka memang ada kecewa yang akan menikam ketika itu semua dirasa biasa saja. Ia merasakannya dengan biasa, seolah aku dan perhatian yang kuberikan padanya adalah sepenggal kisah yang biasa ia tonton di televisi. Tak ada kekagetan, rasa bahagia, dan terima kasih.
Maaf, aku pada banyak hal bukan orang hebat. Aku memberi untuk mendapatkan sesuatu, paling tidak orang merasa bahagia karena pemberianku.
Lalu kuputuskan untuk pergi. Paling tidak aku berpijak pada alasan yang mungkin tepat. Jika aku tidak bisa membahagiakannya, maka aku memang harus pergi. Sebab kebahagiaanku dimulai dari sebuah kebahagiaan kecil di wajahnya.
Tapi aku menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Benar-benar menangis. Sendirian di kamarku yang menyimpan hampir seluruh bayangannya. Ku-pandangi benda-benda yang akrab dengan kehadirannya, lalu aku me-nangis lagi. Segala hal tiba-tiba menjadi setengah hilang, setengah melenyap, menjadi tidak seperti beberapa saat yang lalu, ketika ia hadir dalam segala tumpah-ruah peristiwa dan keping benda-benda.
Dan tiba-tiba aku terserang penyakit yang sangat kubenci: cemburu! Aku merasa ia pergi dan menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, dan ia membanjiri laki-laki itu dengan perhatiannya yang luar biasa. Dadaku sesak dan panas, napasku seperti terbakar. Aku menangis, menjerit, otakku ikut terbakar. Ruang berganti warna merah dan hitam. Aku meraung, telah benar-benar kehilangan dia.
Aku bangkit minum air dingin sebanyak-banyaknya, sebagian kupakai untuk mengguyur kepalaku. Lalu aku duduk, menyalakan rokok. Aku harus berpikir dengan tenang.
Aku petakan lagi sejarahku dengannya. Melacak dan meletakkan apa-apa yang bisa kuingat ketika bersamanya. Sejak pertemuan yang cukup membuatku kagum. Lalu bisa kuingat bagaimana ia memperlaku-kanku dengan baik, merawat dan melewati proses itu dengan riang dan rapi, mencoba memberiku kejutan-kejutan setiap saat. Tapi aku tahu di belakang semua itu—dan jangan-jangan ini semua karena tinggalan perhatiannya di kepalaku. Aku harus menanggapinya dengan dingin dan biasa saja. Tak peduli, tak mau peduli, sebab aku tidak mau sakit hati. Lalu aku terobos segala permainannya dengan permainanku. Aku berpikir tentang segala hal yang bisa membuatku bertahan dari serbuan perhatiannya. Hal-hal yang menurutku tidak kusukai, memesan makanan dan minuman yang sama denganku, berperilaku pelupa dan teledor seperti diriku, ruang-ruang yang berantakan. Aku harus menghadang dengan bayangan dan pikiranku, sebab jika melihat kenyataannya, aku pasti akan larut, pasti akan tenggelam dalam kepungan perhatiannya yang luar biasa. Bahkan, untuk hal-hal tertentu sudah sangat keterlaluan. Aku selalu pergi dengan taksi atau mobil jemputan. Aku selalu berpikir bahwa ia suka begadang, merokok, dan nonton sepak bola. Hal-hal yang mustahil dilakukan olehnya. Aku harus berpikir bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Tapi sekarang aku nyaris gila. Apa yang kutakutkan dan berusaha kutanggulangi sedini mungkin telah terjadi. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan ia pergi meninggalkanku. Tubuhku dibakar cemburu, sedang aku hanya punya air dingin untuk menghalaunya.
Tubuhku demam. Aku tidak bisa menerima kepergiannya.
Aku menangis pada malam ke-enam setelah kepergianku meninggalkannya. Sebab sore tadi, aku bertemu dengan laki-laki yang luar biasa pada acara pesta. Lalu aku teringat dia malam ini, dan menangis. Tangisan yang sewajarnya. Tangis perpisahan atas segala ingatanku kepadanya. Sebab besok malam aku akan kencan dengan laki-laki luar biasa yang kutemui sore tadi. *
*nemu cerpennya puthut di situs kompas
pk. 07.00
di dalam sajak kau gali maut dengan tanganmu sendiri, dengan jemari
yang telah memperkosa ibumu, mencerabut zakar ayahmu.
kau bilang itu kubur, padahal hanya dengkur. lalu kau bacakan
dongeng sebelum tidur, yang kau pungut dari televisi atau koran pagi
atau obrolan sore
warung kopi, kau hamparkan di tubuhku
selimut tebal, membiarkanku sembunyi dipeluk mimpi.
esoknya,
matahari mencubit mataku. kau baru saja terjaga
membuka jendela dan berdiri di sana
menanggung sejarah yang tertanam di punggungmu.
kau rindukan malaikat yang akan merobek dada dan merampas empedumu
yang mengajarimu membaca alif qaf ra
sampai kau lari terbirit pulang ke rumah.
"tapi kita bukan nabi," keluhmu.
jam dinding menunjuk pukul tujuh.
-nuruddin asyhadie
di dalam sajak kau gali maut dengan tanganmu sendiri, dengan jemari
yang telah memperkosa ibumu, mencerabut zakar ayahmu.
kau bilang itu kubur, padahal hanya dengkur. lalu kau bacakan
dongeng sebelum tidur, yang kau pungut dari televisi atau koran pagi
atau obrolan sore
warung kopi, kau hamparkan di tubuhku
selimut tebal, membiarkanku sembunyi dipeluk mimpi.
esoknya,
matahari mencubit mataku. kau baru saja terjaga
membuka jendela dan berdiri di sana
menanggung sejarah yang tertanam di punggungmu.
kau rindukan malaikat yang akan merobek dada dan merampas empedumu
yang mengajarimu membaca alif qaf ra
sampai kau lari terbirit pulang ke rumah.
"tapi kita bukan nabi," keluhmu.
jam dinding menunjuk pukul tujuh.
-nuruddin asyhadie
I.
kulihat kereta api berjalan
manusia-manusia berdesakan turun
jatuh ke tanah
menjadi serpih-serpihan
sudah begitu lamakah kita menjadi debu di mata mereka?
II.
aku melewati kota-kota hanya untuk mengerti bagaimana hilangnya peradaban di antaranya
hilangnya manusia-manusia dari permukaan bumi
lenyapnya tuhan dimana-mana
dan kekosongan menjadi begitu penuh
dan ingatan-ingatan menjadi lupa
sepanjang jalan yogya-bogor
kulihat kereta api berjalan
manusia-manusia berdesakan turun
jatuh ke tanah
menjadi serpih-serpihan
sudah begitu lamakah kita menjadi debu di mata mereka?
II.
aku melewati kota-kota hanya untuk mengerti bagaimana hilangnya peradaban di antaranya
hilangnya manusia-manusia dari permukaan bumi
lenyapnya tuhan dimana-mana
dan kekosongan menjadi begitu penuh
dan ingatan-ingatan menjadi lupa
sepanjang jalan yogya-bogor
detak-detak jantung berdetakan seiring jam dinding dan langit-langit retak menjatuhi kita. jalan kita masih amat panjang, kita tidak akan berhenti sekarang. sekarang genggamlah jemariku sampai kita benar-benar terlelap. biarkanlah kita jalani apa yang ada di depan kita sekarang. untuk malam ini tidurlah, tidurlah selagi angin malam masih sejuk dan kedua tubuh kita masih hangat.
sungguh, sayangku, aku tidak peduli apa kata mereka...
yk-71102
sungguh, sayangku, aku tidak peduli apa kata mereka...
yk-71102
Sunday, November 03, 2002
tetapi saya masih disini, memelukmu seperti ini. memeluk diri dan tidak lagi mengenali yang mana milikku dan mana milikmu. saya sudah lupa, dimana seharusnya kita berhenti, dimana kita seharusnya menarik nafas tanpa mengacaukan suhu udara di sekitar kita. lalu saya mulai menggilai apa-apa yang di sekitar saya, termasuk semua segala pasang benda dan mata yang sama-sama kita taruh di atas meja pagi itu. tetapi lagi-lagi saya tidak mengerti, mengapa saya masih disini lagi
Sunday, October 27, 2002
Monday, October 07, 2002
segores-dua gores catatan sambil lalu...
Bendasari, 13 September 2002
Lalu sampai sejauh inilah kita semua melangkah, sejauh depa-depa dan jarak-jarak yang ada. Ada kalanya kuingat ketika angin masih menerpa kulit pipi, juga butiran debu yang mencolok tepat pada pinggiran kelopak mata. Mataku dan juga matamu, seketika kita sama-sama terkatup dalam hitungan kepersekian detik dari apa yang disebut waktu. Aku juga menemukan sesuatu yang menarik mataku, cincin-cincin pada jari, tangan pada pinggang, pinggangmu. Goresan-goresan luka pada alismu, titik -titik pada punggungmu. Semua letak, lekuk geografis tubuhmu.
Dan kau masih lelap, masih tetap. Sedangkan aku masih mencari kata-kata tentangmu.
Tiba-tiba semuanya serasa berputar, ingatan-ingatan terlempar, menabrak dinding-dinding kamar. Lagi tanpa meninggalkan gema-gema yang memekakkan. Aku tak ingat lagi dimana kutemukan tanganmu, tak ingat dimana letak balutan kedua kakimu. Tak ingat sungguh, setelah aku ditelan mimpi-mimpi yang sudah menganggu kita berdua di malam-malam yang kesekian. Ruangan berputar dan tubuhku goyah, lenyap pada entah, lenyap pada titik dimana kita bermula. Mula bapa, mula ibu, mula tubuh, mula gerak. Sepintas malam gelap, tangan dimana-dimana tangan, gerak dimana-mana gerak.
Dimana lalu tatapanmu malam itu, yang gelap pekat.
Aku luluh dan masih sungguh tak ingat. Cahaya-cahaya yang tanggung merasuki pandanganku, satu frame utuh, lalu setengah, lalu seperempat dan kosong. Muncul wajah-wajah, raut muka, seringai urat muka, dan terakhir terbukalah luka-luka.
Lihatlah tubuhku yang penuh luka tetapi tidak dosa, karena kita berdua tidak percaya akan dosa.
Satu garis, titik-titik, besar atau kecil tetap meninggalkan bekas yang kentara. Putih di antara coklat, coklat di antara putih, biru juga hitam juga terkadang, yang jelas pasti berbeda. Seperti tato alam, seperti tinta hitam puisi pada secarik kertas putih bersih. Warna-warna muram, tetapi cerah bila mengalir darah. Hati-hati dengan hati kita yang sudah tentu menyimpan setangkup luka rahasia yang berbahaya.
Suatu hari kau membuka celana, mencari-cari celana dan menemukan celana-celana di dalam tumpukan tasku. Celana-celanaku. Sebelumnya mari kucari sebuah buku puisi “Celana” yang bersampul putih kuning. Buku-buku puisiku yang tertinggal di suatu kamar, kamarku di kota lain yang berupa ruang tunggu, menungguku sampai jauh berdebu.
Bendasari, 22 September 2002
Cinta itu memang terkadang buta dan gelap mata.
Aku pernah merasakan cemburu yang sesuai dengan lagu, cemburu yang membunuh, mencipta luka dan menggores hati. Tetapi sekarang tak lagi bersisa kecuali diam yang buta. Lebih maut dari maut, lebih abadi dari surga-neraka. Kediaman yang ada kalanya begitu menyiksa. Aku merasa dan kau juga merasa.
Kala memang ada waktunya, waktu adalah kala. Dalam yang begitu rindu dendam, merunyakkan segala, begitu spontan dan seketika. Aku sebenarnya hanya ingin berhenti menengok sosok lelaki yang mengundang rindu dendam itu. Hanya menengok, mata yang mengandung ekstasi hidup. Mata yang sebetulnya sedang lelah, mata-mata kita yang juga merah lelah. Kemudian semuanya berubah jadi amarah.
Lelaki itu sudah hilang dalam huruf demi huruf, kata demi kata, karena terlalu banyak yang sudah tertuliskan olehnya dan aku bosan. Sedikit muak. Lalu aku terhenyak hanya untuk menemukan matamu. Yang liar, yang juga jalang.
Tak sukakah kau kusebut jalang?
Tidak hanya matamu yang kutemukan tetapi juga rasa, kekonyolan kanak remaja yang kukira sudah hilang, habis tanpa sisa. Aku dapat tertawa sederhana, mengalirkan airmata karena sesaknya dada, dan juga buang gas cuma-cuma. Di depanmu hanya, tanpa mengerti kenapa.
Cinta itu memang terkadang buta dan kasat mata.
Kukira tak harus kujawab semuanya dengan sepasang mata. Aku ingat malam yang telah lalu di antara gawang sepak bola dan alun-alun utara kota. Tiga buah rokok kretek dan satu bungkus permen rasa mint murahan. Lalu lalang motor, malam minggu, manusia sepasang-sepasang, warung angkringan malam-malam, dan wedang hangat-hangat. Genggam-peluk-cium dan selanjutnya terserah anda memang, gunakanlah selalu kondom begitu kata sepotong iklan. Bicara dan bicara. Bulan berkata pada langit mendung, malam yang romantis demikianlah adanya. Kita masih ada di antara gawang sepak bola dan alun-alun utara kota. Asap-asap mengepul dan sekali waktu suara kita serak, mata kita berkaca-kaca. Sembari menelanjangi rasa, menelanjangi diri kita.
Saat ini aku sedang jengah, sedikit resah, tidak bisa tidur seperti biasa. Aku ingin kembali pada kata-kata, pada teks dan aroma lembaran buku tua. Selebihnya aku ingin dadamu malam ini sedekat alis mata.
Bendasari, 26 September 2002
Pecah terkadang sesuatu yang tadinya satu, menyebar-sebar. Keteraturan lalu kekacauan, kekacauan lalu keteraturan. Suatu hukum, suatu siklus yang sepertinya tidak akan berhenti. Koin bersisi dua. Seimbang di tengah-tengah untuk beberapa saat lalu jatuh pada satu sisi yang menyatakan kepastian.
Adakalanya kita semua berhenti dan berjalan sendiri-sendiri. Adakalanya juga kita sama-sama berhenti dan melaju bersama-sama. Tetapi saat ini kita butuh waktu, butuh berpikir ulang tentang segala sesuatu yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.
Marilah kita saling mengosongkan, membuang apa yang perlu dibuang, tinggalkan apa yang perlu ditinggalkan, sampai ada saatnya kita bertemu di persimpangan jalan. Untuk saat ini hanya ingin kutitipkan sebuah puisi untuk kawan-kawan.
Cinta begitu sederhana
Sehingga kita tidak saling merasa
Bersama
Hingga habis semua
Ditelan luka doa
Kita semua begitu sederhana
Terkadang
Sehingga mati, makan, mandi, tidur bersama
Dalam suka duka
Hingga tidak terlupa
Hingga hilang
Masih ditelan luka doa
Bendasari, 30 September 2002
Ciuman itu memulai semua. Seharusnya tidak terjadi.
Seharusnya benar-benar tidak terjadi, cukup ngarai, tikar dan selimut untuk menghangatkan suasana malam yang betul-betul sebenarnya membekukan. Beku sampai ke dalam hati. Mengundang gelisah sungguh, sehingga sekarang terlempar kata-kata yang seharusnya hanya untukmu.
Seperti inikah aku?
Kegilaan sedang menyerang kita masing-masing. Alur yang tidak mengalir dan suasana yang tidak juga mencair. Sampai orang-orang terakhir, masih bisakah kita bertahan mempertahankan dulu yang kita anggap mimpi-mimpi kita bersama. Kita semua butuh bicara dengan berpasang-pasang mata.
Seperti inikah kami?
Kita, kau, aku harus sama-sama membuka luka. Di antara kita berdua lalu dengan kawan-kawan semua. Kita harus bercinta dimana-mana tetapi memang bukan seperti ini caranya.
Bendasari, 12 Oktober 2002
Kesetaraan ini mengarah kemana jika kita bicara sedikit tentang dasar-dasar sifat manusia. Ada yang membuatku sedikit berpikir, cukup sinis dan sedikit terlalu sarkas terkadang. Sampai ada kehampaan sejenak, sampai ada sebentuk jeda, sampai waktunya di antara daun-daun untuk jatuh ke tanah.
Tidak ada yang abadi, memang hanya lingkaran setan, orang-orang bilang.
Aku teringat dengan berita-berita, lembaran-lembaran koran, majalah atau apa saja yang bisa terlihat dan terasakan. Mereka membawakanku berbungkah-bungkah gelisah, berbungkah-bungkah resah. Mereka memojokkanku untuk menjadi sungguh-sungguh gila. Lagi dan kemudian aku terpaku pada aspal jalanan yang penuh dengan tutup-tutup botol kaleng. Suatu hiasan di sepanjang jalan kota ini yang menuju laut Selatan. Kita berhenti pada kaleng-kaleng soda, kaleng beling kaca yang menawarkan seteguk dua teguk sendawa. Mengeluarkan secercah udara sejenak dan menghantam rasa-rasa.
Sekilas kulihat sosok perempuan itu, yang membuatku terdiam sejenak untuk entah berbuat apa selanjutnya. Perempuan itu adalah ibumu. Lalu aku seperti rindu akan ibu, tetapi tidak aku masih juga tidak pulang dan masih merasa bukan waktunya untuk pulang. Tepatkah itu kukatakan ketika aku membayangkan kedua orangtuaku menungguku dengan sangat di tempat yang bernama rumah itu? Entah, aku benar-benar masih juga tidak akan pulang. Aku masih tetap akan mencari dadamu untuk pulang. Konyol memang, terlalu jujur dan lugu. Itulah yang kurasakan akhir-akhir ini, tak ada kantuk, hanya buku-buku dan asap-asap rokok yang berusaha meninabobokanku untuk satu malam saja. Sesuatu kejujuran yang menggelikan, dadamu itu. Membuatku kembali menghitung waktu-waktu dan memaki diri sendiri. Sekali lagi memaki dengan konyol dan menggelikan.
Aku memang tengah membuat gila diriku, seperempat, setengah lalu penuh gila. Gila dengan semua kekacauan-kekacauan yang tidak terlihat. Mengerikan. Jika ternyata kegilaan ini begitu penuh dengan kekosongan dan hidup benar-benar sebuah bentuk ironi komedi yang betul-betul menggelitik perut roh-roh dan tuhan-tuhan gila.
Dada-dada bicara, dengan buah atau tanpa, semua bicara. Ini dadaku dan ini dadamu, ayo perlihatkan semua. Toh, kita semua masih dada-dada yang bicara kian kemari. Membusung dan membungkuk dengan bantuan punggung. Ayo, ayo, dada-dada mari kita tetap bicara.
Bendasari, 13 September 2002
Lalu sampai sejauh inilah kita semua melangkah, sejauh depa-depa dan jarak-jarak yang ada. Ada kalanya kuingat ketika angin masih menerpa kulit pipi, juga butiran debu yang mencolok tepat pada pinggiran kelopak mata. Mataku dan juga matamu, seketika kita sama-sama terkatup dalam hitungan kepersekian detik dari apa yang disebut waktu. Aku juga menemukan sesuatu yang menarik mataku, cincin-cincin pada jari, tangan pada pinggang, pinggangmu. Goresan-goresan luka pada alismu, titik -titik pada punggungmu. Semua letak, lekuk geografis tubuhmu.
Dan kau masih lelap, masih tetap. Sedangkan aku masih mencari kata-kata tentangmu.
Tiba-tiba semuanya serasa berputar, ingatan-ingatan terlempar, menabrak dinding-dinding kamar. Lagi tanpa meninggalkan gema-gema yang memekakkan. Aku tak ingat lagi dimana kutemukan tanganmu, tak ingat dimana letak balutan kedua kakimu. Tak ingat sungguh, setelah aku ditelan mimpi-mimpi yang sudah menganggu kita berdua di malam-malam yang kesekian. Ruangan berputar dan tubuhku goyah, lenyap pada entah, lenyap pada titik dimana kita bermula. Mula bapa, mula ibu, mula tubuh, mula gerak. Sepintas malam gelap, tangan dimana-dimana tangan, gerak dimana-mana gerak.
Dimana lalu tatapanmu malam itu, yang gelap pekat.
Aku luluh dan masih sungguh tak ingat. Cahaya-cahaya yang tanggung merasuki pandanganku, satu frame utuh, lalu setengah, lalu seperempat dan kosong. Muncul wajah-wajah, raut muka, seringai urat muka, dan terakhir terbukalah luka-luka.
Lihatlah tubuhku yang penuh luka tetapi tidak dosa, karena kita berdua tidak percaya akan dosa.
Satu garis, titik-titik, besar atau kecil tetap meninggalkan bekas yang kentara. Putih di antara coklat, coklat di antara putih, biru juga hitam juga terkadang, yang jelas pasti berbeda. Seperti tato alam, seperti tinta hitam puisi pada secarik kertas putih bersih. Warna-warna muram, tetapi cerah bila mengalir darah. Hati-hati dengan hati kita yang sudah tentu menyimpan setangkup luka rahasia yang berbahaya.
Suatu hari kau membuka celana, mencari-cari celana dan menemukan celana-celana di dalam tumpukan tasku. Celana-celanaku. Sebelumnya mari kucari sebuah buku puisi “Celana” yang bersampul putih kuning. Buku-buku puisiku yang tertinggal di suatu kamar, kamarku di kota lain yang berupa ruang tunggu, menungguku sampai jauh berdebu.
Bendasari, 22 September 2002
Cinta itu memang terkadang buta dan gelap mata.
Aku pernah merasakan cemburu yang sesuai dengan lagu, cemburu yang membunuh, mencipta luka dan menggores hati. Tetapi sekarang tak lagi bersisa kecuali diam yang buta. Lebih maut dari maut, lebih abadi dari surga-neraka. Kediaman yang ada kalanya begitu menyiksa. Aku merasa dan kau juga merasa.
Kala memang ada waktunya, waktu adalah kala. Dalam yang begitu rindu dendam, merunyakkan segala, begitu spontan dan seketika. Aku sebenarnya hanya ingin berhenti menengok sosok lelaki yang mengundang rindu dendam itu. Hanya menengok, mata yang mengandung ekstasi hidup. Mata yang sebetulnya sedang lelah, mata-mata kita yang juga merah lelah. Kemudian semuanya berubah jadi amarah.
Lelaki itu sudah hilang dalam huruf demi huruf, kata demi kata, karena terlalu banyak yang sudah tertuliskan olehnya dan aku bosan. Sedikit muak. Lalu aku terhenyak hanya untuk menemukan matamu. Yang liar, yang juga jalang.
Tak sukakah kau kusebut jalang?
Tidak hanya matamu yang kutemukan tetapi juga rasa, kekonyolan kanak remaja yang kukira sudah hilang, habis tanpa sisa. Aku dapat tertawa sederhana, mengalirkan airmata karena sesaknya dada, dan juga buang gas cuma-cuma. Di depanmu hanya, tanpa mengerti kenapa.
Cinta itu memang terkadang buta dan kasat mata.
Kukira tak harus kujawab semuanya dengan sepasang mata. Aku ingat malam yang telah lalu di antara gawang sepak bola dan alun-alun utara kota. Tiga buah rokok kretek dan satu bungkus permen rasa mint murahan. Lalu lalang motor, malam minggu, manusia sepasang-sepasang, warung angkringan malam-malam, dan wedang hangat-hangat. Genggam-peluk-cium dan selanjutnya terserah anda memang, gunakanlah selalu kondom begitu kata sepotong iklan. Bicara dan bicara. Bulan berkata pada langit mendung, malam yang romantis demikianlah adanya. Kita masih ada di antara gawang sepak bola dan alun-alun utara kota. Asap-asap mengepul dan sekali waktu suara kita serak, mata kita berkaca-kaca. Sembari menelanjangi rasa, menelanjangi diri kita.
Saat ini aku sedang jengah, sedikit resah, tidak bisa tidur seperti biasa. Aku ingin kembali pada kata-kata, pada teks dan aroma lembaran buku tua. Selebihnya aku ingin dadamu malam ini sedekat alis mata.
Bendasari, 26 September 2002
Pecah terkadang sesuatu yang tadinya satu, menyebar-sebar. Keteraturan lalu kekacauan, kekacauan lalu keteraturan. Suatu hukum, suatu siklus yang sepertinya tidak akan berhenti. Koin bersisi dua. Seimbang di tengah-tengah untuk beberapa saat lalu jatuh pada satu sisi yang menyatakan kepastian.
Adakalanya kita semua berhenti dan berjalan sendiri-sendiri. Adakalanya juga kita sama-sama berhenti dan melaju bersama-sama. Tetapi saat ini kita butuh waktu, butuh berpikir ulang tentang segala sesuatu yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.
Marilah kita saling mengosongkan, membuang apa yang perlu dibuang, tinggalkan apa yang perlu ditinggalkan, sampai ada saatnya kita bertemu di persimpangan jalan. Untuk saat ini hanya ingin kutitipkan sebuah puisi untuk kawan-kawan.
Cinta begitu sederhana
Sehingga kita tidak saling merasa
Bersama
Hingga habis semua
Ditelan luka doa
Kita semua begitu sederhana
Terkadang
Sehingga mati, makan, mandi, tidur bersama
Dalam suka duka
Hingga tidak terlupa
Hingga hilang
Masih ditelan luka doa
Bendasari, 30 September 2002
Ciuman itu memulai semua. Seharusnya tidak terjadi.
Seharusnya benar-benar tidak terjadi, cukup ngarai, tikar dan selimut untuk menghangatkan suasana malam yang betul-betul sebenarnya membekukan. Beku sampai ke dalam hati. Mengundang gelisah sungguh, sehingga sekarang terlempar kata-kata yang seharusnya hanya untukmu.
Seperti inikah aku?
Kegilaan sedang menyerang kita masing-masing. Alur yang tidak mengalir dan suasana yang tidak juga mencair. Sampai orang-orang terakhir, masih bisakah kita bertahan mempertahankan dulu yang kita anggap mimpi-mimpi kita bersama. Kita semua butuh bicara dengan berpasang-pasang mata.
Seperti inikah kami?
Kita, kau, aku harus sama-sama membuka luka. Di antara kita berdua lalu dengan kawan-kawan semua. Kita harus bercinta dimana-mana tetapi memang bukan seperti ini caranya.
Bendasari, 12 Oktober 2002
Kesetaraan ini mengarah kemana jika kita bicara sedikit tentang dasar-dasar sifat manusia. Ada yang membuatku sedikit berpikir, cukup sinis dan sedikit terlalu sarkas terkadang. Sampai ada kehampaan sejenak, sampai ada sebentuk jeda, sampai waktunya di antara daun-daun untuk jatuh ke tanah.
Tidak ada yang abadi, memang hanya lingkaran setan, orang-orang bilang.
Aku teringat dengan berita-berita, lembaran-lembaran koran, majalah atau apa saja yang bisa terlihat dan terasakan. Mereka membawakanku berbungkah-bungkah gelisah, berbungkah-bungkah resah. Mereka memojokkanku untuk menjadi sungguh-sungguh gila. Lagi dan kemudian aku terpaku pada aspal jalanan yang penuh dengan tutup-tutup botol kaleng. Suatu hiasan di sepanjang jalan kota ini yang menuju laut Selatan. Kita berhenti pada kaleng-kaleng soda, kaleng beling kaca yang menawarkan seteguk dua teguk sendawa. Mengeluarkan secercah udara sejenak dan menghantam rasa-rasa.
Sekilas kulihat sosok perempuan itu, yang membuatku terdiam sejenak untuk entah berbuat apa selanjutnya. Perempuan itu adalah ibumu. Lalu aku seperti rindu akan ibu, tetapi tidak aku masih juga tidak pulang dan masih merasa bukan waktunya untuk pulang. Tepatkah itu kukatakan ketika aku membayangkan kedua orangtuaku menungguku dengan sangat di tempat yang bernama rumah itu? Entah, aku benar-benar masih juga tidak akan pulang. Aku masih tetap akan mencari dadamu untuk pulang. Konyol memang, terlalu jujur dan lugu. Itulah yang kurasakan akhir-akhir ini, tak ada kantuk, hanya buku-buku dan asap-asap rokok yang berusaha meninabobokanku untuk satu malam saja. Sesuatu kejujuran yang menggelikan, dadamu itu. Membuatku kembali menghitung waktu-waktu dan memaki diri sendiri. Sekali lagi memaki dengan konyol dan menggelikan.
Aku memang tengah membuat gila diriku, seperempat, setengah lalu penuh gila. Gila dengan semua kekacauan-kekacauan yang tidak terlihat. Mengerikan. Jika ternyata kegilaan ini begitu penuh dengan kekosongan dan hidup benar-benar sebuah bentuk ironi komedi yang betul-betul menggelitik perut roh-roh dan tuhan-tuhan gila.
Dada-dada bicara, dengan buah atau tanpa, semua bicara. Ini dadaku dan ini dadamu, ayo perlihatkan semua. Toh, kita semua masih dada-dada yang bicara kian kemari. Membusung dan membungkuk dengan bantuan punggung. Ayo, ayo, dada-dada mari kita tetap bicara.
Monday, September 30, 2002
Monday, September 23, 2002
Friday, August 02, 2002
Thursday, July 25, 2002
teringat aku pada gesekan sebuah biola tua, kayunya sedikit lapuk tetapi masih menawan menggoda. teringat aku malam yang dingin itu dimana kubaringkan lelap pada bangku-bangku keras dekat pendopo itu. teringat aku malam terakhir yang kita habiskan bersama dalam gelap, kita yang saling mencari sesuatu itu.
tangan dimana-mana. dimana-mana tangan.
apakah kau lihat yang aku lihat di saat-saat potongan peristiwa melintasi mata, seperti frame-frame dari film terakhir yang kutonton di bioskop. masih ingatkah kau?
tulis ketik tulis ketik tulis ketik
waktu dimana waktu kemana waktu
beri aku satu detik yang diam berabad
biar terangkum semua dalam kata serta huruf
tangan dimana-mana. dimana-mana tangan.
apakah kau lihat yang aku lihat di saat-saat potongan peristiwa melintasi mata, seperti frame-frame dari film terakhir yang kutonton di bioskop. masih ingatkah kau?
tulis ketik tulis ketik tulis ketik
waktu dimana waktu kemana waktu
beri aku satu detik yang diam berabad
biar terangkum semua dalam kata serta huruf
Sunday, July 21, 2002
lelaki jalang kenapa telanjang, liar dan sendiri? adakah hawa meninggalkanmu sedemikian rupa, lupa pada dirimu yang polos tak bernama, cuma sisa-sisa seorang adam. lelaki jalang kenapa telanjang di depanku, sedikit garang dengan mata menantang. bukan, aku bukan hawa yang mengambilkanmu buah kurdi atau yang keluar dari rusuk kirimu. aku hanya seorang perempuan yang mengajarkanmu bercinta di atas kasur ranjang. aku tidak mengambilkanmu buah kurdi, aku hanya memintamu menyentuh kedua buah dadaku. juga aku keluar dari rahim ibuku setelah delapan setengah bulan mendekam, bukan dari rusuk kiri seorang adam.
lelaki jalang kenapa kau masih telanjang, duduk termenung di atas jendela kayu itu. menatap entah, menatap mataku terkadang, menatap dengan jalang. lalu tatapanmu pindah kembali mengamati alang-alang, kau mendesah pendek "rumput-rumput malang...".
sore menjelang, dari sisa langit-langit yang kupandang terbalik, aku masih menemukan sosokmu telanjang duduk di dekat jendela. sudah berapa lama kau disana, wahai lelaki jalang? semenjak cumbu embun dan bibirmu berhenti, begitu jawabmu.
lelaki jalang kenapa kau masih telanjang, duduk termenung di atas jendela kayu itu. menatap entah, menatap mataku terkadang, menatap dengan jalang. lalu tatapanmu pindah kembali mengamati alang-alang, kau mendesah pendek "rumput-rumput malang...".
sore menjelang, dari sisa langit-langit yang kupandang terbalik, aku masih menemukan sosokmu telanjang duduk di dekat jendela. sudah berapa lama kau disana, wahai lelaki jalang? semenjak cumbu embun dan bibirmu berhenti, begitu jawabmu.
Saturday, July 20, 2002
Friday, July 19, 2002
waktubatu, satu kisah yang bertemu di ruang tunggu
:untuk elang
aku ingat satu aroma udara malam itu, dingin menyeruak melalui rongga hidung. pentas teater garasi waktubatu, pentas hari terakhir dimulai pukul delapan malam. salah satu penulis skenarionya, adalah seorang penulis yang juga kukagumi. banyak cerita bisa dimulai disini. tetapi satu kisah saja untuk saat ini.
kisah ini dimulai beberapa menit yang lalu ketika sudah sekian lama tidak kusentuh mayanya dunia. tulisan seorang kawan menyentakku sekaligus mengingatkanku dengan waktubatu, sebuah ruang tunggu memang. ruang tunggu yang gelap, panggung kayu, batu, dan seekor penyu.
debu-debu jalanan tidak mengangguku malam itu, seperti biasa aku suka dengan bau-bau abu. baru saja kuselesaikan satu hal yang mengangguku hari itu dan aku datang pada waktubatu, kisah-kisah yang bertemu di ruang tunggu.
ah, yah aku datang waktu itu, sedikit kedinginan. duduk di bangku depan blok E, lalu pindah menggelesot ke lantai. kau mengenaliku, sedangkan perhatianku tersita penuh pada pentas. orang-orang yang lari melewatiku dengan centong kayu dan dialog-monolog yang menenggelamkanku. mimik-mimik itu, gerak tubuh, suara-suara mendengung memadu. aku berhenti di sebuah waktu, duduk seperti genapnya batu. dahsyat memang.
aku datang dengan seorang kawan. berkelamin lelaki, tetapi ia bukan lelakiku. sampai saat ini hanya ada seorang yang bisa kusebut begitu, tetapi aku ingin mengenyahkan semua bentuk kepemilikan itu. benar-benar enyah.
aku baru tiba di kota asalku, aku merasa asing berputar-putar bagaikan gasing. aku ingin kembali ke ruang tunggu. menit-menit yang membatu itu, andaikan saja. tapi ah, tenang saja kawan, ini baru satu kisah.
bgr, 20.07.02
:untuk elang
aku ingat satu aroma udara malam itu, dingin menyeruak melalui rongga hidung. pentas teater garasi waktubatu, pentas hari terakhir dimulai pukul delapan malam. salah satu penulis skenarionya, adalah seorang penulis yang juga kukagumi. banyak cerita bisa dimulai disini. tetapi satu kisah saja untuk saat ini.
kisah ini dimulai beberapa menit yang lalu ketika sudah sekian lama tidak kusentuh mayanya dunia. tulisan seorang kawan menyentakku sekaligus mengingatkanku dengan waktubatu, sebuah ruang tunggu memang. ruang tunggu yang gelap, panggung kayu, batu, dan seekor penyu.
debu-debu jalanan tidak mengangguku malam itu, seperti biasa aku suka dengan bau-bau abu. baru saja kuselesaikan satu hal yang mengangguku hari itu dan aku datang pada waktubatu, kisah-kisah yang bertemu di ruang tunggu.
ah, yah aku datang waktu itu, sedikit kedinginan. duduk di bangku depan blok E, lalu pindah menggelesot ke lantai. kau mengenaliku, sedangkan perhatianku tersita penuh pada pentas. orang-orang yang lari melewatiku dengan centong kayu dan dialog-monolog yang menenggelamkanku. mimik-mimik itu, gerak tubuh, suara-suara mendengung memadu. aku berhenti di sebuah waktu, duduk seperti genapnya batu. dahsyat memang.
aku datang dengan seorang kawan. berkelamin lelaki, tetapi ia bukan lelakiku. sampai saat ini hanya ada seorang yang bisa kusebut begitu, tetapi aku ingin mengenyahkan semua bentuk kepemilikan itu. benar-benar enyah.
aku baru tiba di kota asalku, aku merasa asing berputar-putar bagaikan gasing. aku ingin kembali ke ruang tunggu. menit-menit yang membatu itu, andaikan saja. tapi ah, tenang saja kawan, ini baru satu kisah.
bgr, 20.07.02
Friday, June 21, 2002
AKY, sore hari
Gemuruh itu masih tertinggal di kedua liang telingaku, kawanku mengajakku pergi ke ruang ganti. Joned, sang sutradara adalah adik kelasnya. Aku tidak menyangka, ternyata laki-laki tadi adalah dia. Butir keringat masih mengalir di dadanya dan juga potongan rambutnya. Kusalami dia dan kuucapkan selamat, melalui temanku aku menyampaikan niatku untuk melihat naskahnya. Dia membalas untuk kapan-kapan main ke tempatnya dan kurasa aku akan.
Malam beranjak lelap, kami kembali setelah sebelumnya mampir makan di suatu warung pinggir jalan sambil masih membicarakan pertunjukan tadi. Kepalaku sungguh terasa benar-benar penuh, seperti ingin meledak, ingin melepaskan sesuatu.
Tetapi dimana dirimu?
Maka malam pun kusisakan bersama kawan-kawan dengan batangan rokok, percakapan dan juga beberapa botol minuman. Kepalaku terasa cukup ringan setelahnya, aku sedikit heran, aku yang jarang minum malah tidak mabuk. Sedangkan beberapa kawan mulai berjatuhan. Rasa kantukku mulai terasa sewaktu jarum jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, kuambil satu potong bantal berwarna merah muda pucat dan kumal. Tetap saja bantal itu empuk, bantal memang terkadang menjadi suatu kemewahan sendiri dalam tidur. Terlentang aku sementara di atas karpet dengan kepala di atas bantal. Aku merasakan ada kepala lain tidur dengan posisi terbalik dan berbagi bantal denganku walau cuma sebentar.
Sepertinya itu adalah kepalanya, dia yang baru saja kehilangan dompetnya. Kami sepertinya bernasib sama, setidak-tidaknya aku bernasib sama, kurang lebih dua minggu yang lalu. Dan satu hal lagi, dia baru saja kehilangan adiknya, aku terkadang kehilanganmu, tetapi tidak seperti itu. Kau masih beberapa puluh kilometer horizontal dari letak geografisku, sedangkan adiknya entah berapa kilometer ke arah vertikal mungkin atau ke arah semua mata angin. Kematian masih menjadi misteri yang tidak terjawabkan. Aku terkadang berpikir akhir-akhir ini dia menjadi cukup dekat denganku, apakah karena ada kemiripanku dengan adik perempuannya itu. Kupikir aku pun sering merasa nyaman di dekatnya. Malam kemarin aku menyentuh peta punggung kulitnya yang nyaris coklat kehitaman, nyaris seperti kegelapan kulitmu tetapi sepertinya masih kalah gelap. Terkadang dalam keremangan cahaya aku hanya bisa merasai semua lekukan tubuh dan deru nafasmu yang juga terlalu sunyi jika terlelap tidur, tapi cukuplah aku mengetahui adanya dirimu tanpa mengetahui di arah lorong-lorong gelap yang mana. Dengan nyala dian di tatapan matamu, semua akan menjadi sangat terasa.
Nyala dianmu, dianku, Dian aku.
15 Juni 2002, Sengkan, sore menjelang malam
Ada sesuatu pada punggungnya itu, sesuatu itu bukan pada sebutir jerawat kecil dari kelebihan hormonal yang wajar pada punggung seseorang yang menginjak masa muda. Hanya ada sesuatu yang terkadang menganggu mataku jika melihatnya. Daya tariknya yang seperti perempuan, punggung itu, yang coklat kehitaman nyaris seperti warna punggungmu. Sedikit lembut sewaktu tersentuh namun dapat tiba-tiba berubah menjadi sekeras tanah, gumpalan otot seorang laki-laki. Mungkin disitulah terletak semua pesona. Ada yang terpatri, terukir ketika sebuah koin menggores kulit punggungnya. Semuanya berubah menjadi merah ungu, ia baru saja masuk angin dan minta dikerok.
Masih pada punggung itu yang kukira nyaris sebidang lebar bahuku, tetapi semua itu runtuh ketika ia memakai kemejaku yang dengan segera sebagian bagian lengannya sedikit terangkat. Ada sesuatu juga pada bahu itu, yang suatu waktu pernah ia tawarkan padaku sewaktu kepalaku terantuk mengantuk. Bahu itu membuatku tenang dan perkataannya yang selalu kuingat adalah ketika ia berkata “Tidurlah di bahuku walaupun ia keras, sekeras hidupku…”. Terkadang aku ingin tersenyum ketika ia mengatakannya dengan wajah yang lugu dan sepotong ekspresi yang lucu. Memang jenaka jadinya, aku sedikit tersadar terbangun untuk menikmati keluguan yang sederhana itu.
17 Juni 2002, Pogung Lor, malam
Aku mulai melayangkan sedikit dari ingatanku kepada sebuah pantai di selatan pulau Jawa, Parangtritis. Sebuah tangan mengoncangkan tubuhku sekitar jam lima pagi, membangunkanku dari lelap. Lalu kami bergegas pergi untuk mengejar lagi matahari yang terbit di hari yang memang bertanda pagi, dari aroma embun dan kapas-kapas dedaunan, ada juga kedinginan merasuk dalam udara. Sempat terhenti pada semangkuk indomie goreng telur dan segelas teh hangat yang mengisi perut ala kadarnya.
Matahari mulai kelihatan telak di sebuah pinggiran jalan dan pematang sawah. Beberapa sosok manusia terlihat sedang memacul, sosok itu lalu tercetak pada suatu frame-frame dari rol film Konica Gold ASA 100. Masih ada kabut, pagi yang masih ngelangut.
Ada bunyi gitar.
Ada sesuatu yang tak tersangka di antara perburuan dan kamera-kamera. Ada sebuah perayaan dan juga ada sebuah ritual. Di lautan Selatan Jawa, tepat jam delapan pagi, awan seketika menutup langit. Lilin-lilin merah dinyalakan, buah-buahan dan bungkusan nasi bacang digelar di atas piring, lalu kertas-kertas kuning dengan aksara Cina.
Ada juga suaramu.
Kerterasingan menyeruak seketika, dalam satu potongan pandangan yang seperti pengambilan sudut sebuah film yang terputar. Orang-orang Cina, penduduk sekitar dan tiga orang wisatawan asing terlihat melintas. Seorang wanita berdoa, membakar hio yang berbau menyengat dan ember-ember merah terisikan dengan air bunga-bunga. Kenanga, melati, dan entah apa, warna-warna yang mengingatkanku pada ritual upacara Hindu.
Tetapi semua itu memang menjadi sangat asing dan sangat jauh. Mata begitu dekat tetapi akar sudah tercerabut kapan entah. Hati hanya bisa liris dan merasa jengah. Tidak ada kepemilikan pada ras, pada kepercayaan dan juga mungkin bangsa. Yang ada hanya perasaan manusia yang seketika merasa kesepian di antara birunya cakrawala laut.
Dan masih beberapa petikan gitarmu, siapamu, siapa kamu, kamu siapa?
Awan masih ada di atas kepala, sewaktu langit seharusnya sangat terang. Mistis ada di antara udara menjelang siang itu, lalu ada wanita tua yang kesurupan, matanya memeram dan tubuhnya jatuh tepat di pinggiran pantai selatan itu. Ia digotong oleh beberapa orang, entah sadar atau setengah sadar ia terduduk dan menyentuh beberapa orang di dekatnya. Kerumunan orang datang dan semuanya menjadi tidak kelihatan, hanya kumpulan-kumpulan manusia di antara air yang seharusnya asin khas angin pesisir pantai. Asin, bau asin itu semenjak pagi tidak terasa, aku semakin tidak mengerti. Beberapa hal di depanku ini meminta penjelasan yang ambigu.
Kau menoleh dan membaca sebagian, aku mengalihkan ketikan dan pembicaraan. Aku sedikit enggan. Kututup semuanya sementara.
19 Juni, Sengkan, pagi…
Karena dosa bukanlah berasal dari bibir juga revolusi tidak tersedia di meja makan pagi ini, sama sekali tidak hadir, bahkan tiada rasa kementahannya. Yang ada pagi ini hanya rasa lintingan tembakau, asinnya garam pada sambal yang takarannya sedikit kebanyakan, dan juga rasa bibirmu.
Aku seperti teringatkan pada satu scene dalam drama Shakespeare – Romeo and Juliet, ketika mereka bicara akan bibir.
Tetapi ini ciuman pertamamu…
Dan memang akupun tak mengerti apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, ketika tanganku menyentuh tanganmu, lalu jari-jariku mengenggam jari-jarimu, kakiku bersinggungan dengan kakimu, lenganku mendekapmu dan begitu juga sebaliknya. Tetapi kemudian apa yang memicu bibirku berciuman dengan bibirmu?
Ada guratan ristleting tas abu-abu pada kulit muka seseorang yang tertidur di sebelahmu dan juga sisa bekas luka di kepalanya ketika nyaris dibacok preman jalanan. Lalu sekali waktu terlihat bagian belakang lekukan punggungmu dan juga ritsleting jaketmu yang rusak membelahnya menjadi dua bagian yang sama-sama terbuka.
Pertanyaanmu terlalu lugu jika kau bicara tentang kehangatan yang terjadi pada tubuh, karena semalam memang dingin bangsat luar biasa.
Apakah karena kita memang butuh kehangatan? Aku butuh kehangatan?
Sungguh kali ini aku membutuhkan logika, hari ini, detik ini juga. Aku membutuhkan logika dalam suatu perasaan di hadapan jendela berwarna kuning dan hijau, juga di pojokan tembok sekat bambu. Sungguh sebenarnya aku masih menunggu-mu, bukan dirimu tetapi –mu yang lain yang tak tergantikan selama nyaris tiga tahun terakhir. Disinikah monolog-monolog tunggal akan berakhir hari ini?
Sepertinya akan ada sesuatu yang berubah di matamu kali ini, entah apa sebaiknya aku bisa melihatnya dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi. Kau masih terlelap, lelah dan juga sedikit sakit. Aku baru tidur beberapa jam sedangkan rol film di kameraku menunjukkan angka ke duapuluh tiga, sudah sarapan gorengan tahu serta nasi dan belum juga mandi selama nyaris dua hari lamanya.
Kulihat sepertinya ada yang berubah di antara guratan garis bibirmu, guratan bibirku yang tersisa disana, guratan bibirku yang kesekian…
Benar, aku melihat guratan itu yang mungkin akan tercetak di atas salah satu kertas film yang akan kucuci, bersama foto-foto yang lainnya. Bersama pintu yang berdiam sewaktu pagi sudah mulai meninggi dan juga beberapa ekor ayam yang bertengger di atas jendela bambu. Atau sosok seorang ibu yang mencari potongan-potongan kayu bakar karena memang lagi-lagi semalam tadi udara memang dingin bangsat sekali. Ada yang perlu dibakar, ada yang saling membakar, tapi apakah itu? Perlukah ada yang menjawab atau mentari yang tersirat di kamar itu pun sudah tahu…
+++
Gemuruh itu masih tertinggal di kedua liang telingaku, kawanku mengajakku pergi ke ruang ganti. Joned, sang sutradara adalah adik kelasnya. Aku tidak menyangka, ternyata laki-laki tadi adalah dia. Butir keringat masih mengalir di dadanya dan juga potongan rambutnya. Kusalami dia dan kuucapkan selamat, melalui temanku aku menyampaikan niatku untuk melihat naskahnya. Dia membalas untuk kapan-kapan main ke tempatnya dan kurasa aku akan.
Malam beranjak lelap, kami kembali setelah sebelumnya mampir makan di suatu warung pinggir jalan sambil masih membicarakan pertunjukan tadi. Kepalaku sungguh terasa benar-benar penuh, seperti ingin meledak, ingin melepaskan sesuatu.
Tetapi dimana dirimu?
Maka malam pun kusisakan bersama kawan-kawan dengan batangan rokok, percakapan dan juga beberapa botol minuman. Kepalaku terasa cukup ringan setelahnya, aku sedikit heran, aku yang jarang minum malah tidak mabuk. Sedangkan beberapa kawan mulai berjatuhan. Rasa kantukku mulai terasa sewaktu jarum jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, kuambil satu potong bantal berwarna merah muda pucat dan kumal. Tetap saja bantal itu empuk, bantal memang terkadang menjadi suatu kemewahan sendiri dalam tidur. Terlentang aku sementara di atas karpet dengan kepala di atas bantal. Aku merasakan ada kepala lain tidur dengan posisi terbalik dan berbagi bantal denganku walau cuma sebentar.
Sepertinya itu adalah kepalanya, dia yang baru saja kehilangan dompetnya. Kami sepertinya bernasib sama, setidak-tidaknya aku bernasib sama, kurang lebih dua minggu yang lalu. Dan satu hal lagi, dia baru saja kehilangan adiknya, aku terkadang kehilanganmu, tetapi tidak seperti itu. Kau masih beberapa puluh kilometer horizontal dari letak geografisku, sedangkan adiknya entah berapa kilometer ke arah vertikal mungkin atau ke arah semua mata angin. Kematian masih menjadi misteri yang tidak terjawabkan. Aku terkadang berpikir akhir-akhir ini dia menjadi cukup dekat denganku, apakah karena ada kemiripanku dengan adik perempuannya itu. Kupikir aku pun sering merasa nyaman di dekatnya. Malam kemarin aku menyentuh peta punggung kulitnya yang nyaris coklat kehitaman, nyaris seperti kegelapan kulitmu tetapi sepertinya masih kalah gelap. Terkadang dalam keremangan cahaya aku hanya bisa merasai semua lekukan tubuh dan deru nafasmu yang juga terlalu sunyi jika terlelap tidur, tapi cukuplah aku mengetahui adanya dirimu tanpa mengetahui di arah lorong-lorong gelap yang mana. Dengan nyala dian di tatapan matamu, semua akan menjadi sangat terasa.
Nyala dianmu, dianku, Dian aku.
15 Juni 2002, Sengkan, sore menjelang malam
Ada sesuatu pada punggungnya itu, sesuatu itu bukan pada sebutir jerawat kecil dari kelebihan hormonal yang wajar pada punggung seseorang yang menginjak masa muda. Hanya ada sesuatu yang terkadang menganggu mataku jika melihatnya. Daya tariknya yang seperti perempuan, punggung itu, yang coklat kehitaman nyaris seperti warna punggungmu. Sedikit lembut sewaktu tersentuh namun dapat tiba-tiba berubah menjadi sekeras tanah, gumpalan otot seorang laki-laki. Mungkin disitulah terletak semua pesona. Ada yang terpatri, terukir ketika sebuah koin menggores kulit punggungnya. Semuanya berubah menjadi merah ungu, ia baru saja masuk angin dan minta dikerok.
Masih pada punggung itu yang kukira nyaris sebidang lebar bahuku, tetapi semua itu runtuh ketika ia memakai kemejaku yang dengan segera sebagian bagian lengannya sedikit terangkat. Ada sesuatu juga pada bahu itu, yang suatu waktu pernah ia tawarkan padaku sewaktu kepalaku terantuk mengantuk. Bahu itu membuatku tenang dan perkataannya yang selalu kuingat adalah ketika ia berkata “Tidurlah di bahuku walaupun ia keras, sekeras hidupku…”. Terkadang aku ingin tersenyum ketika ia mengatakannya dengan wajah yang lugu dan sepotong ekspresi yang lucu. Memang jenaka jadinya, aku sedikit tersadar terbangun untuk menikmati keluguan yang sederhana itu.
17 Juni 2002, Pogung Lor, malam
Aku mulai melayangkan sedikit dari ingatanku kepada sebuah pantai di selatan pulau Jawa, Parangtritis. Sebuah tangan mengoncangkan tubuhku sekitar jam lima pagi, membangunkanku dari lelap. Lalu kami bergegas pergi untuk mengejar lagi matahari yang terbit di hari yang memang bertanda pagi, dari aroma embun dan kapas-kapas dedaunan, ada juga kedinginan merasuk dalam udara. Sempat terhenti pada semangkuk indomie goreng telur dan segelas teh hangat yang mengisi perut ala kadarnya.
Matahari mulai kelihatan telak di sebuah pinggiran jalan dan pematang sawah. Beberapa sosok manusia terlihat sedang memacul, sosok itu lalu tercetak pada suatu frame-frame dari rol film Konica Gold ASA 100. Masih ada kabut, pagi yang masih ngelangut.
Ada bunyi gitar.
Ada sesuatu yang tak tersangka di antara perburuan dan kamera-kamera. Ada sebuah perayaan dan juga ada sebuah ritual. Di lautan Selatan Jawa, tepat jam delapan pagi, awan seketika menutup langit. Lilin-lilin merah dinyalakan, buah-buahan dan bungkusan nasi bacang digelar di atas piring, lalu kertas-kertas kuning dengan aksara Cina.
Ada juga suaramu.
Kerterasingan menyeruak seketika, dalam satu potongan pandangan yang seperti pengambilan sudut sebuah film yang terputar. Orang-orang Cina, penduduk sekitar dan tiga orang wisatawan asing terlihat melintas. Seorang wanita berdoa, membakar hio yang berbau menyengat dan ember-ember merah terisikan dengan air bunga-bunga. Kenanga, melati, dan entah apa, warna-warna yang mengingatkanku pada ritual upacara Hindu.
Tetapi semua itu memang menjadi sangat asing dan sangat jauh. Mata begitu dekat tetapi akar sudah tercerabut kapan entah. Hati hanya bisa liris dan merasa jengah. Tidak ada kepemilikan pada ras, pada kepercayaan dan juga mungkin bangsa. Yang ada hanya perasaan manusia yang seketika merasa kesepian di antara birunya cakrawala laut.
Dan masih beberapa petikan gitarmu, siapamu, siapa kamu, kamu siapa?
Awan masih ada di atas kepala, sewaktu langit seharusnya sangat terang. Mistis ada di antara udara menjelang siang itu, lalu ada wanita tua yang kesurupan, matanya memeram dan tubuhnya jatuh tepat di pinggiran pantai selatan itu. Ia digotong oleh beberapa orang, entah sadar atau setengah sadar ia terduduk dan menyentuh beberapa orang di dekatnya. Kerumunan orang datang dan semuanya menjadi tidak kelihatan, hanya kumpulan-kumpulan manusia di antara air yang seharusnya asin khas angin pesisir pantai. Asin, bau asin itu semenjak pagi tidak terasa, aku semakin tidak mengerti. Beberapa hal di depanku ini meminta penjelasan yang ambigu.
Kau menoleh dan membaca sebagian, aku mengalihkan ketikan dan pembicaraan. Aku sedikit enggan. Kututup semuanya sementara.
19 Juni, Sengkan, pagi…
Karena dosa bukanlah berasal dari bibir juga revolusi tidak tersedia di meja makan pagi ini, sama sekali tidak hadir, bahkan tiada rasa kementahannya. Yang ada pagi ini hanya rasa lintingan tembakau, asinnya garam pada sambal yang takarannya sedikit kebanyakan, dan juga rasa bibirmu.
Aku seperti teringatkan pada satu scene dalam drama Shakespeare – Romeo and Juliet, ketika mereka bicara akan bibir.
Tetapi ini ciuman pertamamu…
Dan memang akupun tak mengerti apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, ketika tanganku menyentuh tanganmu, lalu jari-jariku mengenggam jari-jarimu, kakiku bersinggungan dengan kakimu, lenganku mendekapmu dan begitu juga sebaliknya. Tetapi kemudian apa yang memicu bibirku berciuman dengan bibirmu?
Ada guratan ristleting tas abu-abu pada kulit muka seseorang yang tertidur di sebelahmu dan juga sisa bekas luka di kepalanya ketika nyaris dibacok preman jalanan. Lalu sekali waktu terlihat bagian belakang lekukan punggungmu dan juga ritsleting jaketmu yang rusak membelahnya menjadi dua bagian yang sama-sama terbuka.
Pertanyaanmu terlalu lugu jika kau bicara tentang kehangatan yang terjadi pada tubuh, karena semalam memang dingin bangsat luar biasa.
Apakah karena kita memang butuh kehangatan? Aku butuh kehangatan?
Sungguh kali ini aku membutuhkan logika, hari ini, detik ini juga. Aku membutuhkan logika dalam suatu perasaan di hadapan jendela berwarna kuning dan hijau, juga di pojokan tembok sekat bambu. Sungguh sebenarnya aku masih menunggu-mu, bukan dirimu tetapi –mu yang lain yang tak tergantikan selama nyaris tiga tahun terakhir. Disinikah monolog-monolog tunggal akan berakhir hari ini?
Sepertinya akan ada sesuatu yang berubah di matamu kali ini, entah apa sebaiknya aku bisa melihatnya dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi. Kau masih terlelap, lelah dan juga sedikit sakit. Aku baru tidur beberapa jam sedangkan rol film di kameraku menunjukkan angka ke duapuluh tiga, sudah sarapan gorengan tahu serta nasi dan belum juga mandi selama nyaris dua hari lamanya.
Kulihat sepertinya ada yang berubah di antara guratan garis bibirmu, guratan bibirku yang tersisa disana, guratan bibirku yang kesekian…
Benar, aku melihat guratan itu yang mungkin akan tercetak di atas salah satu kertas film yang akan kucuci, bersama foto-foto yang lainnya. Bersama pintu yang berdiam sewaktu pagi sudah mulai meninggi dan juga beberapa ekor ayam yang bertengger di atas jendela bambu. Atau sosok seorang ibu yang mencari potongan-potongan kayu bakar karena memang lagi-lagi semalam tadi udara memang dingin bangsat sekali. Ada yang perlu dibakar, ada yang saling membakar, tapi apakah itu? Perlukah ada yang menjawab atau mentari yang tersirat di kamar itu pun sudah tahu…
+++
Sunday, June 16, 2002
Thursday, June 13, 2002
Catatan yang belum lagi selesai
Yogyakarta, 13 Juni 2002, masih terhitung pagi hari...
Bukankah sebuah catatan pun akan banyak bercerita setelah sekian lama tidak terketikkan atau tertuliskan selain menumpuk di suatu selaput otak? Tetapi untunglah karena sel otakku baru saja mengalami pencerahan semalam tadi dengan dua buah botol vodka tercampur dengan dua kaleng green sand, terhitung tujuh buah sloki di dalam takaran yang kira-kira satu per enam bagian gelas aqua plastik. Kepalaku terasa lebih ringan setelah kelelahan yang tak terkira seminggu-dua minggu terakhir ini, yang masih saja kupaksakan menonton pertunjukan teater bersama seorang kawan. Sepulangnya kepalaku semakin penuh rasanya, pertunjukan teater yang begitu dahsyat.
“THEKmU THUKNO THEKKU” yang di pentaskan teater Gradanalla, yang nama teaternya konon diambil dari nama salah satu kakak tiri Cinderella, memang membuatku sangat terkesan. Satu jam setengah sebelum pertunjukan berjalan, seorang kawan datang tiba-tiba menembus suatu percakapan yang dimuat oleh kelelahan dan rasa ngantuk. Ia mengajakku menonton teater dan segera menunggu keputusanku, lima menit terakhir sebelum berangkat menuju gedung LIP, aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan aku tidak menyesal, tidak sama sekali, mungkin aku pun akan sangat ingin menontonnya berulang kali, tetapi sayang, semalam adalah pertunjukan penutupan, yang terakhir.
Awal pertunjukan diwarnai dengan kericuhan kecil, dua orang anak-anak tidak diperbolehkan menonton, lalu muncullah seruan “Ini pelanggaran hak anak-anak untuk menonton pertunjukan teater!”. Tetapi mereka tetap keluar. Lalu lampu dimatikan, semuanya gelap. Cahaya biru masuk lalu merah, dalam biru ada percintaan antara laki-laki dan perempuan dan dalam merah laki-laki dengan laki-laki. Di tengah-tengah ada tarian dan di atas panggung ada lukisan yang nyaris terselesaikan. Bunyi kuas cat yang berpadu dengan kanvas dan lagu yang mendentam-dentam, disana ada birahi, disana ada persetubuhan.
Pertunjukkan berjalan, dengan ekspresi tarian dan juga suatu kenikmatan. Satu nada ponsel tiba-tiba berdering nyaring, kurasakan ada ketergangguan tetapi ternyata itu adalah juga bagian dari pertunjukan.
Selanjutnya aku merasa terseret pada akting seorang laki-laki, yang menjadi seorang homosexual, lalu menjadi seorang bayi, seorang anak-anak dan seorang banci. Ah, pada akhir pertunjukan ternyata dialah sang sutradara, Juned. Dia begitu berbakat. Ekspresi mukanya yang begitu teaterikal, sebuah wajah yang mampu menjadi siapa saja. Monolog dan dialog yang begitu cerdas. Aku ingin membaca naskahnya atau menontonnya lagi seribu kali sampai melekat semua di otakku ini. Lalu tariannya, tangan itu, pinggul itu, bahu dan ekspresi mata itu, suatu ide yang mungkin mengingatkanmu pada siaran “Putri Malam” di televisi pada tengah malam nyaris hari minggu. Melihat sosok seorang laki-laki dengan kain yang dibebatkan menjadi sebuah rok panjang dan di atasnya sebuah korset hitam perempuan, seorang banci yang pertama kali dilihatmu mungkin mengundang tawa di mulutmu. Tetapi tarian itu, gerakan itu begitu indah, dari sebuah kejenakaan beralih menjadi sebuah ironi, suatu kesatiran yang pedas. Tarian itu bisa berubah-ubah dalam suasana dan berakhir dengan sebuah kegilaan.
Ada dua orang bertopeng masuk, mengingatku dengan para penjaga moral yang munafik itu, selalu petantang petenteng membawa-membawa parang dan bendera-bendera agama. Kali ini pun ada parang dan juga nama-nama agama yang mengutuk si banci, memaksanya bertobat.
Aku memang berTuhan, tetapi aku memilih untuk tidak beragama. Tidak ada yang menerimaku. Aku pernah mengenal Isa, dia mengajarkan cinta kasih, tetapi apakah ada tempat untuk seorang banci? Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, tetapi adakah mereka menjelaskan atau bertanya karena apa?
Mereka menyeretnya ke arah penonton, dan dia meraung-raung, menangis, terlalu banyak tangis yang pilu. Diseretnya lagi kembali ke pentas, dipotongnya rambutnya dengan kasar, dengan parang dan dalam suatu humor kegelapan akan dibakarnya dengan korek api tetapi seseorang dari mereka mengeluarkan gunting. Mereka benar-benar memotong rambutnya. Mereka pergi dan meninggalkan sendiri di atas panggung. Gelap.
Ia mencari-cari ibu, mencari orangtuanya. Karena sebab apakah dia harus dilahirkan dalam keadaan yang tak punya pilihan dan merasa terkutuk.
Ibu biarkanlah aku kembali masuk ke dalam rahimmu.
Ia mengiba.
Biarkanlah aku masuk ke dalam rahimmu, atau pada masa mudamu.
Ia menangis.
Apakah aku harus membunuh ayahku?
Ada keris panjang dan juga cambuk. Ada tarian kegilaan, ada perputaran dan ia menari dengan mata yang mendhem, seperti kesurupan. Tariannya terlalu liris, terlalu mengiris dan ironis. Sosok ayah yang terhantam keris, dengan sendiri dan juga olehnya.
Lagi-lagi gelap. Lukisan yang menyala.
Bau melati semerbak dalam kegelapan dan satu sosok manusia menyala dari arah penonton. Bau kubur, sesuatu dari aroma kematian. Sosok yang berjalan dan menempel pada lukisan, goresan kuas yang terakhir pada liang selangkangan. Semua gelap. Semua ditutup.
Tepuk tangan begemuruh panjang dan aku terhempas, terlepas dari semua sandaran dan juga tempat dudukku sedari tadi.
Yogyakarta, 13 Juni 2002, masih terhitung pagi hari...
Bukankah sebuah catatan pun akan banyak bercerita setelah sekian lama tidak terketikkan atau tertuliskan selain menumpuk di suatu selaput otak? Tetapi untunglah karena sel otakku baru saja mengalami pencerahan semalam tadi dengan dua buah botol vodka tercampur dengan dua kaleng green sand, terhitung tujuh buah sloki di dalam takaran yang kira-kira satu per enam bagian gelas aqua plastik. Kepalaku terasa lebih ringan setelah kelelahan yang tak terkira seminggu-dua minggu terakhir ini, yang masih saja kupaksakan menonton pertunjukan teater bersama seorang kawan. Sepulangnya kepalaku semakin penuh rasanya, pertunjukan teater yang begitu dahsyat.
“THEKmU THUKNO THEKKU” yang di pentaskan teater Gradanalla, yang nama teaternya konon diambil dari nama salah satu kakak tiri Cinderella, memang membuatku sangat terkesan. Satu jam setengah sebelum pertunjukan berjalan, seorang kawan datang tiba-tiba menembus suatu percakapan yang dimuat oleh kelelahan dan rasa ngantuk. Ia mengajakku menonton teater dan segera menunggu keputusanku, lima menit terakhir sebelum berangkat menuju gedung LIP, aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan aku tidak menyesal, tidak sama sekali, mungkin aku pun akan sangat ingin menontonnya berulang kali, tetapi sayang, semalam adalah pertunjukan penutupan, yang terakhir.
Awal pertunjukan diwarnai dengan kericuhan kecil, dua orang anak-anak tidak diperbolehkan menonton, lalu muncullah seruan “Ini pelanggaran hak anak-anak untuk menonton pertunjukan teater!”. Tetapi mereka tetap keluar. Lalu lampu dimatikan, semuanya gelap. Cahaya biru masuk lalu merah, dalam biru ada percintaan antara laki-laki dan perempuan dan dalam merah laki-laki dengan laki-laki. Di tengah-tengah ada tarian dan di atas panggung ada lukisan yang nyaris terselesaikan. Bunyi kuas cat yang berpadu dengan kanvas dan lagu yang mendentam-dentam, disana ada birahi, disana ada persetubuhan.
Pertunjukkan berjalan, dengan ekspresi tarian dan juga suatu kenikmatan. Satu nada ponsel tiba-tiba berdering nyaring, kurasakan ada ketergangguan tetapi ternyata itu adalah juga bagian dari pertunjukan.
Selanjutnya aku merasa terseret pada akting seorang laki-laki, yang menjadi seorang homosexual, lalu menjadi seorang bayi, seorang anak-anak dan seorang banci. Ah, pada akhir pertunjukan ternyata dialah sang sutradara, Juned. Dia begitu berbakat. Ekspresi mukanya yang begitu teaterikal, sebuah wajah yang mampu menjadi siapa saja. Monolog dan dialog yang begitu cerdas. Aku ingin membaca naskahnya atau menontonnya lagi seribu kali sampai melekat semua di otakku ini. Lalu tariannya, tangan itu, pinggul itu, bahu dan ekspresi mata itu, suatu ide yang mungkin mengingatkanmu pada siaran “Putri Malam” di televisi pada tengah malam nyaris hari minggu. Melihat sosok seorang laki-laki dengan kain yang dibebatkan menjadi sebuah rok panjang dan di atasnya sebuah korset hitam perempuan, seorang banci yang pertama kali dilihatmu mungkin mengundang tawa di mulutmu. Tetapi tarian itu, gerakan itu begitu indah, dari sebuah kejenakaan beralih menjadi sebuah ironi, suatu kesatiran yang pedas. Tarian itu bisa berubah-ubah dalam suasana dan berakhir dengan sebuah kegilaan.
Ada dua orang bertopeng masuk, mengingatku dengan para penjaga moral yang munafik itu, selalu petantang petenteng membawa-membawa parang dan bendera-bendera agama. Kali ini pun ada parang dan juga nama-nama agama yang mengutuk si banci, memaksanya bertobat.
Aku memang berTuhan, tetapi aku memilih untuk tidak beragama. Tidak ada yang menerimaku. Aku pernah mengenal Isa, dia mengajarkan cinta kasih, tetapi apakah ada tempat untuk seorang banci? Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, tetapi adakah mereka menjelaskan atau bertanya karena apa?
Mereka menyeretnya ke arah penonton, dan dia meraung-raung, menangis, terlalu banyak tangis yang pilu. Diseretnya lagi kembali ke pentas, dipotongnya rambutnya dengan kasar, dengan parang dan dalam suatu humor kegelapan akan dibakarnya dengan korek api tetapi seseorang dari mereka mengeluarkan gunting. Mereka benar-benar memotong rambutnya. Mereka pergi dan meninggalkan sendiri di atas panggung. Gelap.
Ia mencari-cari ibu, mencari orangtuanya. Karena sebab apakah dia harus dilahirkan dalam keadaan yang tak punya pilihan dan merasa terkutuk.
Ibu biarkanlah aku kembali masuk ke dalam rahimmu.
Ia mengiba.
Biarkanlah aku masuk ke dalam rahimmu, atau pada masa mudamu.
Ia menangis.
Apakah aku harus membunuh ayahku?
Ada keris panjang dan juga cambuk. Ada tarian kegilaan, ada perputaran dan ia menari dengan mata yang mendhem, seperti kesurupan. Tariannya terlalu liris, terlalu mengiris dan ironis. Sosok ayah yang terhantam keris, dengan sendiri dan juga olehnya.
Lagi-lagi gelap. Lukisan yang menyala.
Bau melati semerbak dalam kegelapan dan satu sosok manusia menyala dari arah penonton. Bau kubur, sesuatu dari aroma kematian. Sosok yang berjalan dan menempel pada lukisan, goresan kuas yang terakhir pada liang selangkangan. Semua gelap. Semua ditutup.
Tepuk tangan begemuruh panjang dan aku terhempas, terlepas dari semua sandaran dan juga tempat dudukku sedari tadi.
Monday, June 10, 2002
Monday, June 03, 2002
:pacarmerah
Mungkin aku memang kurang ajar, nyaris sebulan penuh pergi hanya meninggalkan jejakku di suatu pelataran stasiun kereta api. Memang mungkin aku pantas dirajam setelah menyiksamu dengan rindu berhari-hari, berjam-jam, menit dan juga detik. Ah, perasaanmu yang membuatku kehilangan banyak kosakata setelah sembilan belas tahun lebih satu bulan hidup di muka bumi. Ini memang bukanlah surat, pemberian kabar, ini hanyalah sebuah tulisan yang tercipta di suatu ruang yang diisi olehmu. Ruang yang sampai saat ini aku tak mengerti dimana letaknya, dimana maknanya. Setajam inikah kata?
Hari-hariku kulewati dengan banyak perenungan, kegelisahan dan bacaan-bacaan. Terkadang pun penuh dengan dialog-dialog baik yang terjadwal maupun seenak waktu, tetapi beginilah kota ini dan aku mulai terbiasa kembali. Sesuatu dalam diriku terasa lebih bebas tetapi ada juga yang terasa ingin terbebas. Sebabnya mungkin bisa kupikirkan karena aku baru saja memenjarakan diriku di dalam rutinitas enam jam yang kurasa hanya pembodohan tetapi aku terpaksa melakukannya. Dan, sialan! Aku sudah muak di hari pertama. Aku masih ingin liar.
Tetapi aku mencintai kota ini, dalam kenangan yang lama baikpun yang baru, yang menyenangkan baikpun yang menyedihkan. Salahkah aku jika aku begitu mencintai kota ini? Dari warung angkringan, teh tubruk yang kental, pribadi-pribadi beragam yang kukenal, sampai pada fragmen-fragmen pemandangan. Walau terkadang banyak juga hal-hal yang menyebalkan seperti peringatan jam malam, laskar-laskar moral yang dungu dan juga munafik sampai kepada para pencopet. Yang terakhir agak pribadi, dompetku baru saja menjadi korban mereka. Kau ingat, dompet coklat kulitku itu? Satu-satunya yang penuh kenangan cukup sentimentil yang masih membuatku merasa sendu mengingatnya. Uangku hanya enam ribu rupiah, ktp dan atmku hilang. Dan, kurasa aku perlu melengos mengeluh, foto-fotoku, foto kita itu pun lenyap. Aku bisa membayangkan kemungkinan berada dimanakah dompet lapuk itu, di tumpukan sampah mungkin. Sudahlah, agaknya memang tak baik untuk menjadi terikat pada sesuatu yang bersifat kebendaan.
Beberapa hari lalu aku menemui sebuah pantai, Teleng Ria namanya, ombaknya begitu menggodaku untuk ikut bergulung. Pantai yang indah dan merindukan di antara bukit-bukit dan pegunungan. Beberapa minggu yang lalu aku juga menyapa padang pasir Parangtritis atau singkatnya Paris, bersama seorang teman, dengan lensa kamera tentunya. Sejumlah foto-foto eksperimen itu sudah tercetak, tidak begitu mengecewakan kukira untuk seorang pemula, aku jadi mengetahui dimana letak kesalahan-kesalahanku. Kukira akan ada yang kukirimkan untukmu, fotoku dan foto yang diambil oleh temanku. Aku mengejar terbenam dan terbitnya matahari di kota ini, pernahkan kita memandang senja atau subuh begitu rupa sehingga kita berdua tertidur di depannya? Seingatku kita hanya bisa melakukannya di antara genteng rumah perkotaan, ah, kita terkadang berada di tempat yang salah tetapi itu semua tidak mengapa, keindahan tetaplah keindahan dimanapun tempatnya.
Disini terkadang aku seperti tidak mempunyai tempat tinggal, sepertinya aku lebih nyaman hidup beramai-ramai walau sekali waktu akupun tersadar masih butuh kesendirian. Seringkali kulewati malam-malam bersama kawan-kawan, ramai dengan kopi, teh, dan rokok. Dengan diskusi ataupun sekedar bercanda ria, seringkali dengan menyanyi bersama, dan terkadang membaca puisi-puisi di bawah bulan purnama. Juga sudah setumpuk buku terbaca, tertulis beberapa potong tulisan, dan pemikiran-pemikiran yang nyaris hilang muncul kembali. Dunia sejenak terasa begitu nyaman. Warna-warna kegelisahan mulai terungkap, hal-hal baru sepertinya akan mulai terlahirkan. Akhir-akhir ini kami terasa mual-mual hamil, entah penuh kemuakan atau menunggu kelahiran sesuatu. Sebuah perubahan!
Tidurku menjadi berkurang begitu juga dengan makanku. Harus kuceritakan kau satu hal karena daging anjing dan juga belalang adalah sebuah konsumsi kehidupan. Aku belum sanggup memakannya, apalagi anjing, kau tahu bagaimana aku menyayangi jenis binatang itu. Aku pun sempat memasak tahu-tempe pedas dan ternyata cukup enak, walaupun menu cukup vegetarian, daging memang mahal untuk terbeli dan dimakan beramai-ramai. Terkadang ada pesta, kukira setiap pesta memang mempunyai kesan purba semodern atau semewah apapun pesta itu. Pesta kali ini diwarnai botol-botol tetapi tidak ada kemabukan, hanya rasa hangat karena hawa yang dingin dan semuanya menjadi cepat tertidur. Itu saja. Karena kami manusia-manusia malam yang sekali waktu ingin beristirahat seperti manusia kebanyakan.
Masih ada permainan perasaan, keanehan, kesenduan, kebahagiaan, kepiluan yang bercampur jadi satu. Emosi memang masih mewarnai hatiku tetapi ada suatu pembelahan yang mungkin menuntut ketegasan yang sudah berulang-ulang kusadari. Kepalaku terkadang terasa pecah karena memikirkan arti dari lima huruf yang selalu hadir di kehidupan itu. Hatiku, ah...sepertinya dia sedang enggan, dia ingin sendiri merasakan.
Aku sedang merasakan sebuah kesedihan seorang kawan, adik perempuan tersayangnya baru saja meninggal kemarin sore. Setelah koma selama seminggu karena kecelakaan motor. Dia begitu tak tenang beberapa hari ini, itu semua kurasakan karena kami akhir-akhir ini berbicara dekat dan menumpahkan rasa-rasa yang ada di dalam hati serta pikiran. Ketika mendengar kabar itu kemarin sore setelah mendadak malam sebelumnya ia kembali ke kotanya, aku benar-benar kehilangan kata-kata walaupun aku sudah menduganya. Ada kesedihan meliputi dia, aku, kami semua kukira.
Kau ingat film Lorca? Film yang kau begitu suka, sampai nyaris tiga kali kau menontonnya. Aku baru saja membuat resensi yang agak slengean, akan kuperlihatkan kepadamu jika sudah terbit di media on/off edisi keempat. Kau tunggu saja. Aku juga sedang menterjemahkan puisi-puisinya dan juga Neruda, sudah bertambah beberapa. Sebuah naskah Neruda terjemahan lama baru saja diserahkan kepadaku, aku sedang mengetik ulangnya. Aku pun baru saja menyelesaikan layout untuk buku puisi seorang kawan dekat, untuk pernikahannya. Pun, dalam tahap mengerjakan situs sastra yang akan dikelola bersama dan juga membantu layout sebuah majalah. Terdengar dinamiskah di telingamu? Kegilaan dan ketidakteraturan yang menyenangkan ini.
Aku saat ini sedang memikirkanmu di antara buku-buku yang sudah terlewat terbaca, foto-foto yang tercetak terpajang dan juga sebuah lagu berformat mp3. Beberapa hari yang lalu sebuah nomor yang kutahu itu adalah dirimu tercatat di ponselku, kau rindu? Jadi beginilah ini semua yang tertuliskan setelah itu, kata-kata dan cerita-cerita yang tak sempat kusampaikan di antara kabel dan pulsa telfon yang terus melambung itu. Maafkanlah aku karena keterbatasanku dan kekurangajaranku ini, karena aku belum melupakanmu, belum melupakanmu.
Yogyakarta, 3 Juni 2002
7.16 PM
Mungkin aku memang kurang ajar, nyaris sebulan penuh pergi hanya meninggalkan jejakku di suatu pelataran stasiun kereta api. Memang mungkin aku pantas dirajam setelah menyiksamu dengan rindu berhari-hari, berjam-jam, menit dan juga detik. Ah, perasaanmu yang membuatku kehilangan banyak kosakata setelah sembilan belas tahun lebih satu bulan hidup di muka bumi. Ini memang bukanlah surat, pemberian kabar, ini hanyalah sebuah tulisan yang tercipta di suatu ruang yang diisi olehmu. Ruang yang sampai saat ini aku tak mengerti dimana letaknya, dimana maknanya. Setajam inikah kata?
Hari-hariku kulewati dengan banyak perenungan, kegelisahan dan bacaan-bacaan. Terkadang pun penuh dengan dialog-dialog baik yang terjadwal maupun seenak waktu, tetapi beginilah kota ini dan aku mulai terbiasa kembali. Sesuatu dalam diriku terasa lebih bebas tetapi ada juga yang terasa ingin terbebas. Sebabnya mungkin bisa kupikirkan karena aku baru saja memenjarakan diriku di dalam rutinitas enam jam yang kurasa hanya pembodohan tetapi aku terpaksa melakukannya. Dan, sialan! Aku sudah muak di hari pertama. Aku masih ingin liar.
Tetapi aku mencintai kota ini, dalam kenangan yang lama baikpun yang baru, yang menyenangkan baikpun yang menyedihkan. Salahkah aku jika aku begitu mencintai kota ini? Dari warung angkringan, teh tubruk yang kental, pribadi-pribadi beragam yang kukenal, sampai pada fragmen-fragmen pemandangan. Walau terkadang banyak juga hal-hal yang menyebalkan seperti peringatan jam malam, laskar-laskar moral yang dungu dan juga munafik sampai kepada para pencopet. Yang terakhir agak pribadi, dompetku baru saja menjadi korban mereka. Kau ingat, dompet coklat kulitku itu? Satu-satunya yang penuh kenangan cukup sentimentil yang masih membuatku merasa sendu mengingatnya. Uangku hanya enam ribu rupiah, ktp dan atmku hilang. Dan, kurasa aku perlu melengos mengeluh, foto-fotoku, foto kita itu pun lenyap. Aku bisa membayangkan kemungkinan berada dimanakah dompet lapuk itu, di tumpukan sampah mungkin. Sudahlah, agaknya memang tak baik untuk menjadi terikat pada sesuatu yang bersifat kebendaan.
Beberapa hari lalu aku menemui sebuah pantai, Teleng Ria namanya, ombaknya begitu menggodaku untuk ikut bergulung. Pantai yang indah dan merindukan di antara bukit-bukit dan pegunungan. Beberapa minggu yang lalu aku juga menyapa padang pasir Parangtritis atau singkatnya Paris, bersama seorang teman, dengan lensa kamera tentunya. Sejumlah foto-foto eksperimen itu sudah tercetak, tidak begitu mengecewakan kukira untuk seorang pemula, aku jadi mengetahui dimana letak kesalahan-kesalahanku. Kukira akan ada yang kukirimkan untukmu, fotoku dan foto yang diambil oleh temanku. Aku mengejar terbenam dan terbitnya matahari di kota ini, pernahkan kita memandang senja atau subuh begitu rupa sehingga kita berdua tertidur di depannya? Seingatku kita hanya bisa melakukannya di antara genteng rumah perkotaan, ah, kita terkadang berada di tempat yang salah tetapi itu semua tidak mengapa, keindahan tetaplah keindahan dimanapun tempatnya.
Disini terkadang aku seperti tidak mempunyai tempat tinggal, sepertinya aku lebih nyaman hidup beramai-ramai walau sekali waktu akupun tersadar masih butuh kesendirian. Seringkali kulewati malam-malam bersama kawan-kawan, ramai dengan kopi, teh, dan rokok. Dengan diskusi ataupun sekedar bercanda ria, seringkali dengan menyanyi bersama, dan terkadang membaca puisi-puisi di bawah bulan purnama. Juga sudah setumpuk buku terbaca, tertulis beberapa potong tulisan, dan pemikiran-pemikiran yang nyaris hilang muncul kembali. Dunia sejenak terasa begitu nyaman. Warna-warna kegelisahan mulai terungkap, hal-hal baru sepertinya akan mulai terlahirkan. Akhir-akhir ini kami terasa mual-mual hamil, entah penuh kemuakan atau menunggu kelahiran sesuatu. Sebuah perubahan!
Tidurku menjadi berkurang begitu juga dengan makanku. Harus kuceritakan kau satu hal karena daging anjing dan juga belalang adalah sebuah konsumsi kehidupan. Aku belum sanggup memakannya, apalagi anjing, kau tahu bagaimana aku menyayangi jenis binatang itu. Aku pun sempat memasak tahu-tempe pedas dan ternyata cukup enak, walaupun menu cukup vegetarian, daging memang mahal untuk terbeli dan dimakan beramai-ramai. Terkadang ada pesta, kukira setiap pesta memang mempunyai kesan purba semodern atau semewah apapun pesta itu. Pesta kali ini diwarnai botol-botol tetapi tidak ada kemabukan, hanya rasa hangat karena hawa yang dingin dan semuanya menjadi cepat tertidur. Itu saja. Karena kami manusia-manusia malam yang sekali waktu ingin beristirahat seperti manusia kebanyakan.
Masih ada permainan perasaan, keanehan, kesenduan, kebahagiaan, kepiluan yang bercampur jadi satu. Emosi memang masih mewarnai hatiku tetapi ada suatu pembelahan yang mungkin menuntut ketegasan yang sudah berulang-ulang kusadari. Kepalaku terkadang terasa pecah karena memikirkan arti dari lima huruf yang selalu hadir di kehidupan itu. Hatiku, ah...sepertinya dia sedang enggan, dia ingin sendiri merasakan.
Aku sedang merasakan sebuah kesedihan seorang kawan, adik perempuan tersayangnya baru saja meninggal kemarin sore. Setelah koma selama seminggu karena kecelakaan motor. Dia begitu tak tenang beberapa hari ini, itu semua kurasakan karena kami akhir-akhir ini berbicara dekat dan menumpahkan rasa-rasa yang ada di dalam hati serta pikiran. Ketika mendengar kabar itu kemarin sore setelah mendadak malam sebelumnya ia kembali ke kotanya, aku benar-benar kehilangan kata-kata walaupun aku sudah menduganya. Ada kesedihan meliputi dia, aku, kami semua kukira.
Kau ingat film Lorca? Film yang kau begitu suka, sampai nyaris tiga kali kau menontonnya. Aku baru saja membuat resensi yang agak slengean, akan kuperlihatkan kepadamu jika sudah terbit di media on/off edisi keempat. Kau tunggu saja. Aku juga sedang menterjemahkan puisi-puisinya dan juga Neruda, sudah bertambah beberapa. Sebuah naskah Neruda terjemahan lama baru saja diserahkan kepadaku, aku sedang mengetik ulangnya. Aku pun baru saja menyelesaikan layout untuk buku puisi seorang kawan dekat, untuk pernikahannya. Pun, dalam tahap mengerjakan situs sastra yang akan dikelola bersama dan juga membantu layout sebuah majalah. Terdengar dinamiskah di telingamu? Kegilaan dan ketidakteraturan yang menyenangkan ini.
Aku saat ini sedang memikirkanmu di antara buku-buku yang sudah terlewat terbaca, foto-foto yang tercetak terpajang dan juga sebuah lagu berformat mp3. Beberapa hari yang lalu sebuah nomor yang kutahu itu adalah dirimu tercatat di ponselku, kau rindu? Jadi beginilah ini semua yang tertuliskan setelah itu, kata-kata dan cerita-cerita yang tak sempat kusampaikan di antara kabel dan pulsa telfon yang terus melambung itu. Maafkanlah aku karena keterbatasanku dan kekurangajaranku ini, karena aku belum melupakanmu, belum melupakanmu.
Yogyakarta, 3 Juni 2002
7.16 PM
Thursday, May 23, 2002
Sunday, May 19, 2002
:arfi
karena kita bicara tentang benda-benda
seperti jajanan pasar
dan wangi bunga melati
seperti kendi-kendi
warna warni
semuanya ada
pada lensa-lensa kacamatamu
yang memandang dunia
menjadi keindahan yang sendu
dan terpadu
karena kita masih berbicara tentang benda
bukan pasar
dan juga bukan puisi
hanya pantulan sinar matahari sore,
jalanan becek
dan tukang becak yang duduk mengangkang
-pasar bringharjo, 19.05.02-
karena kita bicara tentang benda-benda
seperti jajanan pasar
dan wangi bunga melati
seperti kendi-kendi
warna warni
semuanya ada
pada lensa-lensa kacamatamu
yang memandang dunia
menjadi keindahan yang sendu
dan terpadu
karena kita masih berbicara tentang benda
bukan pasar
dan juga bukan puisi
hanya pantulan sinar matahari sore,
jalanan becek
dan tukang becak yang duduk mengangkang
-pasar bringharjo, 19.05.02-
Thursday, May 16, 2002
rasa? rasaku sudah hilang ketika dia menikamku dari belakang, terlalu
hangat dan terlalu segar. semua jaringan syaraf tulang belakangku
tiba-tiba mati dan otakku kaku. jasadku meregang meraih nisan dimana
dia menguburkan diri hidup-hidup suatu hari.
rasaku mematung disitu di tanah yang sangat basah oleh embun dan
hujan yang berlebihan kemarin sore. warna kulitku berubah abu-abu
dengan ekspresi dingin kosong, mati dan tak berisi.
andaikan boleh permukaan kaku ini kugoreskan sebuah kalimat, sebuah
seruan tepatnya "pindahkanlah patungku dan kuburkanlah aku di sebelah
nisan ini". mungkin akan mencair semua logam tulangku dan berhenti
jadi batu.
hangat dan terlalu segar. semua jaringan syaraf tulang belakangku
tiba-tiba mati dan otakku kaku. jasadku meregang meraih nisan dimana
dia menguburkan diri hidup-hidup suatu hari.
rasaku mematung disitu di tanah yang sangat basah oleh embun dan
hujan yang berlebihan kemarin sore. warna kulitku berubah abu-abu
dengan ekspresi dingin kosong, mati dan tak berisi.
andaikan boleh permukaan kaku ini kugoreskan sebuah kalimat, sebuah
seruan tepatnya "pindahkanlah patungku dan kuburkanlah aku di sebelah
nisan ini". mungkin akan mencair semua logam tulangku dan berhenti
jadi batu.
kata-kataku ingin mati sejenak saja
tidur di jalan
terlindas motor dan langkah-langkah kaki yang berlalu lalang
bermandi debu dan sinar matahari
dari pagi sampai siang
hingga malam
kata-kataku ingin mati sejenak saja
di ranjangku
di ranjangmu
di bantalku
di bantalmu
dan semua yang sudah berceceran...
tidur di jalan
terlindas motor dan langkah-langkah kaki yang berlalu lalang
bermandi debu dan sinar matahari
dari pagi sampai siang
hingga malam
kata-kataku ingin mati sejenak saja
di ranjangku
di ranjangmu
di bantalku
di bantalmu
dan semua yang sudah berceceran...
Monday, May 13, 2002
sunyi pernah mengoyakku begitu rupa di pojokan sebuah jendela suatu sore. suara-suara kita hilang ditelan suara motor dan emosi yang tertahan. lalu dua hari aku tertidur tanpa atap dan membawa sesuatu yang hancur. hari ini datang terlalu cepat dan tanggal menjadi tanggal, perayaan menjadi perayaan dan arti hanya tinggal arti. hari ini tanggal tiga belas mei dua puluh ribu dua, dua tahun setelah kita mengikat sebuah janji subuh-subuh, pagi-pagi sekali, empat tahun setelah peristiwa yang mengguncangkan nusantara. tanggal tiga belas apakah hari yang akan selalu menjadi celaka? begitu tanya seorang temanku pagi ini, sama seperti diriku bertanya-tanya tentang itu lima hari yang lalu.
yogya, 13.05.02
yogya, 13.05.02
Sunday, May 05, 2002
Friday, May 03, 2002
hujan hanya menyambutku satu kali, di depan kamarmu, di terasnya dan diantara tirai-tirai bambu. deras, besar tetapi hilang gemuruhnya di tengah-tengah. lalu mataku gagu menatap dada telanjangmu yang mengeluh kepanasan pada lima menit yang baru saja melintasi jam dinding bulat di dinding putih kaku. aku ingin waktu mati disitu, sekali saja, tanpa reinkarnasi.
ah mengapa jadi gelisah...padahal kisah ini sudah menginjak tengah-tengah halaman sebuah buku. lunglai aku melihatmu dengan sepotong matamu yang selalu bergema-gema di langit-langit kamar. kantuk sudah semua gundah, tertidur di sebuah kamar dengan tembok putih yang baru saja dicat kelupasnya. kisah ini sepertinya akan mati sebelum mencapai kata-kata penghabisan.
Thursday, May 02, 2002
kita memang jatuh di antara hamparan kata-kata, erangan derita, serta tawa dengan ganja dan satu sloki arak putih dari bali. semuanya direkam di bawah bulan purnama di sebuah lapangan rumput yang setengah terbuka, puisi-puisi satu per satu dibacakan seperti pada pukul lima sore menjelang kematian lorca sang penyair. masih di bawah bulan, langit terbuka, dada terbuka, ceracah sapa mulut saling menyapa. pada kecupan pagi-pagi sekali, pada segelas coklat panas di atas meja sebuah warung masih di pagi yang sama, ketika jalanan masih sepi dari doa-doa.
Tuesday, April 30, 2002
Prolog Senja
kata-kata menelanku di kota ini, pada lembar-lembar putih, pena-pena lalu kacamata pembaca-pembaca, di tangan kawan-kawan, seperti air yang mengalir sungai. mendobrak pintu-pintu air kota, membuka terowongan-terowongan rahasia abad lampau, lalu masih ada kita yang bercinta masih di atas kasur itu dan dinding merah terakota tua, dua malam lamanya. saling menelan air mata, duka dan tawa seraya bersetubuh-rubuh menjadi satu.
aku masih ingat warna kulitmu, coklat tua menggemaskan dan kadang-kadang menggilakan. sering kuciumi permukaan coklat itu, sering pula kubasuh dengan segala yang bisa membasuh, baunya lekat melekat di tubuhku juga begitu seringnya. sungguh mengertikah mereka mengapa tarianmu yang mendedak bumi, langkah derap sepasang kakimu begitu sering menggodaku. lalu keheningan datang dengan bening seperti gemericik air mengisi malam.
pada tangan kirimu dan tangan kiriku, kucari garis -garis yang menghubungi genggaman tangan kita yang bertahan bermalam-malam. kugali kuburmu dan mandi dengan segala sisa abu disitu.
djokja, 30 april 2002
kata-kata menelanku di kota ini, pada lembar-lembar putih, pena-pena lalu kacamata pembaca-pembaca, di tangan kawan-kawan, seperti air yang mengalir sungai. mendobrak pintu-pintu air kota, membuka terowongan-terowongan rahasia abad lampau, lalu masih ada kita yang bercinta masih di atas kasur itu dan dinding merah terakota tua, dua malam lamanya. saling menelan air mata, duka dan tawa seraya bersetubuh-rubuh menjadi satu.
aku masih ingat warna kulitmu, coklat tua menggemaskan dan kadang-kadang menggilakan. sering kuciumi permukaan coklat itu, sering pula kubasuh dengan segala yang bisa membasuh, baunya lekat melekat di tubuhku juga begitu seringnya. sungguh mengertikah mereka mengapa tarianmu yang mendedak bumi, langkah derap sepasang kakimu begitu sering menggodaku. lalu keheningan datang dengan bening seperti gemericik air mengisi malam.
pada tangan kirimu dan tangan kiriku, kucari garis -garis yang menghubungi genggaman tangan kita yang bertahan bermalam-malam. kugali kuburmu dan mandi dengan segala sisa abu disitu.
djokja, 30 april 2002
Sunday, April 21, 2002
merekam kematian pada kertas putih bukanlah dosa di tanganmu, juga bukan karena tinju yang mengalir ke arah rahangmu kawanku sayang, juga bukan karena seorang perempuan kau menjadi penuh dengan amarah dan angkara. karena kau adalah seorang rahwana yang mencintai sita dengan gila, dengan murka, dengan darah dan hati yang tetap saja suci penuh luka doa. maka, ada saatnya kau tidur dipangkuanku, tertidur terlelap menenangkan suasana, esok hari kau sudah harus pergi lagi, menggelar perang, mengumbar raga melawan rama-rama sombong itu.
Saturday, April 20, 2002
Friday, April 19, 2002
sebuah cerita untuk heriansyah latief
sembilan belas tahun lewat beberapa hari sudah dilewatinya. tahun pertama dia dilahirkan di sebuah benua tepat di bawah selatan khatulistiwa, lalu tahun kedua bocah kecil perempuan itu menemukan dirinya di negeri yang panas, tanah yang satu2nya akan dipanggilnya rumah. tahun-tahun berikutnya berlalu dengan tawa, tangis, kadang-kadang luka tetapi dunia masih lugu, masih cerah. tahun keempat belas dan kelima belas, dunia seolah runtuh, kekerasan di mana-mana, keramahan menjadi kemarahan. pertengahan tahun kelima belas dia berdiri kembali sendiri, di tanah kelahirannya, benua sebelah selatan khatulistiwa.
negeri itu serasa kosong, asing, tak dikenalnya. tahun kelima belas dan keenam belas adalah sesuatu kekosongan panjang.
cinta bukanlah sesuatu yang asing, dia mengenalnya pada tahun ketiga belas. cinta monyet pada seorang laki-laki yang jauh di atasnya, 10 tahun jarak di antara mereka. berakhir tidak dengan tragis, cuma perpisahan kecil oleh waktu yang tiba-tiba menjadi biasa. pada laki-laki kedua dia mengenal sebuah ciuman dan genggaman serta pelukan. laki-laki ketiga dia mengenal persetubuhan dan jatuh bangunnya cinta yang bertahan sampai saat ini.
seks juga bukanlah sesuatu yang asing, pengalaman yang tak menggenakkan dan tak ingin diingat kembali di tahun kesembilan. terbuka lagi di akhir tahun keenam belas, tetapi kali ini tanpa trauma, tanpa rasa takut, yang ada hanya cinta dan kenikmatan. laki-laki ketiga bukanlah perhentian satu2nya, masih ada laki-laki keempat, kelima dan keenam untuk berbagi persetubuhan. tetapi hati masih terantuk pada laki-laki ketiga, sampai saat ini, sampai tahun kesembilan belas.
lalu datang laki-laki ketujuh, yang memberi kehangatan, manis tetapi hanya akan berbatas kenyataan. tetapi dia tahu persis, bukanlah saatnya lagi berduka, tetapi saatnya berjalan seperti biasa.
tahun ketujuh belas dan kedelapan belas adalah pencerahan dan perenungan. dia terpaku pada kata-kata dan berubah menjadi penggila kata. kata-kata di hadapanmu adalah salah satunya.
akhir tahun kedelapan belas dia mencium kembali tanah yang tak cuma panas kini, tetapi penuh amarah.
tahun kesembilan belas adalah sebuah awal, sebuah kegilaaan, sebuah pekerjaan, sebuah jalan, sebuah percintaan, sebuah persetubuhan, sebuah penulisan, sebuah kenikmatan, sebuah kematian, sebuah pembunuhan, pengkuburan serta pembangkitan. karena dunia adalah sebuah kekacauan di tahun kesembilan belas, lalu kehidupannya adalah sebuah anti kemapanan, sebuah puisi atau prosa yang tidak beraturan.
bogor, 19 april 2002
sembilan belas tahun lewat beberapa hari sudah dilewatinya. tahun pertama dia dilahirkan di sebuah benua tepat di bawah selatan khatulistiwa, lalu tahun kedua bocah kecil perempuan itu menemukan dirinya di negeri yang panas, tanah yang satu2nya akan dipanggilnya rumah. tahun-tahun berikutnya berlalu dengan tawa, tangis, kadang-kadang luka tetapi dunia masih lugu, masih cerah. tahun keempat belas dan kelima belas, dunia seolah runtuh, kekerasan di mana-mana, keramahan menjadi kemarahan. pertengahan tahun kelima belas dia berdiri kembali sendiri, di tanah kelahirannya, benua sebelah selatan khatulistiwa.
negeri itu serasa kosong, asing, tak dikenalnya. tahun kelima belas dan keenam belas adalah sesuatu kekosongan panjang.
cinta bukanlah sesuatu yang asing, dia mengenalnya pada tahun ketiga belas. cinta monyet pada seorang laki-laki yang jauh di atasnya, 10 tahun jarak di antara mereka. berakhir tidak dengan tragis, cuma perpisahan kecil oleh waktu yang tiba-tiba menjadi biasa. pada laki-laki kedua dia mengenal sebuah ciuman dan genggaman serta pelukan. laki-laki ketiga dia mengenal persetubuhan dan jatuh bangunnya cinta yang bertahan sampai saat ini.
seks juga bukanlah sesuatu yang asing, pengalaman yang tak menggenakkan dan tak ingin diingat kembali di tahun kesembilan. terbuka lagi di akhir tahun keenam belas, tetapi kali ini tanpa trauma, tanpa rasa takut, yang ada hanya cinta dan kenikmatan. laki-laki ketiga bukanlah perhentian satu2nya, masih ada laki-laki keempat, kelima dan keenam untuk berbagi persetubuhan. tetapi hati masih terantuk pada laki-laki ketiga, sampai saat ini, sampai tahun kesembilan belas.
lalu datang laki-laki ketujuh, yang memberi kehangatan, manis tetapi hanya akan berbatas kenyataan. tetapi dia tahu persis, bukanlah saatnya lagi berduka, tetapi saatnya berjalan seperti biasa.
tahun ketujuh belas dan kedelapan belas adalah pencerahan dan perenungan. dia terpaku pada kata-kata dan berubah menjadi penggila kata. kata-kata di hadapanmu adalah salah satunya.
akhir tahun kedelapan belas dia mencium kembali tanah yang tak cuma panas kini, tetapi penuh amarah.
tahun kesembilan belas adalah sebuah awal, sebuah kegilaaan, sebuah pekerjaan, sebuah jalan, sebuah percintaan, sebuah persetubuhan, sebuah penulisan, sebuah kenikmatan, sebuah kematian, sebuah pembunuhan, pengkuburan serta pembangkitan. karena dunia adalah sebuah kekacauan di tahun kesembilan belas, lalu kehidupannya adalah sebuah anti kemapanan, sebuah puisi atau prosa yang tidak beraturan.
bogor, 19 april 2002
Monday, April 15, 2002
cerita kesepuluh untuk qq
aku ingin melihatmu tanpa kisah tanpa resah seperti daun-daun yang jatuh ke tanah tanpa peduli apa ah duka ah luka bumi sedang mati nestapa lalu semua menggema dalam dada melihat kubur terbuka mayat hilang dan mulut-mulut tergangga di antara bau dan suatu keheranan belaka aku masih ingin melihatmu di antara permainan mata dan ciuman cinta masih saja masih saja dengan mata setengah terbuka dan tertutup teriak riak-riak kita yang pernah bersama.
kegilaanku bertemu tembok kematian yang sudah terkubur dalam-dalam seperti tembok berlin yang dahulu kala memisahkan darah dan meruakkan daging hati dan manusia lalu ada kita yang mati tanpa kosakata tanpa penjelasan di atas nisan yang sudah hilang entah kemana mengapa semuanya menjadi sulit terbaca seperti tulisan ini cerita yang terakhir saja untuk hari ini dan esok hari.
sudah sudah aku ingin berduka seperti kedukaan kawanku pada kakeknya kemarin sore jangan jangan hapus air mata karena yang harus mengalir haruslah mengalir.
aku ingin melihatmu tanpa kisah tanpa resah seperti daun-daun yang jatuh ke tanah tanpa peduli apa ah duka ah luka bumi sedang mati nestapa lalu semua menggema dalam dada melihat kubur terbuka mayat hilang dan mulut-mulut tergangga di antara bau dan suatu keheranan belaka aku masih ingin melihatmu di antara permainan mata dan ciuman cinta masih saja masih saja dengan mata setengah terbuka dan tertutup teriak riak-riak kita yang pernah bersama.
kegilaanku bertemu tembok kematian yang sudah terkubur dalam-dalam seperti tembok berlin yang dahulu kala memisahkan darah dan meruakkan daging hati dan manusia lalu ada kita yang mati tanpa kosakata tanpa penjelasan di atas nisan yang sudah hilang entah kemana mengapa semuanya menjadi sulit terbaca seperti tulisan ini cerita yang terakhir saja untuk hari ini dan esok hari.
sudah sudah aku ingin berduka seperti kedukaan kawanku pada kakeknya kemarin sore jangan jangan hapus air mata karena yang harus mengalir haruslah mengalir.
:ay
karna nisanmu mengundangku
dengan ukirannya
yang tak biasa
pada batu
dimana waktu hilang
menjadi tak perlu
sama seperti ketika kematian memelukku
hangat
bukan dingin
tanpa kata-kata
kuburnya hilang lagi pagi ini
bunga-bunga ingin kulempar ke atas tanah
atau kutaruh saja di atas kuburmu?
:patut berdukakah aku?
atau kubuang saja semua kuning bendera
hingga tanpa sisa
hingga tanpa luka
karna nisanmu mengundangku
dengan ukirannya
yang tak biasa
pada batu
dimana waktu hilang
menjadi tak perlu
sama seperti ketika kematian memelukku
hangat
bukan dingin
tanpa kata-kata
kuburnya hilang lagi pagi ini
bunga-bunga ingin kulempar ke atas tanah
atau kutaruh saja di atas kuburmu?
:patut berdukakah aku?
atau kubuang saja semua kuning bendera
hingga tanpa sisa
hingga tanpa luka
Sunday, April 14, 2002
Thursday, April 04, 2002
cerita kesembilan untuk qq
sembilan belas tahun sudah kulewati semenjak kuhirup udara di luar udara dalam rahim ibuku. ah yah, tepat hari ini katamu mengingatkanku, doamu agar kudapatkan suatu kehidupan yang indah. ah yah, lagi-lagi katamu semoga kau terus menulis, lalu untuk bersikap lebih dewasa dan terakhir untuk mencintai orang yang dicintai. yaitu kau!
aku ingat tiga hari yang lalu, di antara deretan kabel dan hati yang nyaris rusak. kita menyusun rencana paling gila, lebih gila daripada yang pernah ada, segila-gilanya. untuk mempertemukan tiga orang dengan kepala dan hati yang berbeda-beda, lalu menyatukannya dengan damai dan geleng-geleng kepala. cinta segitiga, bukan segi dua, segi empat atau segi-segi lainnya. kau gila, rutukku dalam hati. tapi kau tahu itu, aku pun tahu itu. kita selalu lupa sampai batas mana kewarasan kita pada tatanan ideal dunia nyata. namun dunia mimpi pun tidak sejentik jaripun pernah kita sentuh air segarnya, dan yah lagi-lagi kita tahu itu.
ceritaku menjadi jengah sewaktu aku tenggelam di dalamnya, masihkah ada cemburu di hatimu? aku pun tak mengerti, hanya kosong, hanya melompong, bercinta tanpa cinta itu sendiri. karena hanya kau yang tahu bagaimana membabibutanya tulisan-tulisan rinduku yang terkumpul seratus halaman lebih panjangnya selama setahun terakhir. kumpulan tulisan itu akan kubukukan secepatnya, kuberikan dengan semua hati dan darah yang tertinggal di dalam nadi. kau ingat denyut kita hari itu? berkejaran seperti sepasang kupu-kupu di musim kawin, lukisan memang indah, tetapi goresan selalu kasar dan kusam.
bogor-jakarta, 4 april 2002
sembilan belas tahun sudah kulewati semenjak kuhirup udara di luar udara dalam rahim ibuku. ah yah, tepat hari ini katamu mengingatkanku, doamu agar kudapatkan suatu kehidupan yang indah. ah yah, lagi-lagi katamu semoga kau terus menulis, lalu untuk bersikap lebih dewasa dan terakhir untuk mencintai orang yang dicintai. yaitu kau!
aku ingat tiga hari yang lalu, di antara deretan kabel dan hati yang nyaris rusak. kita menyusun rencana paling gila, lebih gila daripada yang pernah ada, segila-gilanya. untuk mempertemukan tiga orang dengan kepala dan hati yang berbeda-beda, lalu menyatukannya dengan damai dan geleng-geleng kepala. cinta segitiga, bukan segi dua, segi empat atau segi-segi lainnya. kau gila, rutukku dalam hati. tapi kau tahu itu, aku pun tahu itu. kita selalu lupa sampai batas mana kewarasan kita pada tatanan ideal dunia nyata. namun dunia mimpi pun tidak sejentik jaripun pernah kita sentuh air segarnya, dan yah lagi-lagi kita tahu itu.
ceritaku menjadi jengah sewaktu aku tenggelam di dalamnya, masihkah ada cemburu di hatimu? aku pun tak mengerti, hanya kosong, hanya melompong, bercinta tanpa cinta itu sendiri. karena hanya kau yang tahu bagaimana membabibutanya tulisan-tulisan rinduku yang terkumpul seratus halaman lebih panjangnya selama setahun terakhir. kumpulan tulisan itu akan kubukukan secepatnya, kuberikan dengan semua hati dan darah yang tertinggal di dalam nadi. kau ingat denyut kita hari itu? berkejaran seperti sepasang kupu-kupu di musim kawin, lukisan memang indah, tetapi goresan selalu kasar dan kusam.
bogor-jakarta, 4 april 2002
Wednesday, March 27, 2002
Monday, March 25, 2002
cerita kedelapan untuk qq
detik ini, fiksi ini mencapai sepotong angka yang berputar seperti ular atau mungkin sebuah roti di toko bakeri yang melingkar-lingkar. kata-kata ini seperti eksperimen kimiawi di atas tuts-tuts hitam, eksperimen kimiawi sekumpulan cerita-cerita untukmu seorang. adalah kau! yang begitu kugilai untuk kutulis dan untuk kujadikan dewa di antara tulisan-tulisanku, atau mungkin tuhan karena keterpanaanku pada manusia-manusia yang memberhalakan segala hal.
biarkanlah aku bercerita suatu hal, suatu senja yang semarak dengan pecahan kaca dan ada diriku di antaranya. aku, sebuah metromini ibukota, sepotong tongkat besi dan hujan beling kering. memang kekerasan adalah makanan sehari-sehari ibukota atau lebih tepatnya suatu kebiasaan. sejenak aku membenci diriku yang nyaris dihujami kaca bis metromini, karena seperti orang gagu aku menjadi penonton setia kehidupan yang berlalu. senja yang berlalu dengan pilu, penuh amarah dari penggengam tongkat besi.
radio masih bergema dengan pengadilan, aku jatuh ke tanah mendengarkan dakwaan yang berjalan nyaris satu jam lamanya untuk membicarakan detail-detail peluru anak sang jendral tua. aku muntah tepat di depan muka, lalu setengah berpikir tak bisakah hakim berkacamata membaca sendiri dengan seksama. kawan dekatku hanya tertawa, pahit, miris dan dengan sangat sarkistis. hukum di negeri ini memang sebuah sandiwara, melebihi cerita wayang, katanya dengan tawa membahana, ha-ha-ha-ha.
aku mati hari itu, berkali-kali, dibunuh diri sendiri dan dibunuh oleh udara yang kuhirup. aku menghentikan doa-doa dan menyembahmu sejadi-jadinya.
detik ini, fiksi ini mencapai sepotong angka yang berputar seperti ular atau mungkin sebuah roti di toko bakeri yang melingkar-lingkar. kata-kata ini seperti eksperimen kimiawi di atas tuts-tuts hitam, eksperimen kimiawi sekumpulan cerita-cerita untukmu seorang. adalah kau! yang begitu kugilai untuk kutulis dan untuk kujadikan dewa di antara tulisan-tulisanku, atau mungkin tuhan karena keterpanaanku pada manusia-manusia yang memberhalakan segala hal.
biarkanlah aku bercerita suatu hal, suatu senja yang semarak dengan pecahan kaca dan ada diriku di antaranya. aku, sebuah metromini ibukota, sepotong tongkat besi dan hujan beling kering. memang kekerasan adalah makanan sehari-sehari ibukota atau lebih tepatnya suatu kebiasaan. sejenak aku membenci diriku yang nyaris dihujami kaca bis metromini, karena seperti orang gagu aku menjadi penonton setia kehidupan yang berlalu. senja yang berlalu dengan pilu, penuh amarah dari penggengam tongkat besi.
radio masih bergema dengan pengadilan, aku jatuh ke tanah mendengarkan dakwaan yang berjalan nyaris satu jam lamanya untuk membicarakan detail-detail peluru anak sang jendral tua. aku muntah tepat di depan muka, lalu setengah berpikir tak bisakah hakim berkacamata membaca sendiri dengan seksama. kawan dekatku hanya tertawa, pahit, miris dan dengan sangat sarkistis. hukum di negeri ini memang sebuah sandiwara, melebihi cerita wayang, katanya dengan tawa membahana, ha-ha-ha-ha.
aku mati hari itu, berkali-kali, dibunuh diri sendiri dan dibunuh oleh udara yang kuhirup. aku menghentikan doa-doa dan menyembahmu sejadi-jadinya.
Thursday, March 21, 2002
Tuesday, March 19, 2002
Soneta LXVI
-Pablo Neruda
Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu;
aku pergi dari mencintaimu menjadi tidak mencintaimu,
dari menunggu menjadi tidak menunggu dirimu
hatiku berjalan dari dingin menjadi berapi.
Aku mencintaimu hanya karena kamulah yang aku cinta;
aku membencimu tanpa henti,
dan membencimu bertekuk kepadamu
dan besarnya cintaku yang berubah untukmu adalah bila aku tidak mencintaimu tetapi mencintaimu dengan buta.
Mungkin cahaya bulan Januari akan memamah hatiku dengan sinar kejamnya,
mencuri kunciku pada ketenangan sejati.
Dalam bagian cerita ini hanya akulah yang mati, hanya satu-satunya,
dan aku akan mati karena cinta karena aku mencintaimu.
karena aku mencintaimu, cintaku, dalam api dan dalam darah.
-terjemahanku
yah, karena aku begitu gila menulismu, aku jatuh, lalu mati dan buta.
-Pablo Neruda
Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu;
aku pergi dari mencintaimu menjadi tidak mencintaimu,
dari menunggu menjadi tidak menunggu dirimu
hatiku berjalan dari dingin menjadi berapi.
Aku mencintaimu hanya karena kamulah yang aku cinta;
aku membencimu tanpa henti,
dan membencimu bertekuk kepadamu
dan besarnya cintaku yang berubah untukmu adalah bila aku tidak mencintaimu tetapi mencintaimu dengan buta.
Mungkin cahaya bulan Januari akan memamah hatiku dengan sinar kejamnya,
mencuri kunciku pada ketenangan sejati.
Dalam bagian cerita ini hanya akulah yang mati, hanya satu-satunya,
dan aku akan mati karena cinta karena aku mencintaimu.
karena aku mencintaimu, cintaku, dalam api dan dalam darah.
-terjemahanku
yah, karena aku begitu gila menulismu, aku jatuh, lalu mati dan buta.
Friday, March 15, 2002
Wednesday, March 13, 2002
Sunday, March 10, 2002
aku ingin merokok dan bercinta denganmu
tepat di ruang tamu itu
dengan lantainya yang berkotak hitam putih berpetak-petak
aku tak minta asbak bisa bicara saat itu
walau tembok melihat dengan seksama
apa yang diperdebatkan
apa yang didiskusikan
sewaktu kita pun sadar
berapa panjang lagi umur kita bersama di dunia
-bis kota, 06.03.02
tepat di ruang tamu itu
dengan lantainya yang berkotak hitam putih berpetak-petak
aku tak minta asbak bisa bicara saat itu
walau tembok melihat dengan seksama
apa yang diperdebatkan
apa yang didiskusikan
sewaktu kita pun sadar
berapa panjang lagi umur kita bersama di dunia
-bis kota, 06.03.02
cerita ketujuh untuk qq
seorang perempuan datang di kota bunga, datang sore itu bersama seorang laki-laki. laki-laki itu bukan kau, dia seorang penjaga. dia menjaganya sepenuh hati sampai waktu menginjak bulan ketujuh, dia terkadang mungkin ingin meninjumu tepat di pelipis kiri. dia menawarkan perempuan itu sebungkus rokok di suatu tepian tangga, dan malam itu mereka tidur berdua, saling bersisian, menjaga, itu saja. karena lelah begitu tak terkandung, berjalan sepanjang jalan panjang melewati pelacur-pelacur dan menginap di hotel tua. karena dia adalah penjaga bukan si pecinta.
seorang perempuan datang di kota bunga, datang sore itu bersama seorang laki-laki. laki-laki itu bukan kau, dia seorang penjaga. dia menjaganya sepenuh hati sampai waktu menginjak bulan ketujuh, dia terkadang mungkin ingin meninjumu tepat di pelipis kiri. dia menawarkan perempuan itu sebungkus rokok di suatu tepian tangga, dan malam itu mereka tidur berdua, saling bersisian, menjaga, itu saja. karena lelah begitu tak terkandung, berjalan sepanjang jalan panjang melewati pelacur-pelacur dan menginap di hotel tua. karena dia adalah penjaga bukan si pecinta.
Friday, March 08, 2002
fragmen-fragmen cerita ini untuk seorang laki-laki*
Dia adalah sebuah misteri yang datang dan pergi. Aku bertemu dengan misteri itu pada sebuah senja yang mendung, udaranya pekat, juga lengket khas dengan bau hujan yang menjadi prolog. Waktu itu ia mengenakan sweater merah pucat dengan sablon di dada kiri berwarna putih, samar dan tak terbaca, singkatnya nyaris hilang dan celana jeans biru muda dengan lubang di lutut kanan. Matanya seperti elang langsung menatap langsung dan menusuk, hidungnya bangir, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya cukup pendek tetapi tidak rapi seperti cukuran standard seorang serdadu. Tetapi dia bukanlah seorang serdadu, dia seorang pecinta yang datang untuk menagih sebuah hati.
Dia datang untukku. Hatiku.
Ruang tamu rumah itu, kursi-kursinya cukup tua sehingga kempis dan bantalannya agak melesak ke dalam. Dia duduk di pojokan salah satu kursi dan aku menempatkan diri di hadapannya. Tangannya menyentuh dagu sewaktu aku melewatinya. Aku mengamatinya, tajam matanya, kulit sawo matangnya, dadanya, pundak dan detil-detik tubuhnya. Entah kapan aku menjadi begitu jalang dalam liarnya tatapan, terutama padanya, si pecinta berbaju merah pucat.
Aku pun seorang pecinta, dan aku datang untuknya, tetapi kemejaku kotak-kotak warna krem dan celanaku hitam. Itulah yang membedakan kami.
Dan kami tiba di tempat itu untuk bercinta, satu hari satu malam, dimana-mana. Senja sudah menagih janji kami untuk bercinta, karena malam akan tiba dan waktu akan menjadi semakin pendek. Tetapi cinta bukanlah sekedar basa-basi, waktu mengujinya. Lalu kami bercinta dengan kata, dengan udara, dengan ciuman, dengan tubuh, dengan jiwa, masih dimana-mana.
Si pecinta pergi keesokan harinya, meninggalkan satu amplop coklat yang berisi sebuah foto pribadi, tumpukan pembatas buku dan segenggam kartu nama. Aku lari mengejar kereta, untuk pergi dan kembali. Karena dia masih sebuah misteri, juga aku.
Sebulan kemudian aku kembali, masih dengan kereta yang itu-itu juga melewati jalur yang itu-itu juga. Kota itu masih sama, dan si pecinta masih datang dengan keagresifan yang sama, dengan tatapan yang sama dan dengan hati yang sama. Aku datang membawa diriku seorang, demi sebuah penjagalan yang diatur oleh waktu setahun kemudian.
Dia menyambut dengan senyum, kubalas dengan senyum. Kami ingin mati di buaian matras bermalam-malam berikutnya sambil mengali lubang kuburan dalam kamarnya yang tak begitu dalam tetapi menembus langit malam. Kamar itu tidak kutemukan sebulan kemudian, melainkan sebuah kamar yang merah karena luka, mungkin oleh bekas darah.
“Dimana kuburan kita?” aku bertanya pada si pecinta.
“Sudah hilang karena harga sewanya semakin mahal, aku membakarnya tadi malam lalu kutebar di dalam kabut merah untuk mewarnai kamar ini. Setahuku kau suka merah, bukankah begitu?”
Kamar itu kuciumi, masih segar memang dengan api yang membara dan merah yang begitu menawan. Dia kuciumi, masih segar dengan bau sabun setelah mandi jam lima sore..............
(bersambung)
*semoga bisa berlanjut menjadi sebuah buku
Dia adalah sebuah misteri yang datang dan pergi. Aku bertemu dengan misteri itu pada sebuah senja yang mendung, udaranya pekat, juga lengket khas dengan bau hujan yang menjadi prolog. Waktu itu ia mengenakan sweater merah pucat dengan sablon di dada kiri berwarna putih, samar dan tak terbaca, singkatnya nyaris hilang dan celana jeans biru muda dengan lubang di lutut kanan. Matanya seperti elang langsung menatap langsung dan menusuk, hidungnya bangir, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya cukup pendek tetapi tidak rapi seperti cukuran standard seorang serdadu. Tetapi dia bukanlah seorang serdadu, dia seorang pecinta yang datang untuk menagih sebuah hati.
Dia datang untukku. Hatiku.
Ruang tamu rumah itu, kursi-kursinya cukup tua sehingga kempis dan bantalannya agak melesak ke dalam. Dia duduk di pojokan salah satu kursi dan aku menempatkan diri di hadapannya. Tangannya menyentuh dagu sewaktu aku melewatinya. Aku mengamatinya, tajam matanya, kulit sawo matangnya, dadanya, pundak dan detil-detik tubuhnya. Entah kapan aku menjadi begitu jalang dalam liarnya tatapan, terutama padanya, si pecinta berbaju merah pucat.
Aku pun seorang pecinta, dan aku datang untuknya, tetapi kemejaku kotak-kotak warna krem dan celanaku hitam. Itulah yang membedakan kami.
Dan kami tiba di tempat itu untuk bercinta, satu hari satu malam, dimana-mana. Senja sudah menagih janji kami untuk bercinta, karena malam akan tiba dan waktu akan menjadi semakin pendek. Tetapi cinta bukanlah sekedar basa-basi, waktu mengujinya. Lalu kami bercinta dengan kata, dengan udara, dengan ciuman, dengan tubuh, dengan jiwa, masih dimana-mana.
Si pecinta pergi keesokan harinya, meninggalkan satu amplop coklat yang berisi sebuah foto pribadi, tumpukan pembatas buku dan segenggam kartu nama. Aku lari mengejar kereta, untuk pergi dan kembali. Karena dia masih sebuah misteri, juga aku.
Sebulan kemudian aku kembali, masih dengan kereta yang itu-itu juga melewati jalur yang itu-itu juga. Kota itu masih sama, dan si pecinta masih datang dengan keagresifan yang sama, dengan tatapan yang sama dan dengan hati yang sama. Aku datang membawa diriku seorang, demi sebuah penjagalan yang diatur oleh waktu setahun kemudian.
Dia menyambut dengan senyum, kubalas dengan senyum. Kami ingin mati di buaian matras bermalam-malam berikutnya sambil mengali lubang kuburan dalam kamarnya yang tak begitu dalam tetapi menembus langit malam. Kamar itu tidak kutemukan sebulan kemudian, melainkan sebuah kamar yang merah karena luka, mungkin oleh bekas darah.
“Dimana kuburan kita?” aku bertanya pada si pecinta.
“Sudah hilang karena harga sewanya semakin mahal, aku membakarnya tadi malam lalu kutebar di dalam kabut merah untuk mewarnai kamar ini. Setahuku kau suka merah, bukankah begitu?”
Kamar itu kuciumi, masih segar memang dengan api yang membara dan merah yang begitu menawan. Dia kuciumi, masih segar dengan bau sabun setelah mandi jam lima sore..............
(bersambung)
*semoga bisa berlanjut menjadi sebuah buku
Tuesday, March 05, 2002
cerita keenam untuk qq
gagang telpon bergantungan di tembok kusam, karena yang tersisa hanya suara-suara kerinduan yang penuh kegelisahan. resah, desah lalu mengeliat pelan, semuanya masih berdetak seiring jam dinding di tembok seberang. pukul satu pagi, tubuh mereka berdentang, pada lantai hitam dan kasur kapuk. pernahkah terpikirkan untuk berhenti pada puncak pertentangan, perang dan segala kegaduhan? mereka masuk beriringan, kamar di selatan dan kamar di utara jalan. beronani sendirian dalam kegelapan untuk satu malam yang binal, lagi-lagi sendirian.
gagang telpon bergantungan di tembok kusam, karena yang tersisa hanya suara-suara kerinduan yang penuh kegelisahan. resah, desah lalu mengeliat pelan, semuanya masih berdetak seiring jam dinding di tembok seberang. pukul satu pagi, tubuh mereka berdentang, pada lantai hitam dan kasur kapuk. pernahkah terpikirkan untuk berhenti pada puncak pertentangan, perang dan segala kegaduhan? mereka masuk beriringan, kamar di selatan dan kamar di utara jalan. beronani sendirian dalam kegelapan untuk satu malam yang binal, lagi-lagi sendirian.
cerita-ceritaku untukmu masih belum selesai disini saja, aku tidak akan berhenti sebelum menuliskan setebal satu buku tulis yang benar-benar tebal. tetapi janganlah kau terjerembab jika suatu hari kuserahkan sebuah buku lusuh penuh dengan coretan yang sedikitpun kau tidak ketahui keberadaan penulisan cerita-cerita itu. karena cerita-cerita untukmu juga terselip cerita-cerita kita, cerita-cerita yang juga untukku.
Sunday, February 24, 2002
cerita kelima untuk qq
dua minggu bukan tanpa air mata dan suatu penggoresan bilah-bilah pisau kayu pada hati. dua minggu juga bukan untuk sebuah pemukiman yang dituntut raga, tetapi pengembaraan yang tiada henti, tiada pulang, tiada pergi, hanya perjalanan itu sendiri. kita pun teronggok mati, dengan kepala tengadah dan mulut yang berbusa di suatu pagi buta. melewati kabel-kabel dan kecepatan suara, malaikat-malaikat itu mengantarkan kita. bukan pada maut, karena bukan pada waktu kita terhadapkan. tetapi pada cinta yang mempunyai jeda dan membutuhkan celah untuk bernafas sekali lagi.
dan pada nagari yang bukan negeri, tuan yang bukan tuan kita berdua berdiri. terkaget-kaget melihat instantnya revolusi pada pantulan dua gelas yang dipecahkan angin malam di meja makan. lagi-lagi jeda, lagi-lagi celah, tetapi mengapa dunia sejenak begitu kosong dan sepi untuk dua manusia.
dua minggu bukan tanpa air mata dan suatu penggoresan bilah-bilah pisau kayu pada hati. dua minggu juga bukan untuk sebuah pemukiman yang dituntut raga, tetapi pengembaraan yang tiada henti, tiada pulang, tiada pergi, hanya perjalanan itu sendiri. kita pun teronggok mati, dengan kepala tengadah dan mulut yang berbusa di suatu pagi buta. melewati kabel-kabel dan kecepatan suara, malaikat-malaikat itu mengantarkan kita. bukan pada maut, karena bukan pada waktu kita terhadapkan. tetapi pada cinta yang mempunyai jeda dan membutuhkan celah untuk bernafas sekali lagi.
dan pada nagari yang bukan negeri, tuan yang bukan tuan kita berdua berdiri. terkaget-kaget melihat instantnya revolusi pada pantulan dua gelas yang dipecahkan angin malam di meja makan. lagi-lagi jeda, lagi-lagi celah, tetapi mengapa dunia sejenak begitu kosong dan sepi untuk dua manusia.
Wednesday, February 20, 2002
Saturday, February 16, 2002
Wednesday, February 13, 2002
Sepotong Cerita Dalam Kamar
:Qq
Satu minggu sudah terlewati sejak kutinggalkan kamar bertembok merah terakota, ukurannya kurang lebih empat kali enam meter atau empat kali lima meter, entah, setiap kuhabiskan waktu disana aku tidak pernah membawa meteran. Lagu yang terlintas selalu berganti-ganti, kadang-kadang diiringi suara tawa sekumpulan laki-laki dari tembok belakang, suara motor pun kerap terdengar begitu jelas dan telanjang. Aku masih ingat bagaimana kau menari dangdut di depan kaca, di depanku dan diatas lantai yang juga merah bata, dan ijinkanlah aku tertawa lima menit sebelum melanjutkan cerita ini. Satu menit untuk membayangkan, dua menit untuk tersenyum, satu menit untuk tertawa terbahak dan satu menit terakhir untuk menenangkan nafasku yang nyaris tersedak.
Pertama kali kujejakkan kakiku di lantai merah bata itu, seperti menjejakkan lagi diriku dalam kehidupanmu, setelah nyaris, ah, tiga ratus lima puluh enam hari kulewati dengan rindu pada langit-langit kamarmu. Langit itu sudah berubah kini, tidak setinggi yang dulu tetapi juga tidak sekotor yang dulu, lebih bersih tanpa sarang laba-laba dan temboknya baru saja kau cat merah terakota dan pada pintu tergantung tas ranselmu yang juga merah. “Sejak kapan kau suka merah?”tanyaku. “Mungkin sejak kita sama-sama berdarah di bulan keenam yang lalu, kau ingat?”. Aku ingat, bulan itu aku jatuh cinta pada merah karena hatiku yang begitu berdarah, bulan itu juga ransel abu-abuku sobek parah dan sebagai gantinya kubeli ransel merah nyaris persis sama dengan yang tergantung pada belakang pintu kamarmu.
Air panas masih kau jerangkan, kau cuci cangkir besi di bawah sindiran, kemudian bubuk coklat, gula dan air panas, serta sendok kecil kau sorongkan. Waktu itu hujan menerjang tirai bambu, cangkir besi kita telan bersama dengan coklat panas, “Kau lapar?” tanyamu sambil mengunyah sepotong besi, sewaktu melihat sore tiba di kota senja.
Foto-fotomu pernah kau telanjangi sendiri, di depan mataku. Tidak hanya dirimu, orangtua, kakak, adik, kawan-kawanmu tetapi juga perempuan-perempuanmu. Aku hanya tidak melihat diriku, karena yang kutahu tentangku telah kau simpan begitu rapi pada suatu pojokan tumpukan pakaian-pakaianmu. Kuminta segelas air hanya untuk mencegah sesuatu dari dalamku, bodoh, foto warna sephiamu, bertelanjang dada nyaris mengundang nafsu. Mungkin tengah malam akan diam-diam kuselipkan pergi.
Hari yang kedua puluh satu dan malam yang kedua puluh, aku terkunci di depan pintu dan pada teras pintumu aku mengetuk, dan kaus hitammu kujadikan baju tidurku. Satu kasur berdua dan mereka begitu berbahagia, malaikat-malaikat kita, jika mereka pernah ada, dan setan pun tak masalah begitu katamu. Malam telah tiba dan semuanya gelap, hanya siluet-siluet dari lampu jalanan, pada punggung, pada leher, pada dada dan terkadang pada mata yang menyala. Potongan-potongan hitam putih yang mengganggu mataku, seperti buta warna yang tak perlu. Sudah berapa lama kasur ini kita tiduri bersama?
Cermin itu mungkin akan bersaksi nanti atau menuliskan cerita sendiri ketika kau sedang bercukur dan bayanganku berada di punggungmu, pagi-pagi sekali sewaktu kau belum juga mandi. Sejenak dunia begitu jenaka di kamar merah terakota, waktu mati, cinta mati, semua puisi dan segenap tulisan mati kecuali secarik surat yang kubuat pukul delapan pagi setelah perpisahan rasa kopi, hanya satu jam sebelum aku menggantung diri, masih juga di kamar itu yang bertembok merah terakota. Bukankah warna-warna di kamarmu akan semakin semerbak memerah?
Yogyakarta, 6 Febuari 2002
Satu minggu sudah terlewati sejak kutinggalkan kamar bertembok merah terakota, ukurannya kurang lebih empat kali enam meter atau empat kali lima meter, entah, setiap kuhabiskan waktu disana aku tidak pernah membawa meteran. Lagu yang terlintas selalu berganti-ganti, kadang-kadang diiringi suara tawa sekumpulan laki-laki dari tembok belakang, suara motor pun kerap terdengar begitu jelas dan telanjang. Aku masih ingat bagaimana kau menari dangdut di depan kaca, di depanku dan diatas lantai yang juga merah bata, dan ijinkanlah aku tertawa lima menit sebelum melanjutkan cerita ini. Satu menit untuk membayangkan, dua menit untuk tersenyum, satu menit untuk tertawa terbahak dan satu menit terakhir untuk menenangkan nafasku yang nyaris tersedak.
Pertama kali kujejakkan kakiku di lantai merah bata itu, seperti menjejakkan lagi diriku dalam kehidupanmu, setelah nyaris, ah, tiga ratus lima puluh enam hari kulewati dengan rindu pada langit-langit kamarmu. Langit itu sudah berubah kini, tidak setinggi yang dulu tetapi juga tidak sekotor yang dulu, lebih bersih tanpa sarang laba-laba dan temboknya baru saja kau cat merah terakota dan pada pintu tergantung tas ranselmu yang juga merah. “Sejak kapan kau suka merah?”tanyaku. “Mungkin sejak kita sama-sama berdarah di bulan keenam yang lalu, kau ingat?”. Aku ingat, bulan itu aku jatuh cinta pada merah karena hatiku yang begitu berdarah, bulan itu juga ransel abu-abuku sobek parah dan sebagai gantinya kubeli ransel merah nyaris persis sama dengan yang tergantung pada belakang pintu kamarmu.
Air panas masih kau jerangkan, kau cuci cangkir besi di bawah sindiran, kemudian bubuk coklat, gula dan air panas, serta sendok kecil kau sorongkan. Waktu itu hujan menerjang tirai bambu, cangkir besi kita telan bersama dengan coklat panas, “Kau lapar?” tanyamu sambil mengunyah sepotong besi, sewaktu melihat sore tiba di kota senja.
Foto-fotomu pernah kau telanjangi sendiri, di depan mataku. Tidak hanya dirimu, orangtua, kakak, adik, kawan-kawanmu tetapi juga perempuan-perempuanmu. Aku hanya tidak melihat diriku, karena yang kutahu tentangku telah kau simpan begitu rapi pada suatu pojokan tumpukan pakaian-pakaianmu. Kuminta segelas air hanya untuk mencegah sesuatu dari dalamku, bodoh, foto warna sephiamu, bertelanjang dada nyaris mengundang nafsu. Mungkin tengah malam akan diam-diam kuselipkan pergi.
Hari yang kedua puluh satu dan malam yang kedua puluh, aku terkunci di depan pintu dan pada teras pintumu aku mengetuk, dan kaus hitammu kujadikan baju tidurku. Satu kasur berdua dan mereka begitu berbahagia, malaikat-malaikat kita, jika mereka pernah ada, dan setan pun tak masalah begitu katamu. Malam telah tiba dan semuanya gelap, hanya siluet-siluet dari lampu jalanan, pada punggung, pada leher, pada dada dan terkadang pada mata yang menyala. Potongan-potongan hitam putih yang mengganggu mataku, seperti buta warna yang tak perlu. Sudah berapa lama kasur ini kita tiduri bersama?
Cermin itu mungkin akan bersaksi nanti atau menuliskan cerita sendiri ketika kau sedang bercukur dan bayanganku berada di punggungmu, pagi-pagi sekali sewaktu kau belum juga mandi. Sejenak dunia begitu jenaka di kamar merah terakota, waktu mati, cinta mati, semua puisi dan segenap tulisan mati kecuali secarik surat yang kubuat pukul delapan pagi setelah perpisahan rasa kopi, hanya satu jam sebelum aku menggantung diri, masih juga di kamar itu yang bertembok merah terakota. Bukankah warna-warna di kamarmu akan semakin semerbak memerah?
Yogyakarta, 6 Febuari 2002
Tuesday, February 12, 2002
sepiring nasi putih di atas sebuah monitor, sarapan pagi di kota yang selalu hujan, sarapan untuk satu tenggorokan yang nyaris hilang suara karena keringnya batuk-batuk. aku rindu pada sebuah kota yang menawarkan senjanya, begitu lembut, begitu lemah, dan mengundang rancu. sulap menyulap seorang penulis prosa yang nyaris berkata-kata dengan segala bentuk puisi, satu rim tumpukan novel gila yang seakan-akan mengonggongi nusantara dengan judulnya sampai pada penjuru dunia, penerbit sekaligus penerjemah yang nyaris putus asa, lalu pada buku-buku yang ditahan percetakan, buku-bukuku yang tertinggal dan satu diantaranya di tangan seorang penyair, masih pada kota senja, masih pada kerinduan itu. semuanya terhenti pada dia, ketika malam yang terakhir kuberbaring di sisinya. pukul lima pagi waktu itu, segelas kopi dan sebuah kunci. kunci kamarnya dan ciuman rasa kopi, dia pergi menuju sebuah kota di utara hanya untuk sementara, kepulangannya mungkin sebelum kereta api malam berderit menjemput ransel merah itu.
ransel merah itu aku.
terkunci pada pintu semalam itu.
ransel merah itu aku.
terkunci pada pintu semalam itu.
wahai, serigalaku yang kesepian
kadang aku tak mengerti apakah aku menyukaimu
membencimu
ingin membelaimu lembut
ataukah aku ingin menamparmu sekeras-kerasnya
serigalaku yang kesepian
yang menemaniku sewaktu kota senja
memasuki malamnya
pada subuh kau selalu menghilang lagi
tetapi aku tahu kau tak kan pulang ke sarangmu
karena jalanan adalah hidupmu
serigalaku yang kesepian
yang entah bagaimana kau pandang diriku
perempuan yang juga kesepian
ataukah hanya seseorang yang memberi belas kasihan
teman?
musuh?
atau suatu kekasih malam?
serigalaku yang kesepian
yang sering menampar batinku
dengan amarahnya yang meluap-luap
emosinya yang kadang kekanak-kanakkan
lalu kata-katanya yang menyakitkan
pernahkah kau terpikir
aku juga seringkali kesepian
tertidur bersebelahan dengan kecintaanku
serigalaku yang kesepian
aku tahu kita pernah juga tidur bersisian
juga pernah merasakan lugunya suatu permainan percintaan
tetapi kita hanya berbagi demikian
lalu lantas jadikah kau seorang gigolo jalanan
atau aku pelacur murahan?
melolonglah untukku sekali lagi
walau itu untuk salam perpisahan
serigalaku
yang masih saja kesepian
kadang aku tak mengerti apakah aku menyukaimu
membencimu
ingin membelaimu lembut
ataukah aku ingin menamparmu sekeras-kerasnya
serigalaku yang kesepian
yang menemaniku sewaktu kota senja
memasuki malamnya
pada subuh kau selalu menghilang lagi
tetapi aku tahu kau tak kan pulang ke sarangmu
karena jalanan adalah hidupmu
serigalaku yang kesepian
yang entah bagaimana kau pandang diriku
perempuan yang juga kesepian
ataukah hanya seseorang yang memberi belas kasihan
teman?
musuh?
atau suatu kekasih malam?
serigalaku yang kesepian
yang sering menampar batinku
dengan amarahnya yang meluap-luap
emosinya yang kadang kekanak-kanakkan
lalu kata-katanya yang menyakitkan
pernahkah kau terpikir
aku juga seringkali kesepian
tertidur bersebelahan dengan kecintaanku
serigalaku yang kesepian
aku tahu kita pernah juga tidur bersisian
juga pernah merasakan lugunya suatu permainan percintaan
tetapi kita hanya berbagi demikian
lalu lantas jadikah kau seorang gigolo jalanan
atau aku pelacur murahan?
melolonglah untukku sekali lagi
walau itu untuk salam perpisahan
serigalaku
yang masih saja kesepian
Subscribe to:
Posts (Atom)