Thursday, May 31, 2001
Wednesday, May 30, 2001
bingung, haruskah kumoncongkan senapan ini ke hadapan saudara-saudaraku? apa yang akan terjadi pada keluarganya? tak ada bedanya kami ini sebenarnya, mencoba untuk bertahan hidup. tapi mengapa sisi ini menjadi begitu berbeda dan mengapa harus peluru yang berbicara. bukan kata-kata. mengapa negeri ini melahirkan anak-anaknya untuk saling bertarung, saling menyalahkan, saling bunuh? apa maksudnya? lalu apa yang harus kudengarkan perintah atasan? atau teriakan-teriakan? bagaimana juga nasib keluargaku nanti jika aku dikeluarkan? bingung...aku bingung...tidakkah engkau juga merasakan?
panas...menembus kulit, daging, tulang...ah, panas sekeping metal panas menembus tubuh. kenapa? kenapa begini jadinya? belum habis kopiku, hanya menonton massa yang entah apa maksudnya. mempertahankan bapak? bapak siapa? aku tak tahu. yang kutahu hanya orang berlari lalu lalang dan aku juga ikut lari. terhenti sewaktu metal keparat itu menembus tubuhku. salah apa aku? salah apa keluargaku? salah apa negeri ini?
Tuesday, May 29, 2001
tolong bawa aku berkejapan, meliuk-liuk bersama angin, menghapus segala. aku tak kuat, menghilanglah bayang-bayang. bukan itu yang kumau, kuminta dekapanmu, hangatmu. kau tak perduli, membabi buta menerjang yang ada di depanmu.
ah, betapa, betapa kuatnya cengkramanmu dan aku hanya terhempas...
keras
dan aku luluh...
tenggelam dibawamu, bayang-bayangku. yang terkadang hitam, putih dan mengabu. seperti debu, kau terus mengelilingiku sampai kau lapuk bersamaku. masihkah ada lagi yang tersisa?
ah, betapa, betapa kuatnya cengkramanmu dan aku hanya terhempas...
keras
dan aku luluh...
tenggelam dibawamu, bayang-bayangku. yang terkadang hitam, putih dan mengabu. seperti debu, kau terus mengelilingiku sampai kau lapuk bersamaku. masihkah ada lagi yang tersisa?
Monday, May 28, 2001
aku terkadang benci pengertianku yang begitu mengerti menjadikan segalanya buram, menjadi hempasan-hempasan. tolong! dengarkan aku...
siapa yang berbicara? lidah, hati, pikiran...wujud sebuah perpecahan. ah...gila dibuatnya. matikan, oh matikan kehidupan. matikan, oh matikan nyala-nyala yang berlebihan.
diamku, diammu
hatiku, hatimu
dirimu
canduku...
hentikan, hentikan gejolak-gejolak yang terus bermain-main di kepalaku, dibawa nafsu, merasuk sumsum tulangku, melarikan hatiku...
cukup!!
terbangkan aku...keluarkan aku...
siapa yang berbicara? lidah, hati, pikiran...wujud sebuah perpecahan. ah...gila dibuatnya. matikan, oh matikan kehidupan. matikan, oh matikan nyala-nyala yang berlebihan.
diamku, diammu
hatiku, hatimu
dirimu
canduku...
hentikan, hentikan gejolak-gejolak yang terus bermain-main di kepalaku, dibawa nafsu, merasuk sumsum tulangku, melarikan hatiku...
cukup!!
terbangkan aku...keluarkan aku...
Sunday, May 27, 2001
Kepada Siapa Rakyat Bisa Percaya?
Kompas/alif ichwan
APA yang Anda pikirkan dan rasakan hari Minggu pagi ini? Biasa-biasa saja,tenang-tenang saja, acuh tak acuh,tidak peduli, tidak khawatir?Ataukah Anda bangun tidur dengan rasa tidak tenang, waswas atau takutdan mulai pasang kuda-kuda untuk mengamankan diri?
UNTUK hari-hari ini terkadang benar juga ungkapan "berbahagialah orang yang tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak mengetahui apa-apa".
hmm...sulit untuk berpura-pura
Kompas/alif ichwan
APA yang Anda pikirkan dan rasakan hari Minggu pagi ini? Biasa-biasa saja,tenang-tenang saja, acuh tak acuh,tidak peduli, tidak khawatir?Ataukah Anda bangun tidur dengan rasa tidak tenang, waswas atau takutdan mulai pasang kuda-kuda untuk mengamankan diri?
UNTUK hari-hari ini terkadang benar juga ungkapan "berbahagialah orang yang tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, tidak mengetahui apa-apa".
hmm...sulit untuk berpura-pura
Saturday, May 26, 2001
jalan itu bagaikan melindunginya. menari-nari di pinggiran jalan, tak perdulikan siapa yang melihatnya. di jalan ini dulu dia sering meloncat-loncat, bergandengan dan tertawa ceria. hujan pun dengan senang hati menemani. memercikkan titik-titik gerimisnya, bersenandung riang.
pohon-pohon besar yang cukup berumur itu menjadi riuh dengan tiupan-tiupan semilir. melihat tontonan yang mengasyikkan di tengah-tengah pentas hujan. tepukan mengiringi dengan rontoknya daun-daun tua memenuhi jalanan. jalan-jalan kotaku...
-buitenzorg, sometime last year...-
pohon-pohon besar yang cukup berumur itu menjadi riuh dengan tiupan-tiupan semilir. melihat tontonan yang mengasyikkan di tengah-tengah pentas hujan. tepukan mengiringi dengan rontoknya daun-daun tua memenuhi jalanan. jalan-jalan kotaku...
-buitenzorg, sometime last year...-
Friday, May 25, 2001
dia tertawa penuh canda. keluar dari sana sinar matahari yang selalu tertutup kabut abu-abu. kemilaunya sungguh menyilaukan. bahagia, bahagianya jiwa dan bersentuhanlah kesendirian. meleburlah dua menjadi satu. kenapa harus ada malu dalam bercinta. tak ada kemunafikan, tak ada yang tak perlu. semuanya itu ditelan hilang olehnya dan diukirnya sebuah kesatuan.
tak ada yang hilang, semuanya hanya menyatu...dalam udara, dalam nafas-nafas, dalam aliran-aliran denyut nadi, dalam air kehidupan. tetes-tetesnya membasuh semua yang ada, menyucikan dan menjahit kembali luka-luka lama. menjadi baru, menjadi seluruh, menjadi SATU.
dimana keragaman menjadi warna-warna yang menyala. menjadikan yang lain menjadi keunikan. dimana kata-kata tak lagi diam, namun menari-nari di antara lidah-lidah yang dulu kelu. dimana hati terbelah dan terisikan, penuh! semuanya terjadi sepersekian detik, dimana waktu tak lagi berarti.
-ls, djokja, jan 2001-
tak ada yang hilang, semuanya hanya menyatu...dalam udara, dalam nafas-nafas, dalam aliran-aliran denyut nadi, dalam air kehidupan. tetes-tetesnya membasuh semua yang ada, menyucikan dan menjahit kembali luka-luka lama. menjadi baru, menjadi seluruh, menjadi SATU.
dimana keragaman menjadi warna-warna yang menyala. menjadikan yang lain menjadi keunikan. dimana kata-kata tak lagi diam, namun menari-nari di antara lidah-lidah yang dulu kelu. dimana hati terbelah dan terisikan, penuh! semuanya terjadi sepersekian detik, dimana waktu tak lagi berarti.
-ls, djokja, jan 2001-
gelap. penuh warna warni artifisial. lampu-lampu yang ekspresif mengiringi lembaran-lembaran tubuh yang ditiup lagu-lagu penuh hentakan. lihat, lihatlah gerakannya seperti ingin bebas, ingin lepas. seperti berkelebatan apa yang ada di sana. kebebasan yang terlihat mengukung dan tak tentu arah. oh...berhentilah, diamlah, ada yang ingin menangkap semua itu. langit-langit yang penuh bintang buatan tangan, amatilah mata itu. berkaca-kaca, seperti sebuah gelas yang rapuh. memohon untuk dipecahkan dan ditarik keluar dari sana. jiwa yang berontaklah. jiwa yang ingin hidup.
tak seperti mata-mata di sekelilingnya, yang penuh kesunyian di antara keramaian. yang selalu bergejolak, menyembunyikan kesenduan hati yang malang, yang terus menerus terbelenggu. jangan biarkan dia disana...jangan biarkan matinya pelita yang sekilas menyala kembali. terpendam dulu di dalam sana secercah beranjak meninggalkan sarangnya. apa yang membuatnya?
tangan-tangan, bayang-bayang itu menyingkirkan logikanya. hati bicaralah. tangan-tangan tengadah, yang menusuk bagaikan ujung tombak yang tajam. tangan-tangan menghaturkan harap yang nyaris tak terpedulikan. dia masih bergerak, masih menari-nari, tarian yang liar namun sendu. tak kuat lagi, dia keluar, dia mencari...mencari mereka. tangan-tangan yang dilihatnya sebelum ia memasuki tempat itu. dimana-dimana mereka? hilang...
dia berhenti. terlambatkah? lalu pecahlah tangisnya...pecahlah hatinya...cairlah segalanya. mengalirlah semuanya...hati itu masih ada. melangkahlah, gerbang itu baru kaubuka. majulah...dan carilah mereka...
-hrc, batavia, desember 1999-
tak seperti mata-mata di sekelilingnya, yang penuh kesunyian di antara keramaian. yang selalu bergejolak, menyembunyikan kesenduan hati yang malang, yang terus menerus terbelenggu. jangan biarkan dia disana...jangan biarkan matinya pelita yang sekilas menyala kembali. terpendam dulu di dalam sana secercah beranjak meninggalkan sarangnya. apa yang membuatnya?
tangan-tangan, bayang-bayang itu menyingkirkan logikanya. hati bicaralah. tangan-tangan tengadah, yang menusuk bagaikan ujung tombak yang tajam. tangan-tangan menghaturkan harap yang nyaris tak terpedulikan. dia masih bergerak, masih menari-nari, tarian yang liar namun sendu. tak kuat lagi, dia keluar, dia mencari...mencari mereka. tangan-tangan yang dilihatnya sebelum ia memasuki tempat itu. dimana-dimana mereka? hilang...
dia berhenti. terlambatkah? lalu pecahlah tangisnya...pecahlah hatinya...cairlah segalanya. mengalirlah semuanya...hati itu masih ada. melangkahlah, gerbang itu baru kaubuka. majulah...dan carilah mereka...
-hrc, batavia, desember 1999-
Thursday, May 24, 2001
aku menangis
tanpa ada lagi arti kegetiran yang tersisa
kengerian yang menyelusuk terlalu dalam
aku benci mimpiku semalam
darah yang mengalir dimana-mana
terlalu banyak teriakan-teriakan
terlalu berparang-parang
yang tersisa hanya diam
kesunyian yang menangisi dirinya sendiri
dengan simbahan merahnya darah
mengering
hitam...
tanpa ada lagi arti kegetiran yang tersisa
kengerian yang menyelusuk terlalu dalam
aku benci mimpiku semalam
darah yang mengalir dimana-mana
terlalu banyak teriakan-teriakan
terlalu berparang-parang
yang tersisa hanya diam
kesunyian yang menangisi dirinya sendiri
dengan simbahan merahnya darah
mengering
hitam...
Wednesday, May 23, 2001
lembar-lembar buku itu, mulai menguning dimakan waktu, dimamah rindu. dengan goresan-goresan pensil, pena, ataupun bekas tetesan air mata. sejak kapan entah hanya diam terletak disana. sejak jejak peradaban menutupnya sejenak, untuk dibuka kembali di kala kesunyian kembali datang. kubaca ulang yang tertulis disana. puisi, coretan tak pasti, sketsa, dan surat-surat yang tak tersampaikan hanya sempat tertuliskan. jari jemariku kembali menari sejenak disana, menarikan kembali tarian-tarian kenangan-kenangan lama. diiringi sentimentalitas membiru, seperti tinta yang tertulis ataupun abu-abu yang mengabur...
ahh...betapa lekatnya...
ahh...betapa lekatnya...
aku dalam kesunyianku
ohh....rinduku......menyakitkan dan mengairahkan....
dimana dan apa yang dicari
dalam sunyi yang begitu menyelesak jiwa
meninggalkan kesendirian di pojok ruang
tak ada ketentuan
kebimbangan yang mengila
tergila...
dan begitu mudahnya sebuah pikiran terlarut dalam pertanyaan itu sendiri
ohh....rinduku......menyakitkan dan mengairahkan....
dimana dan apa yang dicari
dalam sunyi yang begitu menyelesak jiwa
meninggalkan kesendirian di pojok ruang
tak ada ketentuan
kebimbangan yang mengila
tergila...
dan begitu mudahnya sebuah pikiran terlarut dalam pertanyaan itu sendiri
Saturday, May 19, 2001
siapa yang melukis malam di kamarmu, langit-langit abu-abu yang berdebu berubah menjadi hamparan serbuk gemintang. juga gemericik sungai yang tersisa dari torehan-torehan hujan di dekat jendela kayu. jendela yang berubah menjadi batangan pohon, dimana kita duduk termanggu. dua butir permen berganti rupa menjadi bebuahan yang saling bergantungan di sekitar rimbun-rimbunan yang berasal dari meja kayu sederhanamu. lucu katamu sambil mencium keningku. sejak cinta merubah kamarmu menjadi keindahan alam yang tak berbatas.
Thursday, May 17, 2001
aku tak mengerti lagi
dimana proses pembelajaran sebenar-benarnya terletak
ilmu untuk apakah?
haruskah tersia-siakan
apakah yang membuatnya memanusiakan manusia
siapakah manusia?
apakah sekolah?
percetakan-percetakan stereotipekah?
mesin-mesin dengan alat-alatnya yang tak terlihat
apa yang menjadikannya agung
pengagung-agungan
yang kurasa hanya kejenuhan yang berlebihan...
dimana proses pembelajaran sebenar-benarnya terletak
ilmu untuk apakah?
haruskah tersia-siakan
apakah yang membuatnya memanusiakan manusia
siapakah manusia?
apakah sekolah?
percetakan-percetakan stereotipekah?
mesin-mesin dengan alat-alatnya yang tak terlihat
apa yang menjadikannya agung
pengagung-agungan
yang kurasa hanya kejenuhan yang berlebihan...
Wednesday, May 16, 2001
I Cry
Sometimes when I'm alone I cry
Because I'm on my own
The tears I cry are bitter warm
They flow with life but take no form
I cry because my heart is torn
I find it difficult to carry on
If I had an ear to confide in
I would cry among my treasured friend
But who do you know who stops that long
To help another carry on
The world moves fast and would rather pass by
Than to stop and see what makes one cry
So painful and sad
And sometimes....
I cry and no one cares about why.
By Tupac Amaru Shakur
Aku Menangis
Terkadang dalam kesendirian aku menangis
Karena aku hanya sendiri
Tangisku hangat pahit
Mengalir bersama kehidupan namun tak berbentuk
Aku menangis karena hatiku tersobek
Sulit bagiku untuk melanjutkan kehidupan
Jika saja aku mempunyai sebuah telinga yang dapat kupercaya
Aku akan menangis diantara kawan-kawanku yang berharga
Tetapi siapa yang kau tahu, yang akan berhenti begitu lama
Untuk membantu orang lain menempuh hidupnya
Dunia ini berputar terlalu cepat dan lebih seperti terlewat begitu saja
Lalu berhenti dan melihat apa yang membuat seseorang menangis
Begitu menyakitkan dan menyedihkan
Dan terkadang...
Aku menangis dan tak ada siapapun yang peduli tentang apa
By Tupac Amaru Shakur, translated by me.
Sometimes when I'm alone I cry
Because I'm on my own
The tears I cry are bitter warm
They flow with life but take no form
I cry because my heart is torn
I find it difficult to carry on
If I had an ear to confide in
I would cry among my treasured friend
But who do you know who stops that long
To help another carry on
The world moves fast and would rather pass by
Than to stop and see what makes one cry
So painful and sad
And sometimes....
I cry and no one cares about why.
By Tupac Amaru Shakur
Aku Menangis
Terkadang dalam kesendirian aku menangis
Karena aku hanya sendiri
Tangisku hangat pahit
Mengalir bersama kehidupan namun tak berbentuk
Aku menangis karena hatiku tersobek
Sulit bagiku untuk melanjutkan kehidupan
Jika saja aku mempunyai sebuah telinga yang dapat kupercaya
Aku akan menangis diantara kawan-kawanku yang berharga
Tetapi siapa yang kau tahu, yang akan berhenti begitu lama
Untuk membantu orang lain menempuh hidupnya
Dunia ini berputar terlalu cepat dan lebih seperti terlewat begitu saja
Lalu berhenti dan melihat apa yang membuat seseorang menangis
Begitu menyakitkan dan menyedihkan
Dan terkadang...
Aku menangis dan tak ada siapapun yang peduli tentang apa
By Tupac Amaru Shakur, translated by me.
Tuesday, May 15, 2001
apa yang bisa kuamati disini?
gedung? manusia? uang? junkfood? make up?
apa? apa? apa?
itu-itu lagi
tak banyak berbeda
masalah-masalah yang sama
kemonotonan yang tak habis-habisnya
tontonan manusia yang mengecewakan
yang diberikan nama "peradaban penuh kedamaian"
nyala-nyala manusia yang nyaris padam
mata-mata yang seperti robot
dibuat-buat
asing
mengerikan
kematian yang perlahan
apa ku terlalu sarkas?
gedung? manusia? uang? junkfood? make up?
apa? apa? apa?
itu-itu lagi
tak banyak berbeda
masalah-masalah yang sama
kemonotonan yang tak habis-habisnya
tontonan manusia yang mengecewakan
yang diberikan nama "peradaban penuh kedamaian"
nyala-nyala manusia yang nyaris padam
mata-mata yang seperti robot
dibuat-buat
asing
mengerikan
kematian yang perlahan
apa ku terlalu sarkas?
kau baru saja jatuh...
kilas balik saat pertama kau terantuk pelan baru saja belajar berjalan, cukup tergores waktu sepeda itu kau rem mendadak, cukup menyakitkan waktu pohon itu salah kau panjat, jatuh terbaret sedikit biru-biru sewaktu kau menghadapi lawanmu dalam pertandingan bola basket, menangis terpatah-patah sewaktu kau merasakan sakitnya jatuh cinta, pengkhianatan, kekecewaan, kesalahpahaman, dan berderet-deret goresan-goresan luka itu ditinggalkan. walau masih ada yang membekas, banyak yang sudah menghilang.
tak ingatkah kau? kau selalu bangun lagi...
kilas balik saat pertama kau terantuk pelan baru saja belajar berjalan, cukup tergores waktu sepeda itu kau rem mendadak, cukup menyakitkan waktu pohon itu salah kau panjat, jatuh terbaret sedikit biru-biru sewaktu kau menghadapi lawanmu dalam pertandingan bola basket, menangis terpatah-patah sewaktu kau merasakan sakitnya jatuh cinta, pengkhianatan, kekecewaan, kesalahpahaman, dan berderet-deret goresan-goresan luka itu ditinggalkan. walau masih ada yang membekas, banyak yang sudah menghilang.
tak ingatkah kau? kau selalu bangun lagi...
kau kira begitu mudah untukku bertahan, berdiri di atas kejenuhan dan kemuakan. berdiri dan mentertawakan semuanya. mentertawakan diri sendiri yang hampir mati dalam kehampaan. tak ada alasan diriku disini, sementara puntungan rokok itu terus kau hisap. napas-napasku yang mungkin bisa digantikannya. aku dan kehadiranku, apa artinya dalam pelarian. apa artinya jika batas-batas itu terlalu besar, terlalu tinggi untuk kita runtuhkan dan biarkan diri terhempas keras. hancur berkeping-keping. apakah mudah untuk merekatkan kepingan-kepingan itu kembali, jika saat itu tiba. batas-batas yang dipertuhankan.
Monday, May 14, 2001
Sunday, May 13, 2001
Saturday, May 12, 2001
cinta...
adakah yang kurasakan disekujur badan ini sewaktu pertama kali kau menatapku dan terus menerus mengalir dengan hangatnya memenuhi aliran-aliran nadiku. denyut-denyutnya yang menghidupkanku sampai saat ini. hujan di hari itu melingkupi sekeliling kita, memberikan secercah taburan-taburan kesegaran di atas gersangnya kehidupan.
cinta...
panas membara sepanjang jalan-jalan yang kita lalui. dingin selalu mencair di dalamnya. mabuk akan candumu, menunggu pagi yang terlelap. tak lagi hitam putih melihat pendaran malam berbintang, kulihat warna-warna terpantul memandang dalam mata-mata yang mengandung ribuan arti.
cinta...
tak ada batasanku...untukmu...
adakah yang kurasakan disekujur badan ini sewaktu pertama kali kau menatapku dan terus menerus mengalir dengan hangatnya memenuhi aliran-aliran nadiku. denyut-denyutnya yang menghidupkanku sampai saat ini. hujan di hari itu melingkupi sekeliling kita, memberikan secercah taburan-taburan kesegaran di atas gersangnya kehidupan.
cinta...
panas membara sepanjang jalan-jalan yang kita lalui. dingin selalu mencair di dalamnya. mabuk akan candumu, menunggu pagi yang terlelap. tak lagi hitam putih melihat pendaran malam berbintang, kulihat warna-warna terpantul memandang dalam mata-mata yang mengandung ribuan arti.
cinta...
tak ada batasanku...untukmu...
Friday, May 11, 2001
mungkin mata itu terlalu nanar menatap jalanan, disapunya tiap-tiap orang yang berlalu di pinggiran jalan. panasnya ibukota, membuat kepalanya sedikit berputar. perut itu masih kosong dari siang kemarin. tapi semangatnya masih membara, teringat anak sulungnya merengek meminta buku tulis dan peralatan sekolah yang baru. dan juga si bungsu yang menangis meminta susu, yang tak lagi keluar dari tetek ibunya. istrinya sekarang lemah terbaring, sewaktu vonis dokter mengatakan sakit ginjal. tak ada ruang di rumah sakit yang bisa tersedia, tepatnya menerima. hanya ambin setia itu yang menjadi tumpuannya. saksi bisu kehidupan mereka, bercinta, beranak dan mungkin kematian.
ah...dia tak mau memikirkan itu lagi. polesan di wajahnya hanya menambah muram suasana hatinya. baju istrinya tercetak dalam kelaki-lakiannya. lampu merah menyala. cek-kecrek-kecrek-kecrek...bunyi tutup botol-botol itu memberikan kepingan 500 rupiah dan beberapa gelengan kepala...
suatu hari di tepian jakarta, tahun 2000
ah...dia tak mau memikirkan itu lagi. polesan di wajahnya hanya menambah muram suasana hatinya. baju istrinya tercetak dalam kelaki-lakiannya. lampu merah menyala. cek-kecrek-kecrek-kecrek...bunyi tutup botol-botol itu memberikan kepingan 500 rupiah dan beberapa gelengan kepala...
suatu hari di tepian jakarta, tahun 2000
bayi
bayi seorang kawan
ibu remaja yang sehat
masaya, bayi perempuan yang sehat
empat minggu umurnya
matanya bundar
lucu
merah rambutnya
artikel yang kubaca hari ini
di negeriku
bayi-bayi kurang nutrisi
tak ada ibu yang menyusui
menetek pada kekeringan
kehampaan
tangisannya tergiang-giang ditelingaku
pilu
sejadi-jadinya...
11.05.01|daw
bayi seorang kawan
ibu remaja yang sehat
masaya, bayi perempuan yang sehat
empat minggu umurnya
matanya bundar
lucu
merah rambutnya
artikel yang kubaca hari ini
di negeriku
bayi-bayi kurang nutrisi
tak ada ibu yang menyusui
menetek pada kekeringan
kehampaan
tangisannya tergiang-giang ditelingaku
pilu
sejadi-jadinya...
11.05.01|daw
Thursday, May 10, 2001
Wednesday, May 09, 2001
Tuesday, May 08, 2001
apa yang bisa kutulis?
shear email:
dpt inspirasi buat puisi/syair dr mana biasanya ?
kalo ditanya 'kenapa poem' ? ( engga music, sport, jokes or anything else ).
lebih pd "proses pencarian jati diri", "pengasahan bakat" atau "ekspresi
diri" ?
tidak ada yg salah, hanya gabungan ketiga2nya...
apapun yang bisa dirasa...
shear email:
dpt inspirasi buat puisi/syair dr mana biasanya ?
kalo ditanya 'kenapa poem' ? ( engga music, sport, jokes or anything else ).
lebih pd "proses pencarian jati diri", "pengasahan bakat" atau "ekspresi
diri" ?
tidak ada yg salah, hanya gabungan ketiga2nya...
apapun yang bisa dirasa...
Monday, May 07, 2001
aksi pembakaran buku kiri tgl 20 mei 2001, oleh AAK(Aliansi Anti Komunis)
disertai sweeping buku2 kiri di toko2 buku, apa bakalan mengarah ke perpustakaan pribadi?
klo begini indonesia akan mengalami kemunduran intelektualisme!!
note:
-berita ini masuk di milis2 hampir seminggu yang lalu
-aksi menentang pembakaran buku kiri, tgl 20 mei 2001, kumpul di monas, ada yg mo ikut? ato ada usul laen?
disertai sweeping buku2 kiri di toko2 buku, apa bakalan mengarah ke perpustakaan pribadi?
klo begini indonesia akan mengalami kemunduran intelektualisme!!
note:
-berita ini masuk di milis2 hampir seminggu yang lalu
-aksi menentang pembakaran buku kiri, tgl 20 mei 2001, kumpul di monas, ada yg mo ikut? ato ada usul laen?
Sunday, May 06, 2001
tidak aku cuma termenung lagi, dan tidak mengerjakan apa-apa. kepalaku sakit, pikiranku sakit, hatiku merana menahan semua perasaan ini, semua pemikiran ini, semua yang ada padaku saat ini. aku tak kuasa untuk mengendalikannya lagi, dalam diam pun aku bergejolak. dan tiba-tiba semuanya dingin tertahan...airmata ini keluar tak terbendung...
Saturday, May 05, 2001
the ball?
don't ask, my feet is tired from dancing all nite in a f***ing 7 centimetre shoes (i can't believe i did that). i would never do that again!
the food was fine, the place was a bit tiny, the music was good, the photos took ages, the limo looked like a drive by car thought it's aight..., people had a great time, thought some bitches bother my eyes, the dancing...haha...that was hell good...but i got blisters now *ouch*
hmmm....the police car is around the neighbourhood, the sirene made me feel like i'm in L.A. or something...
don't ask, my feet is tired from dancing all nite in a f***ing 7 centimetre shoes (i can't believe i did that). i would never do that again!
the food was fine, the place was a bit tiny, the music was good, the photos took ages, the limo looked like a drive by car thought it's aight..., people had a great time, thought some bitches bother my eyes, the dancing...haha...that was hell good...but i got blisters now *ouch*
hmmm....the police car is around the neighbourhood, the sirene made me feel like i'm in L.A. or something...
Thursday, May 03, 2001
rindukan rintik-rintik air dari tepian langit
hujanku membasuh bumi yang kian panas...
yang ditunggu-tunggu
yang dinanti-nanti
dendangkan lagu aliran sungai
gemericiknya membuat alam ini menari-narikan tariannya
tari hujanku...
kecipak-kecipak-dung-dung
kecipak-kecipak-dung-dung
pentas jalanan pribadi...
aku dan hujanku
hujanku membasuh bumi yang kian panas...
yang ditunggu-tunggu
yang dinanti-nanti
dendangkan lagu aliran sungai
gemericiknya membuat alam ini menari-narikan tariannya
tari hujanku...
kecipak-kecipak-dung-dung
kecipak-kecipak-dung-dung
pentas jalanan pribadi...
aku dan hujanku
Wednesday, May 02, 2001
hanya resiko
:h.s.
dunia ini terlalu sepi
tidak katamu kau hanya membuatnya begitu
sejenak ketenangan itu tak lagi dibuat-buat
sewaktu kau ada disisi
katamu aku ini aneh
aneh yang menggayut
dan kaupun keasingan yang mengejutkan
terkadang mengesankan
aku suka menarikmu dari duniamu
entah jika kaupun sadari itu
sepertinya kau tak ambil peduli
malah tak segan kau nikmati
lagu itu...
kau minta aku menuliskannya dengan kata-kata
aku tak yakin jika ini yang kauminta
aku bukan pujangga kesayanganmu
bicara soal jatuh cinta
aku dan kamu
ahh....itu hanya resiko!
02.05.01|daw
:h.s.
dunia ini terlalu sepi
tidak katamu kau hanya membuatnya begitu
sejenak ketenangan itu tak lagi dibuat-buat
sewaktu kau ada disisi
katamu aku ini aneh
aneh yang menggayut
dan kaupun keasingan yang mengejutkan
terkadang mengesankan
aku suka menarikmu dari duniamu
entah jika kaupun sadari itu
sepertinya kau tak ambil peduli
malah tak segan kau nikmati
lagu itu...
kau minta aku menuliskannya dengan kata-kata
aku tak yakin jika ini yang kauminta
aku bukan pujangga kesayanganmu
bicara soal jatuh cinta
aku dan kamu
ahh....itu hanya resiko!
02.05.01|daw
aku tak tahu bagaimana aku bisa menulis ini, terlalu banyak, terlalu banyak yang ingin kutuliskan dan kuungkapkan. pembakaran buku yang kemarin dan mungkin yang akan datang, pengungsi sampit,soal pendidikan, masalah indoktrinasi kurikulum, masalah persekolahan itu sendiri, masalah kebebasan bergerak pribadi!!!
aku lelah, jenuh, aku ingin bergerak bebas...*sial* aku tak kuasa menentangnya!!
aku lelah, jenuh, aku ingin bergerak bebas...*sial* aku tak kuasa menentangnya!!
Tuesday, May 01, 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)